Monday, May 27

Staakt-Het-Vuren


08 April 2024


Suatu musim nan entah di 2017 jiwa lantunkan sajak rimba ‘Sapa Suruh Teken Tentara’, dia ada di depan cermin — sungai darah senja jingga, menyala…


Oleh: Daniel Kaligis


Gambar: Batalyon Worang


HEUGENIS menajam, ketika A.E.K. membersih laras senapannya. Lewat delapan puluh lima bulan, bayang membuncah manakala Suraro membaui tanah kelahiran, Samberong, Sasapuan, Welong, Watuharan, Tatalootoken, hutan kecil berbatas kabun yang terlantar karena masyarakat sudah menyingkir. Perang saudara berkobar.

Kala itu, lebih tujuh tahun silam dalam ingatannya di pagi yang beda, sandi Senopati membawa mereka menyusur Amahai, Buru island, Masohi, dengan Landing Craft Infantery tuju Ambon bersama batalyon Worang. Medio 28 September 1950 mereka mendarat di Tulehu, matahari belum tinggi.

Di sana merambah rimba, membaca peta lawan, menghitung kuburan: Batalyon 3 Mei, pahlawan tak dikenal, Batalyon 352, Batalyon Klaproth, Batalyon Pattimura.

Dor..!!
Seorang kawan tergeletak di depan Fort Victoria, Owen gun lepas dari genggam I.S.R.

Dengar cerita dari Tulehu itu seperti menyelami syair yang dinyanyikan Sam Kapisa tahun 1979, Pusara Tak  Bernama:  Dalam belaian angin gersang | di atas bukit nan sepi | engkau terbaring dalam tidurmu yang lelap | dalam temaram senja kelabu | di sisi lorong yang sempit | engkau tertidur di kesunyian abadi. (Black Sweet)

Seorang Suraro Batalyon Worang dengan senapan mesin Vickers sedang bersiaga

Panzer, tank, vickers, berbagai mesin pembasmi muntah mesiu. Cataluna, mustang, meraung-raung mendebar taifun di atas gelombang Pacific, di atas rimba, di atas tanah rusak.

Berapa lama belajar dari Korps Speciale Troepen, entah. Pernah berlayar jauh ke Novorossiysk, kota pelabuhan di Krai Krasnodar  — Rusia, dan terapung-apung berhari-hari di atas samudera hitam, mesin kapal rusak, stok makanan habis, maka, kopra pun dilahap mengganjal lapar.

Semua tinggal bekas. Kenang telah pergi seperti disapu badai. Tualang menghentarnya kembali ke bumi sama.

“Twilight merah,” kata sang Suraro. Perang berkecamuk, entah kapan usai.

“Rambutnya panjang e mama, berikat merah dan putih, hidupnya siang malam hanya di rimba raya.”

Suraro, tak ada namanya dalam history. Pengalaman tempur bersama I.S.R. di Tulehu tujuh tahun silam itu merasuk. “De beste verdedigibg ligt juist in de aanval,” tulis I.S.R. dalam Pedoman Gerilya I, tertanggal 21 Maret 1949.

Staat van Oorlog en Beleg, larut malam bulan Maret di Makassar, bawa mereka kembali merimba. Gorela sang gorela, ikat kepala merah-putih ada dalam tembang mereka di belantara Sulawesi.

Mengapa suatu pagi ia berada di sekitar mata-air dekat pasar Basaan hendak melintas Ratatotok, untuk tujuan berikutnya, kaki-gunung Lengkoan? Entah. Ruang lenggang, kampung yang sunyi seperti dusun tanpa waktu. Suraro memanggil anak kecil, merogoh kantong dan memberi anak kecil itu beberapa lembar uang Permesta untuk dibelanjakan penganan. Setelah berbagi, Suraro kembali lagi ke sumber air.

Di sana merentang hari hingga senja dengan kawan pengembara, mendiskusi langit jingga tua di ufuk barat-laut dan tanda zaman yang tak terprediksi. Mereka membasuh wajah, menyeka debu di sekujur baju dan badan, membetulkan letak ransel, menyelip sangkur pada sarung di pinggang, kencangkan koppelriem, lalu minum sepuas-puasnya.

Rendezvous di malam buta. Suraro hitung asensio-rekta, menatap langit bertabur cahaya. Cygnus, menurutnya berada di atas Tampusu, sekitar lima-belas derajat ke kiri adalah Lengkoan.

Mengapa perang? Kenapa sesama prajurit-sapta-marga saling serang? Tanya yang tak hendak dijawab history negeri ini.

Mereka berjalan menembus gulita, hutan, gunung, ladang, jurang, sawah, sungai, mengendap di pematang, membuka setapak baru, harap baru, haus lapar baru.

Aman pergolakan, tembang yang dinyanyikan suraro-suraro Permesta di rimba raya, ‘Sapa Suruh Teken Tentara’ digubah judul dan syairnya menjadi ‘Sapa Suruh Datang Jakarta.”

“Rambutnya panjang e mama, berikat merah dan putih, hidupnya siang malam hanya di rimba raya.”

“Ado kasiang e mama, jaoh-jaoh merantau, mencari hidop mama, nasib tidak beruntung. Siang dan malam e mama, jalan ka sana ke mari, kawan saudara mama, semua tidak peduli. Sapa suruh datang Jakarta, sapa suruh datang Jakarta, sandiri suka sandiri rasa, e doe sayang…”

Di masa orba, julukan mereka yang pernah bertempur di medan Permesta sering disebut di wanuaku: Kansas, Commodore, Johny B.A.R., Johny Mortir.

Suraro menulis beberapa kisah, semua ceritanya musnah dimakan rayap. Di masa Permesta, A.E.K., sang suraro, bertempur di bawah kibar Tengkorak Liar. (*)

B.A.R: Browning Automatic Rifle, varian senapan mesin otomatis ringan buatan Amerika Serikat. Varian utama dari seri senapan ini adalah M1918 yang menggunakan amunisi senapan 30-06 Springfield. Senapan ini didesain oleh John Browning pada 1917 untuk kepentingan tentara Amerika pada perang Eropa.

SURARO: serdadu, tentara dalam dialek Remboken — Minahasa.

NOVOROSSIYSK: kota teluk di kaki pegunungan Kaukasus beriklim selatan sejuk. Pada Januari bersuhu + 2° Celsius dan Juli +23° Celsius. Kota ini juga merupakan pelabuhan ekspor minyak terbesar di Rusia. Di kota ini ada industri semen, industri mesin, perkayuan dan galangan kapal.

DE BESTE VERDEDIGIBG LIGT JUIST IN DE AANVAL:  pertahanan terbaik terletak pada penyerangan.

STAAKT-HET-VUREN:  stop the firing, hentikan tembakan.


Sumber foto: FB Batalyon WORANG


Terkisah bagi sahabat-sahabat terkasih Ivan R B Kaunang, Rikson Childwan Karundeng, Ruth Ketsia Wangkai, Denni Pinontoan, Altje Wantania, Annashka Mozhayev, Jepsony Sumual, Andries Sumual, Sumual Pierre Victorius Andreas, Marlon Merlen Mailangkay, Bode Grey Talumewo, Harry Kawilarang, Adolf Sinolungan, Lisa Tungka-Feinstein, Sam Elias, Denny Ramagiwa Ratulangi, Samuel Angkouw, Greenhill Weol, Yannemieke Singal, Evert Maxmillan Pangajouw, Hernix Sumual, John Tasirin, Semuel ‘Polce Pole’ Ratag


Dalam tualang, 15 Maret 2021