Monday, February 26

Musim Bunga


29 April 2022


Oleh: MiRa Roe
Penulis adalah sastrawan penulis


Gambar: Laburnum anagyroides – Golden Chain Tree
Amstel Kade – berlatar belakang rumah di atas air dan taman bunga – April 2010


Daun bersemi
Hijau menghias kota
Bunga merekah

Ingatan malam hari
Sinar bulan membayang

Aaah, terik matahari melayukan bunga dan daun-daunan, hingga tunduk tanpa daya. Hukum alam telah mengajarkan pada kita semua, bahwa hidup manusia dihitung dalam batasan waktu menuju kuburan, sekali pergi tak mungkin kembali lagi.

Mengenang masa
Usia melebur duka
Berbina jasa

Megah merah, berdarah
Hayat dikandung badan

Kuingat pesan akhirmu, ayah, bahwa kehormatan, kemasyuran dan nama harum bukanlah titik akhir idaman hidupmu, walaupun hidup, mati, hina dan mulia adalah pemberian alam.

Kilatan petir
Di antara mega hitam
Awan menggumpal

Cermin berbalut luka
Kesal berlapis dendam

Waktu menjejak hening, raga terlentang di tempatnya, menyatu dalam gundukan tanah subur, bunga-bunga mungil menghias cantik di atas pusaramu. Ketika roh termenung di hadapan makam tak berpapan nama, perjalanan hidupnya pun tak berteduh.

Menuju pulang
Merambah jalan bebas
Tiada buntu

Menanti akhir hidup
Maut belum menjemput

Perahu laju
Menyisir sungai
Tekadku menggelora

Walau tongkat estafet
Rapuh dimakan waktu


Amsterdam, 25 April 2010