Friday, April 19

Sambil Resapi Yirgacheffe Ethiopia



23 Desember 2022


Estorie getir tahun silam, jejak kelana di tanah berilalang, berlumpur, sebab curah hujan tinggi di ujung Desember, di wanua. Di sini pernah tercatat berita kopi, ah mengapa dulu orang-orang disebut terkutuk sebab mengonsumsi cairan hitam itu, padahal nikmat? Biar saja, terus bertualang mencari kopi dalam nikmat nan pahit.


Oleh: Dera Liar Alam


Gambar: Tabung kaca plastik berisi biji hitam


DI SINI sejuk — hawa lebih-kurang sama dengan iklim di lereng Kasuratan, Pangalombian, Lahendong, dan kedai di sini, di Jl. Sreko. Membunuh waktu, minum kopi, mengecap pahit nikmat diseruput pelan, alir cairan itu lewat rongga mulut, meluncur hangat ke tenggorokan, asap mengembunnya menyembur dari hidung dan mulut. Saya berdiskusi dengan Emon di Elmonts Coffee & Roastery seraya resapi Yirgacheffe Ethiopia.

Kawan saya di ibukota negara, Mercy, memesan kopi untuk dikirim ke kerabatnya di Bandung. Saya mengincar pesanan itu di wanua. Lebih lima jam sudah berkeliling pasar rakyat, mendatangi rumah penduduk, bertanya, mencari biji kopi tumbuk yang berhubungan dengan kisah perdagangan kopi membudaki orang-orang di wanua.

Ah, Yirgacheffe Ethiopia itu pedas harum, sebagaimana dicatat filosofikopi, “Nikmatnya dapat sebab diskusi berbagi.” Berapa value tersimpan bagi Jamaican Blue Mountain, Wild Minahasa Koya. Teks April saya baca ulang: musim semi di Northern Hemisphere, lá bealtaine di sajak rantai budak masa silam kekal sampai hari ini, dan teringat, kopi di lereng Kasuratan itu bagian dari kopi dunia ada di Minahasa.

Sebagaimana diketahui, tentang Yirgacheffe, juga adalah nama kota Yirgacheffe berada di  Sidama, Etiopia. Wilayah yang terletak pada ketinggian sekitar seribu sembilan ratus meter di atas permukaan laut, merupakan pusat administrasi distrik penghasil kopi.

Diskusi kami berdua tentang pemberdayaan kopi di lahan rakyat. Rakyat pelaksana, rakyat pemilik, “Bukan dimandori tukang baprenta’,” cetus kami bersamaan. Memesan berapa kantong kopi di Emon, kemudian owner Elmonts itu mengajak saya berkeliling, melihat-lihat benih kopi sementara tumbuh di lahan rakyat. (*)