Tuesday, May 28

Dimensi Kerja Kecakapan Hidup


13 Oktober 2023


Sekolah-sekolah terbabit modernism tak lagi mengajarkan kecakapan hidup, namun menjadi kaki-tangan pabrik untuk menghasilkan lulusan bermental budak…


Diramu dari berbagai sumber
Oleh: Parangsula


Gambar: Pasar Rakyat di Wanua


BANTAH berbagai pernyataan yang menyebut kemajuan berbagai bidang, modernism hilang arah pada fakta kemajuan jalan di tempat, rakyat mangsa pasar. Sekuat apa kita bertahan di isu-isu sensasi, sudah maju: daerah mana yang maju, mungkin ada. Namun fakta yang paling nyata adalah, di daerah, rata-rata menyusu dari kantong anggaran nasional ditambah hutang yang selalu ludes dikunyah praksis korup. Sampai kapan rakyat diberi makan statement? Janji-janji menyemir dusta masa depan – padahal zaman itu sudah sementara lewat dan lagi kita jalani saat ini. Tanya sehubungan dengan pernyataan-pernyataan yang barusan kita wacanakan dalam paragraf pembuka ini. “Bagaimanakah perhatian dunia persekolahan terhadap keterampilan vokasional, yakni kecakapan yang mencakup bidang kearifan profesi tertentu dalam dunia usaha, industri, dan profesionalisme?” Pada taraf ini, boleh jadi etos kerja mestinya kita selidiki dan persoalkan.

Pertanyaan lanjutan dari episode yang disebut-sebut di atas. Ini dia. “Bagaimanakah kecakapan akademik? Suatu kecakapan untuk merumuskan dan memecahkan masalah yang dihadapi melalui proses berfikir kritis, analitis dan sistematis? Adakah kemampuan untuk melakukan penelitian dan pengamatan, eksplorasi, inovasi dan kreasi melalui pendekatan ilmiah. Adakah pula kemampuan untuk memanfaatkan hasil-hasil teknologi untuk mendukung kegiatannya? Justeru ketika industrialisasi merajalela, generasi di zaman ini yang dihasilkan institusi bernama sekolah itu telah dan masih saja berkutat pada industri pabrik tembikar dari tanah liat.” Kita boleh lupa bahwa data pengangguran terbuka yang ada di berbagai daerah, termasuk yang dianggap makmur dan tetap nganggur di berbagai daerah saat ini jumlahnya sungguh fantastis, dan rata-rata tidak tak berdaya mengakali sumber-sumber lokal. Banyak di antara mereka itu yang adalah hasil dari sistem pendidikan nasional yang sampai hari ini masih dianut oleh sekolah-sekolah formal di manapun tempat di negara ini.

Opotunitas mengguncang di slogan-slogan yang semakin menghentak debar nadi kehidupan. Sebuah pernyataan yang diterakan sebagai pertanyaan. Keyakinan yang enggan, dan diri yang sudah fatalistik di zaman yang dibilang maju secara fantastik. Coba meramu dari formula yang sudah terselip di laci paling bawah ruang tunggu keengganan itu untuk sedikit menggambarkan situasi yang sementara bergulir saat ini.

Berbagai pertanyaan yang belum kelar dibahas: “Mengapa dunia kedokteran hanya sampai pada tahap mengobati saja (simptomatik)? Tidak mencari dan mencegah penyebab penyakit – mencari vaksin demam berdarah misalnya? Apakah dunia kedokteran telah begitu hebat sehingga dokter-dokter kita kehilangan percaya diri untuk mulai meneliti dan mengembangkan diri dalam protesinya yang aktual (dialektis) dengan persoalan praksis di depan matanya? Mengapa para pengacara kita tak lagi jadi ahli hukum tapi jadi ahli lobi dalam berbagai proses peradilan? Mengapa insinyur-insinyur kita yang katanya cerdas cuma jadi ahli manajemen keuangan ketika menangani proyek? Mengapa peneliti-peneliti kita aktif hanya ketika anggaran proyek turun dari negara? Mengapa dunia guru kehilangan roh voluntirisme cuma gara-gara birokratisme dan krisis lapangan pekerjaan?”

Sungguh sesuatu yang ironis merajai ruang-ruang rakyat. Ia meramu tanya yang jadi enggan di neuron yang mengisi kesadaran di badan kita. Ini dia, coba disimak dan ditanggap lebih kritis lagi. “Doktrin pedagogik dengan sudut pandang kecakapan hidup untuk mengukur malapetaka kebudayaan. Bagaimanakah kemampuan melakukan kerja sama, bertenggang rasa, dan memiliki kepedulian serta tanggungjawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat? Bukankah dimensi ini telah lama kabur sebab mental babu yang ujungnya memudarkan nilai-nilai manusiawi? Kita memandang dan menilai manusia hanya sekian kilogram daging hidup tak bermakna, kecuali beranak?”

Rangkaian pertanyaan ini kemudian menyaji pertanyaan yang berikutnya, dan selanjutnya, dan seterusnya. Soal manusia, harga dan nilai ketika kita mengaku sebagai manusia. Manusia sudah menjadi suatu keengganan yang terpaksa mengaku sebagai manusia. Hari ini soal-soal ini mengumumkan pandangan yang tak berakar jauh ke dasar, kecuali simbol-simbol yang tak mampu dijelaskan satu per satu.

Ada singkatan-singkatan dalam judul entah. Itupun tak dijelaskan secara rinci. Ada rencana mengalir setengah hati dan enggan. Seperti berita seolah-olah mengola informasi mereka yang terpuruk di pukulan global dengan tujuan pembangunan milinium memuntahkan hasil tembok dan aspal tanpa roh dan jiwa. Demikian pula hasil dari manusia yang lupa diri dan lupa kulit-kulitnya sendiri berkoreng. Karya dimanipulasi seakan kerja sendiri. Berita sindikat di perguruan tinggi. Soal tagihan di luar jalur. Model korupsi beranakpinak dan lulusan tak bermutu. Tragedi ini sudah sekian waktu dibiarkan. Di sana ada cerita keengganan setulus ketakutan pada sistem yang menyeragamkan pemahaman bahwa sekolah dan pendidikan itu urusan yang formal dan sudah merupakan keharusan dilakukan dalam ruang bernama gedung sekolah dan kampus yang sudah sering membuat kita berteriak hingga mampus.

Mungkin benar kata berita kemarin itu, namun kebenaran itu harus diuji pada tataran implementasi. Jangan lagi ada yang ditutup-tutupi. Berharap masa depan dengan segala konsekuensinya, boleh jadi asa yang tumbuh dari kerja cerdas dan terukur untuk memberdayakan semua orang, para pihak pemangku kepentingan, utamanya rakyat.(*)