Wednesday, April 17

Sore di Kedai Kopi


17 Maret 2023


Cekikik sepasang entah jenisnya apa, mereka pacaran di pojok kedai. Foto makanan, cekikik lagi, lalu cubit-cubitan.


Oleh: Dera Liar Alam


Gambar: Meja yang ricuh


CEK status, apakah pengulangan, atau saya salah baca #WaringWeraWanua koffie sajak path18 #koffiëtijd #duties #virusbacatulis #menulisrianggembira #karma #bangunindonesia #bangunjiwanya #bangunbadannya #hiduplahindonesiaraya Memberi tanda pada kenangan hari di mana tanggal bergeser, status mewah, uang seadanya ada dalam saku.

Seperti biasa nongkrong, punya kawan ngobrol namanya E.D,- . O iya, E.D,- buta-tuli uang, tak dibiasakan sejak orok. Saya ajak dia rumpi, dia cerita jalan virtualnya, Johannesburg, South Africa. Saya tanya Voortrekkers. Nah, P18, kelas IV sekolah dasar dia ketika itu, namun penjelajahannya jauh melewati teks-teks yang saya tenun di mindset.

Membuka gadget di kedai kopi modern, E.D,- lanjut menutur Oranje-Vrijstaat, negeri yang diapit Orange River dan Vall River. Kursi berjejer diisi pecandu kopi dan es, hampir semua mata tunduk menatap screen. Waktu itu, pertikaian teks sementara marak oleh klaim. Saya, berkawan siapa saja, belajar, mendengar dari siapa saja, mencatat data, membuat resume, meski saya sesungguhnya cerewet dan egois.

Berdua, E.D,- dan saya tuju mart, membeli coklat dan kripik kentang, lalu menunggu di depan kasir, dia menghitung. Saya ajukan selembar uang, lalu menyuruh E menagih kembalian dari kasir. E kaget, “Uang banyak sekali,” katanya dengan raut sumringah, sambil menaruh helai demi helai ke kantong celananya. Saya bilang, “Selembar yang saya sodorkan ke kasir itu, tak cukup buat bayar segelas kopi di kedai yang tadi kami singgahi.”

E.D,- tidak mengerti, dia hanya senyum. Lembar-lembar yang masuk kantongnya membuat dia bangga. Dia belum berbeban di mindsetnya. Di kedai ini pelayanan maksimal, sanitasi terjaga. Di luar sana, ada dua bocah duduk di emper, mereka terlihat berani, sama dengan E.D,- tak berbeban. Sisa-sisa ‘kadang’ tak jadi soal bila mau isi perutnya. Namun, mereka memilih minta uang, selembar demi selembar, sambil memandang dari jauh kedai yang tak pernah sepi.

Dari bacaannya E.D,- cerita, “Saya baca Native Land Act, Afrika Selatan selasatu negri tertua di benua Afrika. Khoi, San, Xhosa dan Zulu mendiami dataran itu. Belanda – Afrikaner di sana 1652. Inggris juga doyan wilayah itu, apalagi setelah penemuan cadangan berlian yang hebat dan terkenal itu. Lalu, mereka bertikai. Perang Boer. Medio 1910, empat republik utama digabung di bawah Uni Afrika Selatan. Pada tahun 1931, Afrika Selatan menjadi jajahan Inggris Raya sepenuhnya.

Dari kedai menerawang. Jangan-jangan kemiskinan masih tetap berlangsung sebab rakyat hanya menyembah simbol, memuja ide tua dan purba. Pemikiran dapat ditukar kerbau terjual demi berlian. Sistem punya kedai yang sama. Kemalasan dipelihara, lalu dibahasaekonomikan sebagai sederhana. Orang-orang dianggap kerbau dan keledai. Dibeli seharga kemauan politik kuasa bila melawan.

Kedai yang meminta helai per helai, kosongkan kantong-kantong yang rampasi miskin di berbagai lokasi, mengosongkan bimbang dalam isian proposal kaya, kata data, kaya penggelembungan sejumlah alokasi. Kami membeli, supaya terlihat kaya dan mewah.

Padahal, miris dan miskin. Miskin pengetahuan. Begitu. (*)