Wednesday, June 12

Kenangan Uci


21 November 2021


…Pada masa tertentu ular, perempuan, dan tuhan pernah menyatu. Tiga unsur dalam satu diri. Tritunggal. Sebelum manusia mengenal agama-agama yang lebih mutakhir, leluhur manusia memuja Tiamat, dewi ibu tertua dalam peradaban Mesopotamia Kuno dan dewi ular tertua dalam peradaban dunia. Tiamat melahirkan para dewa. Ia mencipta alam semesta…


Oleh: Linda Christanty
Editor: Dera Liar Alam


Foto: Retouching – Selamat Jalan Uci Sayang, Tenanglah Dirimu di Sana
Sumber Foto: TungkuMenyala.com


TEMAN-TEMAN tercinta, sudah lama saya tidak banyak bercerita, karena pekerjaan dan lain-lain. Semoga kalian tetap sehat dan bersemangat, meski kabar sedih selalu ada.

Beberapa bulan lalu saya kehilangan teman lama lagi. Namanya, Heningtyas Suci atau biasa dipanggil, Uci. Dia meninggal dunia, karena sakit. Kepergiannya membuat saya teringat kembali masa lalu saya dan kami.

Uci aktif membela hak-hak petani, buruh dan kaum miskin perkotaan. Dia juga ikut mendirikan Rumpun Tjut Nyak Dien,  organisasi perempuan progresif di Yogyakarta. Dulu saya lupa bertanya kepada Uci, mengapa memilih nama perempuan pejuang Aceh sebagai nama organisasinya, bukan nama-nama perempuan pejuang Tanah Jawa, seperti Nyi Ageng Serang, Kartini, ataupun Dewi Sartika.

Saya mengenal Uci di Yogyakarta pada 1990-an ketika berada di kota tersebut untuk ikut serta dalam aksi solidaritas mahasiswa terhadap para petani lereng Merapi yang tanah mereka hendak diambil paksa oleh sebuah perusahaan. Selama berada di Yogyakarta, saya menginap di tempat kos Uci. Kami pun bercakap-cakap sampai larut malam. Uci seorang yang bersemangat, berani dan ditempa oleh banyak pengalaman. Dia pernah ikut Romo Mangun mengurus komunitas di Kali Code.

Uci berbicara Bahasa Indonesia dengan logat Jawa yang medhok sekali. Kadang-kadang dia malah berbicara dalam Bahasa Jawa, panjang lebar. Saya biarkan saja dia begitu. Mendengarkan adalah cara terbaik untuk memahami orang lain, demikianlah yang saya pelajari dari orang-orang tua dulu. Tiba-tiba Uci tersadar, “Lin, kowe ngerti ‘kan?”

Uci resah memikirkan mengapa tidak ada sektor perempuan dalam pengorganisiran kami. Menurut Uci, sektor perempuan sangat penting, karena masalah-masalah perempuan itu khusus, tidak dapat dibuat umum. Dia mengusulkan pengorganisiran sektor perempuan harus ada bersama pengorganisiran sektor buruh, mahasiswa, tani, kaum miskin perkotaan, dan seniman. “Tolong kamu perjuangkan ada sektor perempuan di Jakarta,” katanya.

Dia lalu mengkritik para lelaki aktivis yang sewenang-wenang terhadap perempuan atau aktivis perempuan. Dia kemudian bercerita bagaimana feodalisme juga cukup kuat di kalangan aktivis di Yogyakarta. Katanya, aktivis perempuan menghadapi aktivis laki-laki yang feodal dan situasi ini harus dihentikan. Dia lalu menyebut nama-nama. Aktivis-aktivis di Jakarta lebih egaliter, setidaknya dalam lingkaran kami.

Tentu saja, ada aktivis laki-laki yang bersikap feodal dan tidak menghargai perempuan di Jakarta. Jenis aktivis seperti ini ada di kota mana pun, bahkan menjadi pelaku kekerasan seksual. Ideologi kerakyatan yang dianut tidak mampu mengatasi tindak kejahatan seksual terhadap perempuan. Praktik feodalisme dalam organisasi juga menjadikan siapa saja sebagai korban, termasuk aktivis laki-laki. Dalam gerakan kiri, feodalisme bersembunyi di balik slogan sentralisme demokrasi. Dalam gerakan demokrasi, dia berlindung dalam jubah solidaritas. Dalam gerakan bernapas keagamaan ataupun sekte, dia sering dihidupi dengan pembenaran atas nama surga. Kapitalisme telah mengadopsi lalu melanggengkannya. Dia sukar diberantas dan turut melandasi eksploitasi manusia atas manusia.

Singkat kata, teman-teman aktivis kami di Jakarta menganggap perempuan bukan sektor atau sektoral. Jadi tidak perlu ada pengorganisasian khusus perempuan, kata mereka. Perempuan harus ada dan berperan di setiap sektor, begitu kesimpulan mereka.

Setelah merundingkan apa yang harus dilakukan untuk melibatkan perempuan dalam organisasi perlawanan, Uci dan saya sepakat membuat terbitan atau bacaan sebagai media pengorganisasian perempuan. Isi terbitan ini tulisan-tulisan pendek tentang sejarah, sastra, dan politik. Saya bertugas sebagai editor dan penulisnya. Uci akan mencari dana percetakan. “Aku akan coba menghubungi Liem Soei Liong,” katanya.

Hah?! Pengusaha itu? Saya tidak setuju. Uci menjelaskan bahwa ini Om Liem yang lain, bukan Om Liem pengusaha yang dekat dengan rezim Soeharto, tetapi aktivis TAPOL, organisasi kemanusiaan yang berbasis di London.

Akhirnya kami sampai kepada kesepakatan bahwa bentuk terbitan itu newsletter. Harganya Rp 500 per eksemplar. Tidak ada honorarium untuk editor atau penulis. Kami bekerja pro bono. Mudah-mudahan Om Liem yang bukan kroni Orba mau menyumbang dana percetakannya. Newsletter akan dijual di kampus-kampus. Jual-menjual tentu bukan bidang saya. “Tapi harus dicoba, Lin. Biar ada dana untuk edisi selanjutnya,” kata Uci.

Kami mulai memikirkan namanya. Uci mengusulkan namanya harus mudah diingat, unik, dan emansipatoris. Saya mengusulkan nama newsletter itu GYN.

Hah?!  Gantian Uci yang bingung dengan nama ini. Artinya apa? Saya ingin menjelaskan panjang lebar, tetapi akhirnya singkat saja agar segera dimengerti.  Gyn itu terkait dengan rahim dan setahu saya hanya perempuan yang memiliki rahim. Dia setuju.

Padahal saya terinspirasi oleh judul buku Mary Daly, Gyn atau Ecology; The Metaethic of Radical Feminism. Buku ini terbit pertama kali pada 1978, lalu dicetak ulang pada 1990.

Saya sedang belajar filsafat feminisme di kampus. Di antara sekian banyak feminis, saya cukup terkesan dengan pemikiran-pemikiran Daly.

Salah satu bab dalam buku tersebut, “The Sado-Ritual Syndrome: The re-enactment of Goddes Murder”, membahas tradisi yang telah merusak tubuh perempuan dan bahkan, membunuh kaum perempuan, seperti praktik suttee di India (ketika seorang istri masuk dalam api yang membakar jasad suaminya), tradisi pengikat kaki di China (yang dimulai di masa Dinasti Tang dengan tujuan membuat anak perempuan cantik, tetapi menyebabkan penderitaan dan juga merusak bagian lain tubuh), pembakaran perempuan yang dituduh tukang sihir di Eropa, dan mutilasi klitoris di Afrika.

Pemeragaan kembali pembunuhan dewi, demikian judul bab itu, mungkin juga dapat dijelaskan melalui cerita rakyat. Dalam salah satu cerita saya untuk situs Kumparan+, saya menulis tentang pembunuhan dewi ibu tertua di peradaban Mesopotamia Kuno, Tiamat: “… Pada masa tertentu ular, perempuan, dan tuhan pernah menyatu. Tiga unsur dalam satu diri. Tritunggal. Sebelum manusia mengenal agama-agama yang lebih mutakhir, leluhur manusia memuja Tiamat, dewi ibu tertua dalam peradaban Mesopotamia Kuno dan dewi ular tertua dalam peradaban dunia. Tiamat melahirkan para dewa. Ia mencipta alam semesta. Kekuasaannya berakhir melalui kudeta yang dilakukan Marduk, dewa terakhir Mesopotamia Kuno. Tubuhnya terbelah menjadi dua bagian, sehingga terbentuk langit dan bumi. Kita hidup dalam mayat tuhan perempuan yang dikalahkan. Kita menghuni kematiannya.”

GYN akhirnya terbit. Isinya sejarah Hari Buruh Sedunia, situasi politik nasional, dan terjemahan puisi Rusia — kalau tidak salah, judulnya “Ibu”. Seingat saya hanya dua orang yang membeli newsletter ini di kampus saya. Akhirnya Uci mengatakan sebaiknya GYN dibagikan gratis ketimbang tidak tersebar. Toh dana terbitnya merupakan donasi orang. Di edisi kedua, kami tidak lagi menggunakan nama GYN, tetapi Perempuan Bergerak, terinspirasi oleh nama salah satu surat kabar di Medan, Sumatra Utara, yang dipimpin oleh Roehana Koedoes, jurnalis dan tokoh pergerakan melawan kolonial.  Kebetulan saya sedang mengkaji mikrofilm terbitan-terbitan lama di Perpustakaan Nasional, Jakarta untuk menulis monograf saya tentang Nyai dan Masyarakat Kolonial Hindia Belanda untuk Jurnal Prisma (LP3ES), lalu menemukan edisi Perempuan Bergerak itu.

Sayang sekali, saya tidak lama bekerja bersama Uci.  Melalui rapat dengan teman-teman aktivis di Jakarta, saya diminta untuk lebih fokus kepada pengorganisiran buruh-buruh pabrik yang mayoritas adalah juga buruh perempuan.  Pada 1994, Saya tidak lagi menangani GYN alias Perempuan Bergerak.

Terakhir saya bertemu Uci mungkin tahun 2000 di Jakarta. Kami berbicara sedikit tentang apa yang akan dilakukannya dalam situasi pascaSoeharto. Saya sudah tidak tertarik dengan dunia politik atau menjadi partisan. Kami waktu itu menyeberang jalan bersama-sama, lalu berpisah arah. Saya kemudian mendengar Uci ikut salah satu partai politik. Apa pun pilihannya tentu melalui pemikiran yang dalam, karena perjalanan dan pengalaman perjuangannya yang amat panjang.

Selamat jalan, Uci. Selamat istirahat dalam keabadian. (*)

3 Comments

Comments are closed.