Thursday, April 18

Bertutur Kun, Baiijiu, dan Pesta Lawan Persepsi


08 Maret 2024


Tanggal seperti hari ini, 1942: Perang Dunia Kedua: Jepang merebut Rangoon, Burma dari Inggris.
Tulang dogma, cetus Kun: Kaum kami itu kehormatan, itu nama saya. Dan sepanjang babad semesta semua manusia faktanya diturunkan oleh perempuan. Berserak di alam, lebih separuh sumberdaya bumi dihasilkan tangan-tangan dan pikiran kaum kami dan semua mengabu sejarah – mitos yang terus didiamkan pesta pora paternal…


Oleh: Dera Liar Alam


KUN namanya, dia perempuan, dan teman.

Kami bersua sengaja, tentu karena kenal, bukan kenalan. Jadi akrab sebab saling senyum. Kemudian saling mengakrabkan diri pada situasi yang berulang, kadang basi. Bila ada obrolan tentang Kun, pun tiada pengaruh. Dia perempuan biasa dan telah beranak lelaki perempuan. Kisahnya diikatkan jenderal pada ikrar cinta langit timur supaya putra-putrinya diperanakkan di teluk dan berperahu melawan arus tuju hulu di mana ebony tumbuh liar menahan abrasi.

Demikian Kun dalam biasa, dalam alam segala bentuk pikirannya.

Melawan persepsi adat, kami berpesta sekitar dua kilometer di sudut utara Wat Phra Khao Yai. Pesan meja, memesan pelayan, memesan bir, dan saya mengeluarkan baiijiu dari ransel. Pun, di sini baiijiu tersedia, siap uang saja untuk pesan dan bayar. Kun bermain biola dan mulai berbisik bersiul menembang, “You are the source of my joy, I love you more than beer, more than baiijiu.” Pelayan menuang bir dari kaleng ke cawan, memindahkan smoked chicken salad dari rak samping Kun ke meja rendah di depan lilin raksasa. Orang-orang di sekeliling mengerling suara siulan Kun. Di sini gulita dibunuh cahaya lilin redup disengat deru angin. Tidak nanya nama, saya mengajak pelayan ikut menikmat bir dan baiijiu.

Timur Laut nan rusuh oleh penari, goyangnya menyentak otak. Meliuk-liuk mereka para kelamin-kelamin menggoda pengunjung. Luk Krung menghentak mendayu, jenis musik digemari elite kota yang berkembang dari aliran Phleng Thai Sakon. Jeda sekian menit, Luk Thung mendesis. Saya seperti berada di tengah pasar festival: “Hua toti hopepeng maling king kong sorono kong keng mano moleng map holong pong peng ngong ngeng ngong ngeng en shi wi che…

Selalu suka bila berhari-hari tak bertemu Kun lalu tetiba ada janji bertemu. Kun melebarkan lengan dan memeluk, menempelkan pipi ke pipi, erat sekian saat, angan saya mengembara. Saya bilang ke Kun tentang perjalanan panjang melintas cakrawala dan laut, bertutur tentang Sally Kristen Ride, astronot – ahli fisika bintang, “Dia pada medio 18 Juni 1983, jadi perempuan pertama dalam misi luar angkasa Challenger. Dia di tahun 1989 jadi guru besar fisika dan direktur Institut Luar Angkasa California di Universitas California, San Diego.” Kun tidak memerhatikan cerita. Saya lanjut. Saya bilang, “Saya suka Ride, smart dan bijak sepertimu, Kun.” Kun menahan ketawanya, menutup separuh rautnya dengan jemari. Saya merapatkan badan ke samping Kun dan menciuminya berkali-kali hingga bosan.

Terbang rasanya. “Raymonde de Laroche, penerbang Prancis, menjadi perempuan pertama yang memperoleh lisensi pilot, 08 Maret 1910. Saya juga mau mengangkasa,” sambil memejam Kun.

“Apa kabar Naypyidaw Union Territory,” tanya Kun terus nyerocos dan memandangi mata saya, “Lelaki itu sama semua, bernafsu dan suka bohong. Apalagi lelaki di rumahku, dulu saya kira saya yang paling dipuja, ternyata dia punya banyak yang disimpan dan banyak sekali di setiap kota.”

Kun pernah mengemas cerita tentang negeri-tercintanya dan saya menyimpannya dalam resume di laptop tua. Pernah melintas beberapa kota di ‘Brahma Desha’, meneguk kenangan demi kenangan babad para dewa. “Myanmar, negeri kaya giok, batu permata, minyak bumi, gas alam, dan mineral lain. Ketimpangan pendapatan di Myanmar adalah salah satu yang terlebar di dunia, karena sebagian besar ekonominya dikuasai orang-orang yang disokong militer. Dulu, negeri itu dikenal sebagai Birma. Orang Eropa dan Amerika menyebutnya Burma, berganti jadi Myanmar 18 Juni 1989 manakala dikuasai pemerintahan junta militer.” Tercatat negeri itu berbatasan dengan India dan Bangladesh di sebelah barat, Thailand dan Laos di sebelah timur dan China di sebelah utara dan timur laut.

Saya tutur ‘Her Story’ ke Kun, dia hanya memandang langit-langit tanpa gemintang, kelam dan jauh tatapnya. Kemudian dia meraih gitar di pojok ruangan, menyodorkan, dan meminta saya menembang ‘And I Love her’, The Beatles.

Kun menuang baiijiu ke sloki, remangkan lampu…

I give her all my love that’s all I do, and if you saw my love, you’d love her too, I love her…
She gives me everything and tenderly, the kiss my lover brings she brings to me, and I love her…
A love like ours could never die as long as I have you near me.
Bright are the stars that shine, dark is the sky. I know this love of mine will never die, and I love her…

Bersua Kun adalah menelisik cerita lalunya. Kun petualang, dia lahir di zaman ‘relatif aman’, namun perang berkecamuk dalam dirinya. Penguasa menempatkan sekian menteri korup di sisi pergerakan Kun, demikian juga bagi jenderal yang menguasai tubuh Kun. Berita di tanah-air ganjen menutur peristiwa di negeri yang pernah dikuasai Inggris Abad Sembilan Belas itu. Christopher Robert Paul Gunness, Direktur Proyek Akuntabilitas Myanmar, dan mantan kepala juru bicara Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat, menyatakan yang mana mustahil untuk mendapatkan peradilan jujur di negeri itu sepanjang penyiksaan dan perlakuan buruk sering kali dilakukan. Sementara hak terhadap peradilan setara diabaikan. “Upaya kudeta Februari 2021, sistem peradilan di Myanmar telah terdampak persoalan struktural sistematis membuat akses terhadap peradilan selayaknya mustahil bagi terdakwa. Korupsi telah mendarah daging membuat penunjukan pada petugas-petugas militer yang tidak memiliki kualifikasi di bidang peradilan.” Seperti itu dicatat Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 25 Januari 2023.

Kabar dapat dibaca di mana saja, lautan informasi mahaluas. “Itu saya baca dari media dari negerimu,” tutur Kun sambil menenggak baiijiu. Saya membuka gadget, menelusur beberapa situs terkait negerinya Kun. Di Global New Light of Myanmar menyebut yang mana Letnan Jenderal Soe Htut terjerat hukuman lima tahun penjara karena tuduhan korupsi. Tercatat Htut pernah menjabat Menteri Dalam Negeri dan Anggota Dewan Administrasi Negara junta militer Myanmar. Dia didakwa menyalahgunakan pangkat dan wewenangnya – memerintahkan bawahan untuk mengeluarkan paspor kepada perusahaan atas permintaan mereka, menerima suap, dan tidak memastikan bahwa peraturan keuangan dan ketentuan diikuti untuk dana kesejahteraan staf Kementerian Dalam Negeri.

“Nama saya Wi, Wimonrat,” ucap pelayan pada Kun. Sesama perempuan itu berbicara dengan bahasa mereka. “Dia tidak boleh minum terlalu banyak, begitu aturan di sini,” ujar Kun dengan bibir dimonyongkan manakala saya menawarkan sloki ke Wi. Lelah seharian menelusur Chon Buri, mengingat ketawa Kun saat bercanda melewati Sai Song Rd. Jam digital menera angka satu, “Masih pagi,” ucap saya sambil tertawa.

Lewat tengah malam mestinya, lelah seperti sirna diguyur baiijiu seraya mengenang para peziarah di halaman luas nan hijau: “Rumah cermin, rumah batu, kita tak pernah berkaca diri kepala batu. Perang ratusan bahkan ribuan tahun itu berebut pengaruh, merongrong wilayah, dan melahap sumberdaya,” cetus saya sambil membathin.

Saya masih mengulang ‘And I Love her’ sambil bersiul. Gitar, botol, sloki, kotak rokok, saya angkut ke ruang private. “Bái láew ná kráb,” ujar Kun pada Wi, langkahnya sudah di depan, melintasi koridor dan masuk kamar, saya menyusulnya. Padahal saya masih memberi satu sloki pada Wi sebelum melangkah. Perempuan itu tak menolak ketika sloki saya ulurkan. Wimonrat menyambut sloki, lalu meneguknya dan berseru, “Pesta sampai pagi, guys!” “Chái kráb,” sambung Kun.

Kami telah berpindah ke ruang private. Saya membasahi sekujur badan, membasuh dengan sabun cair dan mengguyur hingga puas dan segar. Kun telah duluan wangi, dia malah kembali membuka dua kaleng bir, “Untuk bangsa kami, dan untuk kesegaran,” bisik dia sambil menuang ke cawan dan minum.

Telah pagi. Laut nan jauh terlihat dari jendela bertirai transparan. Obrolan masih menyoal tentara dan kaum yang dipersenjatai. Terkenal memang tentara Myanmar mempertahankan pasukan besar dan aktif. Kekuatan mereka terbesar kedua di Asia Tenggara setelah angkatan darat Vietnam. Tercatat militer di negeri kami punya pengalaman medan tempur memerangi gerilyawan. Lelaki perempuan produktif wajib ikut.

Kun bilang dam bisiknya, “Saya akan jadi jenderal, mengalahkanmu dalam pesta pertempuran kita sekarang.” Saya tertawa karena dicubit di pinggang. Kun melanjutkan, “Badan itu sejarah. Tubuh mesti dibaca bagian demi bagian. Di negeri kami ada Myochit – Partai Nasionalis, ada Sinyetha – Partai Rakyat Miskin, ada Do Bama Asiayone – yang nayatkan Kita Bangsa Myanmar, ada Partai Thakin yang menuntut kemerdekaan.” Panjang lebar dia bertutur, menggerakan semua energi yang dia simpan dalam tubuhnya. Saya masih memetik dawai gitar melawan diam. “Saya bebas melawan penjajahan tubuh, saya bebas tentukan bicara dan gerak. Patahkan tulang-tulang dogma yang membanting tulang itu. Kaum kami Asia, penghuni dunia berhak sama dalam mitos dan sejarah. Saya perempuan merdeka,” sebut Kun!

Lilin raksasa masih menyala, hari sudah siang. Diam, diamlah pagi. Pesta berkalang mimpi, diam yang ramai dan tak usai. Merdeka badan, badan merdeka, merdeka pikiran. Pikirkan merdeka. (*)