Wednesday, October 5

Susastra

Malam Bertanda Tangan Sunyi
Susastra

Malam Bertanda Tangan Sunyi

28 September 2022 Ode bagi teturunan yang tanah leluhurnya telah dirampas sistem... Oleh: Dera Liar Alam Penulis adalah jurnalis penulis KITA sajak malam didekap kabut, diterkam gelombang - tenggelam berkali-kali, jauh terdampar dalam hilang: di sana, di relung tragedi. Kita kata, kata kita, kata dikita, kita dikata-katai... Kata, anak-anak tak mengenal lilin mengotori lubang hidung, sehari-hari memulung sisa dijual. Kata, kita tak ada hendak digandar, selain lengan memeluk pikulan, kaki-kaki gemetar kering rapuh, asa untuk malam bersajak lapar, terbaring di doa-doa kusam, mendengkur di atas kertas-kertas ajaran lapuk. Kata, kita mimpi dalam terjaga, mengunyah derai jatuh di sudut pipi agar kenyang, supaya puas memeras linangan keringat ditertawai haus derita. Kata, kita ditep...
Suratku untuk para Puan
Budaya, Opini, Susastra

Suratku untuk para Puan

19 September 2022 Kata-kata terpikir begitu saja, mengalir... Oleh: Madgalena N Penulis tinggal di Jakarta Editor: Dera Liar Alam Gambar: Pentas Puan hitam putih, foto dax DUNIA ini begitu indah puan, banyak hal hal yang menggoda. Terkadang membuat kita terpana sehingga mudah larut dan jatuh cinta. Darah muda seakan bergelora, puan akan menemukan berbagai cerita yang mungkin tak biasa di dengar, sesuatu yang membuat takjub, serasa semua itu seperti impian para hawa: Kebebasan melontarkan kata-kata dalam benak. Ah, ini saatnya. Duniamu pasti berbeda dengan duniaku puan, ada alur cerita dan penokohan lakon yang berbeda pula. Tapi, cara dunia bekerja memiliki kesamaan: Memukau pada waktunya, menggoda sesaat, namun dapat hilang seketika, bisa lenyap selamanya. Cerita beda buk...
Pagi di Rendani
Susastra

Pagi di Rendani

15 September 2022 Oleh: Dera Liar Alam MENGENANG DORERI anak-anak berlari menyambut gelombang Arfai, penyeberang memacu dayung tuju Mansinam, bisik-bisik di Raimuti, Lemon Island. Sepi merasuk taxiway, orang-orang bersalaman di Rendani. (*)
Pengadilan Asumsi
Editorial, Susastra

Pengadilan Asumsi

14 September 2022 Sajak demi keadilan semesta. Siapa yang memeriksa perkara setelah hal itu berlalu dari tangan penyidik? Anda mengenalnya, walau asing, mulia, dan sangat disembah sebagai tuan maha mengetahui denda, berapa tahun tertuduh nanti mendekam di balik tembok dan jeruji terbatas - dijauhkan dari segala akses bumi merdeka dan bebas, atau ganjaran vonis ternyata di luar pemikiran tafsir tergugat - saksi - penonton - dan masyarakat yang menyorakkan menang kalah putih hitam perkara. Asumsi tak dapat dihindari, pemeriksa bukan saksi mata langsung terhadap persangkaan maupun tanda dan petunjuk-petunjuk. Maka, sajak inipun akan mendekam sebagai pertanyaan, sebagai sangkaan atau tuduhan pertimbangan seminar-seminar tak bersepakat oleh karena begitu banyak ide dan tafsir... Oleh: D...
Elang Terbang Menjauh
Editorial, Susastra

Elang Terbang Menjauh

06 September 2022 Oleh: Dera Liar Alam Penulis adalah jurnalis penulis Elang terbang menjauh, tinggi tinggi... Di sana, di langit entah. Tebing sudah jadi pondok mewah hedon. Pertapa mendoa di sana, “Lindungi kami dari badai halilintar hujan makian.” Lalu persembahan digesek. Hymn mendengung, malam sambung-menyambung, persabungan kelamin-kelamin. Elang terbang menjauh, tinggi tinggi... Di sana, di hutan entah. Kami menuang vodka dalam cawan keramik tua hijau, menyalakan obor, memukul tuts-tuts keyboard tiga oktaf. Pagi sunyi pecah, gugus tugas mengatur perapian, kuil ditutup. Botol bersenyawa darah. Elang terbang menjauh, tinggi tinggi... Di sana, di negeri antah berantah. Langit biru masa depan adalah pesta mengakali regulasi. Penguasa kawin, rakyat diperkosa. Lalu politikus ...
Ruang Para Penemu
Susastra

Ruang Para Penemu

04 September 2022 Oleh: Dera Liar Alam Penulis adalah jurnalis penulis DI ATAS langit ada ruang maha luas, punya para penemu pencipta dan pecinta... Dan kita sudah sering berkunjung di situ: memantau mimpi ditabur alam berpikir, katanya nirvana di seberangmu, langit keemasan. Tebing awan berganti bentuk berganti wajah dan warna, ditudungnya samudera, gunung, sungai, selokan, parit, dan hutang-hutang kita... Bila badai, kita terhempas ke tanah, dan angin tak bertanya siapa tuhanmu apa golongan darahmu apa partaimu... Langit, bilamana mimpi-mimpi menggelayut mesra dari gubuk bumi, bintang-bintang berkedip di atap bocor para miskin yang tertawa pada susah, perempuan-perempuan menua keriput memanggul beban nista gender kelamin sosial... Anak-anaknya tumbuh seperti dahan, seperti b...
Biru Beku
Susastra

Biru Beku

30 Agustus 2022 Bila bersua di bawah rembulan sepotong, mengulang janji kerontang, bilang saja: selamat tinggal kenangan, selamanya… Oleh: Dera Liar Alam Penulis adalah jurnalis penulis Editor: Parangsula RUANG biru itu sungai di bayang langit, pepohon rumbia sepanjang tepi, menghalau deras badai pretensi dibalut persepsi berita. Walau demikian, cinta telah melunasi caranya agar fakta memegang kendali. Meski orang-orang dan situasi merombak titian ke arah pertapaannya… Cinta di jiwa tak dapat dihenti, apapun alasannya. Bila nanti sia-sia menanti, relakan usai. Entah jiwa menyeruak memanggil beku… Jiwa biru nan kudus itu telah dikhianati, membikin hati luka hampa. Biru kudus itu telah cemar, dialiri nista. Apa keliru biru membingkai rimba? Deras telah memangkas diri di tepi se...
Letus Menggema Sampai Jauh
Susastra

Letus Menggema Sampai Jauh

15 Agustus 2022 Oleh: Dera Liar Alam Penulis adalah jurnalis penulis Editor: Parangsula Gambar: Main kelereng dan pembasmi. LET, letusan itu menggema, jauh, jauh sekali… Malam sementara beranjak, anak-anak mengenang main kelereng sore tadi. Kaba, kadu, kati, bola kaca hampir sebesar mata kucing itu dilempar dari belakang garis mula ke arah kotak taruhan yang digelar di halaman lapang, bidak kelereng siapa paling dekat kotak taruhan, dia main duluan. Ibu jari ketemu jari tengah untuk bidik sasaran, dijentik, kelereng melesat menyasar membentur membunuh kelereng lawan mainnya. Di halaman sebelah, lubang kecil digali sedalam jangkauan jari. Ulang lagi: kaba, kadu, kati, seperti aba-aba siapa menembak belakangan untuk beroleh tempat paling awal memainkan bola kaca itu. Anak-anak b...
Kesendirian Kata
Susastra

Kesendirian Kata

02 Agustus 2022 Oleh: Arman Yuli Prasetya Penulis adalah Penulis Tinggal di Bojonegoro Gambar: Senja di Padang Panjang - photo by DLA Kata yang pernah kau bisikkan padaku kini berubah menjadi kupu-kupu. Ia mengitari batu. Melayang-layang di udara. Di mata kupu-kupu itu, masih tersimpan bayangan kekasihnya. Hari-hari berganti. Cuaca yang terus ia sapa pada lembut udara di ujung sayapnya. Musim ia sambut pada warna yang menggores tubuhnya. Ia turut pada jalan yang terus merambat di udara. Sampailah ia di atas sabana hinggap pada setangkai rumput. Ia pandangi dirinya pada genangan air dari sisa hujan yang turun tadi pagi. Cahaya pelan-pelan redup. Waktu jatuh dalam gelap. Hanya suara air mengalir dari sungai yang tak jauh dari tubuhnya. Membawa jauh tubuh beku. Seekor ulat daun...
Tafsir Mimpi
Budaya, Susastra

Tafsir Mimpi

20 Juli 2022 Oleh: Arman Yuli Prasetya Penulis adalah Penulis Tinggal di Bojonegoro Gambar: Senapan dikokang, brontosaurus, bermimpi manusia rayakan punah – dla. Malam tegar kembali, tiangnya penuh bunga Diambil dari tubuhmu hanya sisa cuaca Pada keruh wajahku Kau berubah menjadi Megalodon yang buas Ketika laut dingin aku ubur-ubur Rindu dalam perutmu Kau Megalodonku Hanya dalam perutmu aku bisa tidur Bermimpi kembali menjadi diriku Yang tertidur pulas di kamar itu Malam rubuh kembali Tiangnya dipangkas api Dari nyala tubuhmu Entah apa terjadi Aku menjadi Tyrannosaurus Pada sabana luas Kulihat diriku mengerikan Di jalan menuju padaku Kaukah itu Brontosaurusku Yang menggigit seikat mawar penuh diri Aku menanti perjamuan ini Merayakan kepunahan bersama dirimu, Brontosaurusku ...