Saturday, January 28

Susastra

Perpisahan
Susastra

Perpisahan

27 Januari 2023 Oleh: Pa IR Penulis tinggal di Subo, Alor Selatan 🖇Baca sajak Pa IR di sini: Bercerita pada Senja Sedih, Itulah yang kurasakan Saat kamu memutuskan untuk pergi selamanya Aku tidak mengerti apa maumu Mengapa segalanya sulit bagiku… Padahal kita sudah sama-sama dewasa Dan pernah punya komitmen untuk terus bersama. Namun, Seiring waktu berjalan… Kamu berubah jadi egois Dan tidak lagi peduli denganku Air mata ini seakan menjadi saksi bisu perpisahan di antara kita… Perpisahan sangat menyakitkan bagiku Hilang sudah impianku, Menghabiskan masa tua bersamamu… Hilang sudah angan-anganku, Mencintamu seumur hidupku… Aku hanya berharap, Apa pun pilihan hatimu… Kamu bisa dapatkan bahagiamu, Yang tak mampu kuberi untukmu… Selamat tinggal kasih… Kini kisah kita cuma t...
Perjalanan Sunyi
Econews, Editorial, Guratan, Susastra

Perjalanan Sunyi

27 Januari 2023 Aaa, zzzz, dengar angin mengikis nubuat cocoklogi, dongeng berulang-ulang saban waktu dan diyakini sebagai sumpah semesta. Angin membaca apa? Petir hujan badai itu biasa, seperti tangan kita yang terbiasa membuang sisa-sisa sambil berseru teintu, taintu, taintu… — 2009 — Oleh: Dera Liar Alam Gambar: Twilight menggambar angin dari segala arah KISAH malam padaku: Wahai dingin badai aeolian titisan aurora, crystal-mu memutih di pelataran arctic, ranting-ranting biaskan kelam, rona rindu dari waktu ke waktu yang kau tabung di tiap butir salju. Kita pernah setuju, memainkan glasier di telanjang rimba, menenun kabut resah semerdu cinta beku abadi… Manakala dentang lonceng perak merebak senja Cakrawala durja beratap jingga Kusuka tembang malam… Mengiring tiap tetes...
Bercerita pada Senja
Susastra

Bercerita pada Senja

26 Januari 2023 Oleh: Pa IR Penulis tinggal di Subo, Alor Selatan Hari ini aku lelah… Ingin melupakan sejenak: Semua masalah yang selalu membuatku resah dan gelisah… Dan membuat mataku basah… Aku ingin bercerita pada senja… Yang tampak memesona dengan warna jingga… Menceritakan keluh kisah hidupku yang seperti roda… Yang terus berputar tanpa jeda… Terkadang aku serasa berjalan tanpa arah dan tujuan… Tersesat di belantara hutan… Tanpa seorang teman… Namun, Senja mengajariku satu hal yang pasti. Apa pun yang terjadi… Tetaplah rendah hati… Yang patah akan tumbuh… Yang hilang akan kembali… Yang runtuh akan bangkit lagi… Dan yang jatuh akan berdiri kembali…
Altar Semesta Kabut
Esai, Susastra

Altar Semesta Kabut

22 Januari 2023 Nun di sana, Nanti, Dini hari datang lagi… Manakala doa-doa mengembara di altar semesta nan senyap Lalu kabut perlahan pudar… Alor Street – Kuala Lumpur, 2012 Oleh: Daniel Kaligis Gambar: Telaga tua berkabut di lereng Pangalombian SESEORANG di ruang kedatangan, “Di sini, saya di sini,” kata Pemetik Uke, ukulele. Bersalam jabat erat pelukan, pipi ketemu pipi. Telah tiba dan telepon berdering, panggilan dari seberang, “Tunggu di situ jo ngana, torang so menuju, so dekat bandara,” kata Pemuja Kabut. Iya, saya akan menunggu depan halte, sebagaimana permintaan dia. Masih di ruang kedatangan, dan masih berdua. Pemetik Uke dan saya melanjutkan kisah perisai, maar, stratovulkano, dst, sambil menunggu Pemuja Kabut. “Begini,” katanya. Mulai dari tanah seberang, ada t...
Iblis Terlelap
Susastra

Iblis Terlelap

19 Januari 2023 Daftar korban dan tertuduh sudah dibacakan beberapa hari silam. Media menulisnya dengan huruf disingkat-singkat, viral. Penontong was-was, membuka smartphone, lalu memaki... Oleh: Dera Liar Alam MENONTON noon mainkan tembang jingga gunung jurang lereng terbakar twilight — carang-carang tertembus biru dan awan itu partiturnya. Semesta kita massa kuasa tahta panggung katedral pengadilan digenangi nanah lendir darah — pintu jendelanya meletup teriak terhambur kaca-kaca drama, dan sajak dipunguti anak-anak untuk berdandan di kamera smartphone-nya… Penuntut mengetik argumentasi, penonton harap-harap cemas. Kerajaan langit sudah dekat, melayang-layang kuasanya seperti superhero menenteng kertas: surat harta, surat lahir, surat kawin, surat dakwaan, surat kaleng, dan s...
Sajak di Chao
Susastra

Sajak di Chao

16 Januari 2023 Mereka, anak-anak terkasih-tercinta, pergi ke negeri seberang. Katanya pada langit, pada redup cahaya, pada malam padam, “Satu-satu jejak telah digenangi air mata. Dan senyap itu terbukti, jadi nyata. Untuk rindu, syair deras bagi Chao. Perahu-perahu sekarang kalian saksinya. Tapi, kami hanyut karena terlempar, sengaja dihempaskan dari sarang-sarang gersang nan kumuh dan kerontang… Oleh: Dera Liar Alam Gambar: Chao Phraya NYANYI AWAN berarak di atas samudera raya, perahu layar ditikam gerimis: Good bye phalaenopsis amabilis, tanah kelahiran mengusir – hempaskan diri di gelombang surut di tebing Guinea hanyutkan nestapa penari bulan. Kita sisa tebang-tebangan terbawa deras bersama sampah ranting dedaun menuju hulu, air mata kering, malam hilang, kesunyian dirin...
Bayang Tidurlah
Susastra

Bayang Tidurlah

05 Januari 2023 Oleh: Daniel Kaligis Gambar: Kota lelap manakala hari meninggi DAN kata-kata melompat-lompat, melampaui jejak dalam botol plastik... anak manusia mengerang di bayang rindang pengetahuan… jampi-jampi menetes dari tiap geliat lidah mencicip nafsi tidur… tidurlah bayangan tapi kita akan terus terjaga hingga semesta punah… Suatu malam di 2014
Petikan Malam
Susastra

Petikan Malam

05 Januari 2023 Oleh: Christofel W. B. Manoppo Penulis bekerja di Pemkot Manado Gambar: Luna memetik dawai kabel listrik KATA-KATA tidaklah melompat dari dalam kegelapan tapi pengetahuan memang bermula dari ketidaktahuan dan jalan menuju terang, siapa yang mampu mengukur? karena jarak hanyalah ilusi tapi melangkah adalah pasti jadi, mari memastikan diri 16/9/2K13 Revised: 6/1/2K14 Ch. W. B.
Dasterku
Susastra

Dasterku

12 Desember 2022 Salemba Bluntas 1992 Tribute buat penyintas KDRT - 16 hari kampanye anti kekerasan terhadap perempuan Oleh: Emmy Sahertian Penulis berkegiatan di Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika Kukenakan setiap saat malam tiba Malam-malam penuh prahara ketika aku pasrah pada kuasa kelam yang merajam jarah keperempuananku... Karena aku seorang istri Setiap pagi kutanggalkannya… Kuberdandan dengan seribu senyum, meski guratan siksa  berbekas pada tubuhku... Membeku cinta menghangus frasa meluruh rasa… Menguap tak tersisa… Malam ini… Kukenakan kembali dasterku… Menghadiri ritual malamku di pelaminan sepi… Guratan membiru masih membekas di ingatanku… Di hatiku… Di tubuhku… Lalu kugapai si kecil… Berlari pergi menjauh dari peradaban malam yang kasar tak beradab… Kami tela...
Mythic
Susastra

Mythic

07 Desember 2022 Syair yang mengalir di Wowolean... Oleh: Daniel Kaligis Editor: Kalfein Wuisan Gambar: Kuala Wowolean berhias perahu dan cakrawala mendung AWAN-AWAN mati ditebas badai, hanyut oleh adab mitos perawan. Perahu bersandar jutaan masa musim banjir, lalu pengusiran datang. Masih ingat narakan tempat wurukus lepo kawin-mawin beranak-pinak, kangen di hulu Kelembahuan. Zumisim bertapa di Rewo, bertelur di rimbun eceng-gondok kemudian terbang ke wanua seberang. Bening reflection, anak-anak mawelit – memetik mujair terperangkap net, memungut renga' – keong hitam khas tepi Kelembahuan, negeri beralasan introduksi asing, dan torang yang selalu menyinta mendung. Kemarin di Parorengan, bangau pulang ramai sekali di langit putih. Sisa kertas plastik besi tembaga perak ema...