Friday, April 4

Tunggu Besok yang Lain


01 April 2025


Pulang berulang tarian awan, sajak silam percintaan bertemu untuk nafsi beringas. Ada babad yang tak sempat ditutur lalu hilang jadi asap, jadi uap, jadi embun, hilang entah tanpa bekas di semesta…


Oleh: Daniel Kaligis


Gambar: Awan di atas cakrawala pemukiman Espana


RUANG bertingkat: di situ menonton gerimis mulai deras jatuh di genangan.

Kami pernah diterjang banjir manakala tubuh ini di setiap sentinya pegal kesakitan, air keruh menerobos setiap sudut. Deru badai deras, namun kita mesti berani melawan terobosan air berlebih, memindah menaikkan peralatan ke ruang kering supaya tetap aman, tetap hidup, dan kiranya bugar melihat besok yang lain, entah awan-awan tetap kelam.

Begitu, di ruang bertingkat-tingkat menonton dari celah jeruji logam dan kaca, dari antara nako kadang berlumur debu, dan memaksa berani.

Harap-harap palsu sudah sering kami telan bersama haus lapar, hutang, perkara, gelisah, sisa tenaga terkuras.

Negara mana mungkin menangkis hujan, sistem juga tak mungkin kekal halangi cahaya. Begitu saya gambar dalam benak, seraya memandang bumi dilubangi, pemukiman melebar tanpa saluran, hutan dibotaki proyek-proyek. Saya menulis, menjual air dalam kemasan, menyapu lantai, memungut sampah di sebagian petak trotoar di depan rumah yang kami tempati, menunggu seperak dua tiga lembar untuk ditabung. Walau malam malang, seonggok burnt cheesecake berbagai bumbu berbagai garnis – harganya setara lima belas porsi nasi di kedai kami – kudu kami lunasi dan bayar taxnya. Pasrah dilucuti, rela digilai berbagai beban. Lalu tertawa mengenang politisi negeri yang berjanji lucu-lucu.

Pulang? Di mana? Langit atap abadi semua makhluk. Kami terbiasa tidur bersama derita di jalanan. Bermimpi hujan usai, dan kami menari dengan air mata.

Saudara kerabat jauh dan usang kisahnya, kami berteman siapa saja yang butuh dengan kepentingan berseliwer drama.

Di genangan bercermin, raut tua keriput dan lapuk. Rintik kerap datang, kita memandang ke bawah, saluran telah dilewati plastik-plastik hanyut. Kertas-kertas kardus perlahan tenggelam.

Ada cakrawala di atas, langit-langit dengan aksesoris suci. Di sana membaca dongeng negeri seberang, sambil mengulum asap, memantik dupa membaca mantra. Sia-sia berharap uang dari bumi pelit dan murka, percuma.

Kita menyimpan tanda seru, tanda tanya yang misteri. Gerimis tetap, begitu juga embun, walau kering. Di situ kita membasuh wajah kotor, jiwa duka. Di situ menelanjangi ego nan gusar.

Manakala rintik memudar saya membaca pesan Ebyth, “Bersyukurlah atas setiap peristiwa yang telah terjadi dalam hidupmu entah itu manis ataupun pahit, dan bersyukurlah atas semua orang yang telah datang dalam hidupmu entah dia baik ataupun jahat. Sebab semuanya itu telah membentuk dirimu menjadi pribadi yang lebih kuat sebagaimana kamu ada pada hari ini.” (*)