Tuesday, October 4

Budaya

Suratku untuk para Puan
Budaya, Opini, Susastra

Suratku untuk para Puan

19 September 2022 Kata-kata terpikir begitu saja, mengalir... Oleh: Madgalena N Penulis tinggal di Jakarta Editor: Dera Liar Alam Gambar: Pentas Puan hitam putih, foto dax DUNIA ini begitu indah puan, banyak hal hal yang menggoda. Terkadang membuat kita terpana sehingga mudah larut dan jatuh cinta. Darah muda seakan bergelora, puan akan menemukan berbagai cerita yang mungkin tak biasa di dengar, sesuatu yang membuat takjub, serasa semua itu seperti impian para hawa: Kebebasan melontarkan kata-kata dalam benak. Ah, ini saatnya. Duniamu pasti berbeda dengan duniaku puan, ada alur cerita dan penokohan lakon yang berbeda pula. Tapi, cara dunia bekerja memiliki kesamaan: Memukau pada waktunya, menggoda sesaat, namun dapat hilang seketika, bisa lenyap selamanya. Cerita beda buk...
Rasionalitas
Budaya, Guratan, Opini

Rasionalitas

02 September 2022 Oleh: Benni E. Matindas Penulis adalah budayawan Editor: Parangsula SEKELOMPOK sarjana usia belia meminta saya bicara tentang ‘Rasionalisme’ dalam webinar. Tahu mereka bukan dari jurusan filsafat, saya langsung mafhum maksud mereka sebetulnya: bukan tentang ‘Rasionalisme’, melainkan cuma tentang kritik populer terhadap rasionalitas. Saya cepat menangkap maksud mereka sebab topik itu sendiri amat akrab dengan saya sejak 30-an tahun lalu dan sejak itu terhitung intens saya geluti. Pada 1990-an banyak aktivis LSM pro-lingkungan yang sedang latah dengan tema itu merasa terlucuti pegangan filosofisnya bila saya jelaskan yang sebenarnya. Awal kedekatan saya dengan Prof. Liek Wilardjo, seorang Kristen saleh yang pakar fisika nuklir, epistemolog, pakar bahasa — pun karen...
Eksplorasi Proposisi Peran
Budaya, Esai

Eksplorasi Proposisi Peran

23 Agustus 2022 Kebudayaan dalam segala dimensi, kalau memberi kesan abadi, justru akan dinegasi, dan kalau dianggap hancur dan tiada kepastiannya, justru menemukan bentuknya yang lebih tinggi. — diskursus kemasyarakatan & kemanusiaan Oleh: Daniel Kaligis Penulis adalah jurnalis penulis Editor: Parangsula Gambar: Kabasaran modify - pernah dianggap mengandung berhala TANDA masih ada, walau hendak dihapus, atau dibiar hilang. Bila pernah menyimak lebih dalam prilaku yang menjalar saat ini, yakinlah, bahwa, yang abadi dari ranah peradaban dan budaya itu hanyalah perubahan. Masa silam cuma obrolan gombal, dicita-citakan untuk diulang, walau ada banyak peristiwa berulang dalam kebobrokan, namun, manusia terus mencari dan menemu baru. Kekhasan, kemiripan masa silam, terpaksa m...
Dongeng Setan
Budaya, Guratan, Opini

Dongeng Setan

18 Agustus 2022 Siapa pernah bertemu Setan Iblis itu? Tak ada seorang-pun, selain klaim tanpa dasar dan tak pernah dapat dibuktikan. Ribuan tahun, Setan hanya jadi oknum ‘tertuduh’, di balik itu, manusia adalah pelaku peran Setan. Kelakuan Setan adalah personifikasi nyata dilakukan seseorang, sekelompok orang. Sejauh ini Setan tak pernah dapat dihadirkan sebagai saksi di pengadilan, walau dia dituduh penyebab semua kesalahan kekeliruan manusia. Oleh: Daniel Kaligis Penulis adalah jurnalis penulis Editor: Philips Marx Gambar: People celebrated the coming of Spring, Walpurgisnacht – sumber germangirlinamerica.com DI KAMPUNG kami, Setan itu dimakan. Ular – yang oleh dogma – dianggap ‘setan(g)’, ditakuti, namun dikonsumsi sebagai lauk dan tola-tola. Terminologi tola-tola itu arti...
Tafsir Mimpi
Budaya, Susastra

Tafsir Mimpi

20 Juli 2022 Oleh: Arman Yuli Prasetya Penulis adalah Penulis Tinggal di Bojonegoro Gambar: Senapan dikokang, brontosaurus, bermimpi manusia rayakan punah – dla. Malam tegar kembali, tiangnya penuh bunga Diambil dari tubuhmu hanya sisa cuaca Pada keruh wajahku Kau berubah menjadi Megalodon yang buas Ketika laut dingin aku ubur-ubur Rindu dalam perutmu Kau Megalodonku Hanya dalam perutmu aku bisa tidur Bermimpi kembali menjadi diriku Yang tertidur pulas di kamar itu Malam rubuh kembali Tiangnya dipangkas api Dari nyala tubuhmu Entah apa terjadi Aku menjadi Tyrannosaurus Pada sabana luas Kulihat diriku mengerikan Di jalan menuju padaku Kaukah itu Brontosaurusku Yang menggigit seikat mawar penuh diri Aku menanti perjamuan ini Merayakan kepunahan bersama dirimu, Brontosaurusku ...
Perempuan, Peradaban, dan Perdamaian
Budaya, Esai

Perempuan, Peradaban, dan Perdamaian

13 Juli 2022 Lumimu’ut, ibu para taranak. Dalam peradaban tua bangsa Malesung, Karema adalah jelmaan tuhan feminis. Perempuan mengandung zat ilahi… Oleh: Tio Kaat Penulis berasal dari wanua Langowan Editor: Parangsula PADA TUBUH perempuan – selama berabad-abad – telah mendapatkan posisi dalam society maupun citizenship terhina oleh hukum, diasingkan oleh kebudayaan, dan dikucilkan oleh tradisi. Dalam tubuh perempuan segala ketidakadilan terjadi, tidak ada unsur dalam tubuh perempuan yang tidak menerima ketidakadilan (injustice). Misoginism menghasilkan penindasan, penghinaan dan pengucilan hak asasi (ethics of right) dalam pola pemaknaan libertarianism diberangus oleh peradaban dan disita oleh kaum feodalism demi kepentingan kelompok yang kita sebut oligark yang bengis. Selama...
Baru Terasa
Budaya, Susastra

Baru Terasa

12 Juli 2022 Oleh: Dini Usman Penulis adalah pelukis dan penulis Gambar: Mendung di sisi Kali – Foto Dera Liar Alam Kehilangan benda Bisa dicari Jika tak dapat? Bisa diganti Kehilangan karib sejati Ke mana ditemui? Di dinding facebook? Di galeri foto? Di balik selimut? Di meja makan? Di dapur? Di ruang tamu? Di tempat tidur? Di puncak perbukitan? Di lembah? Di sungai? Di dasar lautan? Di kuburan? Tidak kutemukan Cuma keheningan Ketiadaan Kepada laut telah kusampaikan Kepada hujan kunyatakan terang-terangan Kepada pekat malam kuteriakkan Kepada angin yang berisik sering kuceritakan Kepada tangis yang rentan pecah kuperdengarkan Sayang... Pada jejak langkah Saat bahagia Saat siksa mendera Ternyata cinta perekat ajaib istimewa Memudahkan segala-galanya Ah, Memang cinta aku sam...
Sore di Icon
Budaya, Guratan

Sore di Icon

05 Juli 2022 Di Icon, senja itu jingga karena cahaya menembus awan berpendar di atas ufuk mesra sekali, awan-awan seperti ada pasangannya terpantul di laut teduh. Kemarau musim ini pelan membawa riak di ujung batu-batu timbunan di pantai dan selat. Kapal, perahu melintas, entah siapa penumpangnya… Oleh: Daniel Kaligis Penulis adalah jurnalis penulis LINDA itu kawan yang bikin suasana riang. “I Love her style,” ucap Steven beberapa hari lalu tentang Linda, dia teman yang gesit dan lincah, rambut ash brown grey-nya panjang sebahu. ‘I will’ mengalun, “Who knows how long I've loved you | you know I love you still | will I wait a lonely lifetime | if you want me to, I will.” Tangan dia gemulai diangkat setinggi punggung, leher dan kepala meliuk lentur. Bukan, bukan tentang lagu itu, ...
Wale ne Waraney
Advertorial, Budaya

Wale ne Waraney

05 Juli 2022 Oleh: Dera Liar Alam Penulis adalah jurnalis penulis TENTANG pemandangan elok ini, kawan saya Reinard Johanes bilang: Padies Kimuwu, Wale ne Waraney... Hill of the Ancestors... Datang dan Nikmati... Seperti itu, rumah para penjaga tanah leluhur, lembah dan bukit di mana jiwa merindu. Demikian disiarnya, 10 Juni 2022. Berulangkali datang di sana dan selalu kangen datang lagi. Medio 08 Januari 2022 silam, saya mampir dan memetik gambar-gambar, menikmat sore nan sejuk, memandangi matahari tenggelam. Lalu gemerlap lampu satu-satu membelah gulita di sana, di teluk terhinggap Manado Tua berakar di samudera. Dekat, lekat dari sana. (*)
Setelah Panen
Budaya, Susastra

Setelah Panen

29 Juni 2022 Oleh: Arman Yuli Prasetya Penulis adalah Penulis Tinggal di Bojonegoro Gambar: Pematang nan sunyi. Sore di Oesao, Kupang Timur. PANEN tiba pada musim kedua, hembusan angin musim ketiga menggugurkan daun-daun. Kau berdiri di pematang, cahaya sore jatuh pada tubuhmu. Pandangan matamu menyimpan kebahagian, akankah ini terus berulang? Tumpukan jerami kau bakar sore ini, menjadi asap yang hilang ditiup angin. Keringat yang jatuh dari tubuhmu telah tumbuh menjadi tumpukan padi di pematang. Ketika hari telah surup, gelap semakin jelas kau lihat pada hamparan tanah ini. Apa yang kau harapkan menjadi kenyataan, sebab itukah manusia bahagia? Pada hujan yang tak lagi kau rindukan juga kemarau yang tak lagi kau sesalkan, malam ini, aku dengar kau meminta — tuan, aku ingin tet...