Friday, June 14

Narasi Perempuan dalam Sejarah


30 April 2022


Sejarah adalah hasil konstruksi, dan meniadakan pengalaman perempuan. Padahal ada banyak perempuan dan organisasi perempuan ikut melawan dengan cara-cara yang sangat prosedural, misalnya membentuk organisasi modern, mengajukan mosi kepada pemerintah untuk mendapatkan hak politik dan persamaan di muka hukum. Sejauh ini, narasi perempuan dalam sejarah sangat kurang…


Oleh: Sulistyowati Irianto
Guru Besar Antropologi Hukum
Fakultas Hukum Universitas Indonesia


SEJARAH itu adalah narasi besar yang dikonstruksi oleh ‘para tokoh’ dan pada umumnya dengan ‘kacamata laki-laki’. Oleh karenanya bagaimana bunyi teks sejarah, akan sangat tergantung pada siapa yang membuat dan untuk kepentingan apa.

Sejarah besar, seperti sejarah kolonial, melupakan narasi kecil, sejarah keseharian yang berisi pengalaman orang-orang biasa, dan pengalaman perempuan, yang sesungguhnya sangat penting, bahkan dalam pembentukan suatu nation.

Oleh karena itu kontribusi perempuan hampir tidak pernah tercatat dalam sejarah. Misalnya, bagaimana seorang perempuan di Solo menggiatkan usaha batik dan warna (alami) batiknya memerahkan Bengawan Solo, dan uangnya digunakan untuk mengongkosi perjuangan kemerdekaan.

Film perjuangan perempuan – Sumber: cosmopolitan

Bagaimana banyak organisasi perempuan seperti Mahardika, ikut melawan dengan cara-cara yang sangat prosedural, membentuk organisasi modern, dan mengajukan mosi kepada pemerintah Belanda untuk mendapatkan hak politik dan persamaan di muka hukum. Organisasi ini juga memperjuangkan pengentasan kemiskinan, buta huruf dan perdagangan perempuan — saya pernah membuat paper tentang ini.

Semuanya – sangat sedikit tercatat dalam sejarah Indonesia yang diajarkan di sekolah-sekolah. Akibatnya para murid hanya tahu Perang Diponegoro, perang ini dan itu, dan hafal mati tahun-tahunnya. Titik.

Tidak ada pesan moral, pembelajaran, yang bisa dijadikan pegangan untuk hidup berbangsa. Barangkali ini sebabnya anak-anak muda itu menjadi gampang dimasuki paham  yang menyesatkan Pancasila dan Konstitusi, dan hidup keberagaman yang Ika.

Menulis artikel ini, jadi teringat pernah dapat pelajaran tentang ‘Nation & History’ di Vrije Universiteit Amsterdam, mungkin 35 tahun yang lalu dari beberapa dosen hebat, termasuk Prof Sutherland dan Dr. Zondergeld. Saya sangat menikmatinya. (*)