Tuesday, May 28

Spontan Mau Difoto


14 Oktober 2023


Oleh: Dera Liar Alam


KOKANG kamera, si sasaran lihat ke tukang foto dan menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya, atau lari menghindar. Jepret-jepret, siap sedia jangan sampai hilang momentum. Sayang, tak semua orang suka difoto dengan berbagai alasan.

Jalur padat metromini dari Mayestik saya tumpangi suatu pagi melintas depan RSPP melaju memasuki jalur macet ramai sekitar traffic light CSW Bulungan arah Blok M. Seorang lelaki menggendong bocah memasukan bocah itu dari pintu samping bagian depan kendaraan. Bocah beringsut di lantai metromini, kakinya pendek, tangannya pendek, jari-jarinya juga pendek terulur minta disumbang. Saya berdiri dekat pintu belakang, mengangkat kamera, membidik gerak penumpang dan si bocah. Sekian detik berlalu, tak sadar si bocah sudah berada di samping kanan saya, sebelum membelok ke pintu untuk turun dijemput penggendongnya, bocah itu menabok lembut kaki saya sambil berucap, “Loe jangan foto aja, bagi duit dong,” katanya. Masih sibuk membidik, saya senyum menyalami si bocah dan memberi seberapa yang saya rogoh dari kantong. Bocah mau difoto, walau saya yang mesti sadar, harus minta izin dulu ke bocah, foto, kemudian beri dia imbalan.

Kejadian itu sudah bertahun lalu. Saya kemudian membiasakan izin sebelum foto: ada yang mau, ada – meskipun saya sudah minta izin – obyeknya malah lari, menutup muka, terkekeh, atau marah dan pergi. Saya tetap usahan memberi penjelasan mengapa saya mengambil gambar.

Ada berapa bocah pedagang tissue di jerambah sekitar kedai kopi modern, mata mereka was-was pada semua tamu yang melintas atau mangkal di sana. Coba ambil gambar, mereka menghindar. Saya mendekat, ajak kenalan, ngobrol, tawarkan cemilan, lalu akrab dan foto bersama. Mereka berkisah hal-hal kecil yang biasa, lumrah. Mereka sebut orang tua mereka terpisah jarak, ada di pulau seberang. “Kami berjualan di sini sampai malam, nanti pulang dengan taxi online. Di rumah tinggal dengan nenek,” tutur Ria yang katanya tinggal di Karuwisi. Usianya sekitar dua belas tahun.

Saya menera catatan tahun silam itu tanpa judul, membiarkan malam manai berganti waktu demi waktu. Perlahan mengenang peristiwa bocah-bocah yang spontan suka difoto ketika pemberita beraksi membuat konten foto sepanjang Somba Opu, jalan ramai dan sering macet padat di kota Makassar. (*)