Sunday, April 14

Milu di Lereng Mapuneng


29 Desember 2021


Sejuk di sini kekal meski di musim kemarau. Ada saat angin badai menekuk tetumbuhan jagung, patahkan dahan ranting, namun harap terus ditabur dibaharui, semangat para tou di wanua.


Oleh: Dera Liar Alam
Penulis adalah jurnalis penulis


Gambar: Makawale – Ladang jagung di bayang mendung Mapuneng – Ladang berlatar Mahawu & Masarang – foto: dax.


DI DANGAU, wale kanaramen ne tou Remboken, yakni pondok di kebun, kami menikmati sore sejuk di Teneman nan kian dingin. Jimmy, Ferra, Jessy, Angky, saya. Kami disuguhi kopi di gelas tinggi, aroma khasnya menggoda indra penciuman. Cairan itu diseruput dari tepi gelas hangat, lalu uapnya dihembus menjauh.

Adri, sang makawale, pemilik dangau, menunjukan butir-butir hasil panennya seraya bercerita. “Di situ, di sebelah atas. tanamannya kurang bagus, agak kuning daunnya, di sebelah sana, milu di situ bagus mo foto, ijo-ijo, depe daong lebar-lebar,” ucap dia sambil menunjuk arah mata angin, utara dan timur.

Di sekitar dangau, ada hamparan kosong, pohon pepaya, buah awalnya sudah menguning segar.  Di sana sini semak diselingi pohon-pohon, ada tetumbuhan yang disebut sombar, pelindung, rumpun bambu, awan-awan berarak, dan pelangi di ufuk Teneman, area miringan dan landai di mana air menderas dan tergenang pada musim hujan. Hamparan kosong mau dijual. “Tu tanah mo jual,” tutur Jimmy.

Ladang jagung di bayang mendung Mapuneng

Desir mengalun, dingin menjadi. Ferra, Jessy, dan saya bertutur sumber air yang tidak pernah kering di Mapuneng. Alir itu sambung menyambung melewati lekuk rimba, hamparan padang ilalang, di lereng Tampusu.

Tentang jagung alias milu, menurut catatan Litbang Pertanian Sulawesi Utara, di situsnya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara, “Kandungan gizi pada biji jagung kaya karbohidrat, sebagian besar berada pada endospermium. Seluruh bahan kering biji, kandungan karbohidrat dapat mencapai delapan puluh persen. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Jagung Manado Kuning mengandung protein dan lemak cukup tinggi, yaitu 9,44 persen dan 5,01 persen. Nilai nutrisi jerami jagung Manado Kuning yang difermentasi dengan effective microorganism (EM4) lebih tinggi dibandingkan dengan jerami jagung hibrida. Protein kasar dan energi jagung Manado Kuning lebih tinggi dibandingkan jagung Hibrida Bisi-2, yaitu 7,49 persen dan 264,80 persen dibandingkan dengan 4,84 persen dan 247,48 persen. Serat kasar jagung Manado Kuning lebih rendah (22,11 persen) dibandingkan dengan jagung Hibrida Bisi-2 (26,74 persen).

Dijelaskan di situs itu yang mana lebih rendahnya kandungan serat kasar jagung Manado Kuning ini menyebabkan jerami jagung ini akan lebih mudah dicerna ternak. Produk ini perlu dipertahankan sebagai plasma nutfah seiring dengan semakin intensifnya penggunaan jagung sebagai bahan pakan ternak.

Milu itu Zea mays ssp. mays, ejaan di wanua artinya tumbuhan jagung, bijinya juga diucap dengan kata itu, milu. “Milu biasa — maksudnya jagung Manado Kuning, ada juga yang bilang milu Minahasa Kuning — bijinya lebih tahan. Masa empat bulan dipanen. Milu hibrida nda tahan, lama dipetik, bijinya membusuk,” urai Adri bersemangat.

Dari dalam karung yang diletak di sudut depan dangau, Adri merogoh jagung yang sudah dibuang kulitnya. “Ini benih yang bagus dikawinkan.” Di tangannya menggenggam dua jagung kuning menjingga-tua berkilat cerah.

Malam di wale. Obrolan seputar milu masih bersambung. Herald dan saya duduk di sebuah ruang, membingcang ru’umen, nasi campuran beras dan jagung giling, kenang hari-hari silam, dan mengecap cap tikus. Gelap di sejumlah titik, menjalar dari ujung Weren ni Meong, Kinaris, Teneman, hingga lereng-lereng bukit. Kita, di titik sekitar dua mil dari Mapuneng.

Dalam berapa catatan ditulis bahwa milu sudah jadi obyek penelitian genetika yang intensif, dan membantu terbentuknya teknologi kultivar hibrida yang revolusioner sedari awal abad ke-dua-puluh. Dari sisi fisiologi, tanaman ini tergolong tanaman C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari, jenis ini tumbuhan umumnya ditemukan di daerah tropis. Begitu disebutkan dalam ‘Biochemistry of Storeage Carbohydrates in Green Plants’.

Di wanua, cerita milu adalah obrolan sepanjang zaman. Orang-orang tua mengenang masa perang, penyingkiran di sekitar lereng Teneman dan Mapuneng. Kawan sepermainan mengingat masa bersekolah yang rumit, waktu-waktu sulit kasip, giling milu yang membentuk otot-otot lengan, jenis pangan yang dilebel ‘orang susah makan(g) milu’. Anak-anak zaman sekarang tak meresap memori manis yang tersari dari ingatan itu.

Milu direbus, dibakar, nikmat bersua dabu-dabu, rawit garam. Cerita nyolong jagung di ladang orang terkait hal itu, boleh jadi. Kenang dinyanyikan Binte Biluhuta: Orang Menado bilang itu ‘milu siram’, sup jagung, diracik bumbu pedas asin manis, boleh dicampur ikan atau udang makanan khas masyarakat Gorontalo, dapat dijumpai di berapa warung makan di sejumlah kota termasuk di Manado dan di tanah Minahasa.

Ada saat di mana jagung banyak dan mudah diperoleh. Di literatur jagung menyebut jenis itu sebagai jagung transgenik. Jenis milu ini juga ada di wanua.

Disebutkan yang mana proses pembuatan jagung transgenik dengan cara menyisipkan gen dari makhluk hidup atau non-makhluk hidup. Hasilnya diharapkan jagung tahan penyakit, tahan hama atau juga tahan obat kimia, sehingga milu itu menjadi tanaman super. Keunggulan jenis jagung ini adalah kapasitas produksinya besar sekitar 8-10 ton per hektar.

Kekurangannya adalah bibitnya harus beli di toko karena tidak bisa diproduksi petani dan buruh tani, kemungkinan akan menimbulkan hama penyakit baru yang lebih kebal obat-obatan kimia, kemungkinan menimbulkan penyakit-penyakit baru bagi ternak dan manusia, menimbulkan kerusakan pada tanah, gen jagung ini sudah dipatenkan. Varietas jagung transgenik: jagung BT, jagung terminator, jagung RR-GA21, jagung RR-NK608, dll.

Bercampur-campur, persilangan jagung tak dapat dihindari. Menurut Sudarti, Arnold C. Turang, dan Janne H. W. Rembang, dalam tulisan mereka ‘Jagung Manado Kuning (JMK), Jagung Lokal Sulawesi Utara’, disebutkan bahwa jagung Manado Kuning telah ditanam berdekatan dengan jagung hibrida, menyebabkan terjadi persilangan secara alami antara kedua jagung tersebut. Hal ini menyebabkan jagung Manado Kuning yang dikembangkan petani dewasa ini sudah sangat beragam di satu daerah dengan daerah lainnya. Jagung Manado Kuning yang ditanam petani ada dua tipe biji, yaitu flint dan dent, dengan dua warna biji, yaitu kuning dan kuning oranye.

Usai Musim Panen Jagung:
23 Desember 2021

Sisa batang kuning pucat, pemandangan dominan dan biasa tahun-tahun silam di area bekas panen jagung. Namun, jajan jagung bakar jagung rebus dan berbagai pangan berbahan dasar jagung, sisa batang hijau jadi pakan ternak, sapi dan kuda. Berapa peneliti pertanian datang dan bertanya pada buruh tani dan petani jagung, mereka bilang, ‘jagung itu makanan sapi, kuda, ayam, bebek. Maka, menderaslah cerita penumpang angkutan umum yang mabuk perjalanan, lalu mual, dan muntah, bila isi perut yang dimuntahkan jagung, disebut kuda muntah. Begitu kisah dari wanua.

Ladang berlatar Mahawu & Masarang

Dari indurata — yakni zaman jagung mutiara, ke saccharata — yaitu zaman jagung manis, marak di wanua. Siapa-siapa yang menelisik kisah jagung di zaman jagung gigi kuda, indentata, bahkan lebih jauh dari itu, masa tunicata, jagung dengan ciri-ciri biji bersisik dan dianggap kultivar paling primitif. Saya di depan ladang yang sudah jadi halaman di selasatu wanua di tanah Minahasa, memandangi bekas tebangan batang jagung, tinggi sisa batangnya sepinggang, menonjol di antara rumput liar, di depan dan di kiri kanan lokasi itu adalah rumah dan gedung.

Dulu, tanaman jagung ditunggu muda, lalu sebagian diambil untuk kebutuhan jagung bakar jagung rebus, sisanya ditunggu tua dan kering lalu dituai, hasilnya dikeringkan, dijual, sebagian disimpan untuk benih di musim tanah berikut.

Bila musim panen ada di ujung tahun, maka, uang belanja boleh jadi tersedia. Ada ritual me’kaan. Tetangga datang membantu. Di masa lalu, orang-orang berkekurangan boleh mendapat bagian panen yang sengaja disisakan pemilik ladang. Semua bersuka. (*)