Sunday, September 24

Memikirkan Aceh di Hari Tsunami


26 Desember 2021


Lebih dari setahun sesudah gempa dan tsunami, kehidupan sebagian besar orang Aceh masih teramat berat. Tempat-tempat penampungan korban bencana atau pengungsi masih tersebar di sejumlah lokasi. Perekonomian lokal belum pulih…

Selama konflik bersenjata di Aceh, kebanyakan berita di media Jakarta memuat pernyataan pejabat sipil maupun militer Indonesia, bukan menjadi penyambung lidah warga, jauh dari mengungkap fakta…

Berada di Aceh membuat kami memahami betapa rentannya perdamaian.


Oleh: Linda Christanty
Penulis adalah sastrawan dan penulis
Editor: Dera Liar Alam


Gambar: Aceh Tsunami Museum site visit/ wikimedia


SAYA tidak mampu mengingat tanggal dan bulannya, tetapi peristiwa itu terjadi di Aceh pada 2006. Seorang lelaki berumur sekitar 60-an berjongkok sambil mencongkel-congkel tutup sumur di kantor saya sore itu, mencoba melepasnya. Tutup perigi terbuat dari besi dan digembok untuk melindungi lubang perigi tertimbun tanah atau mencegah kucing jalanan terjun bebas ke dalamnya, sehingga menjadi kucing celup. Perigi berada di halaman depan kantor. Airnya mengalir ke kamar mandi tiap kali stopkontak ditekan. Seringkali warnanya keruh kekuningan atau kehitaman. Di dekat lelaki itu terparkir sepeda beroda tiga, yang memiliki bak besar di bagian belakang. Kadang-kadang saya berpapasan dengan pengendara sepeda berdesain khusus macam ini di jalan, melihat bak yang terisi penuh rumput segar untuk santapan kambing.

Di bak sepeda lelaki itu tidak terlihat sehelai rumput pun. Saya memintanya berhenti mencongkel-congkel tutup perigi. Dia bergeming sebentar, lalu melanjutkan perbuatannya. Saya memintanya berhenti sekali lagi. Tidak digubris. Setelah saya menyatakan perbuatannya itu sebuah tindak pidana pencurian, dia berhenti, seraya berkata pelan, “Saya kira sudah tidak dipakai lagi.” Dia bangkit menuju sepedanya, duduk di sadel, mulai mengayuh pedal, menatap lurus ke depan.

Masih pada tahun itu, dua lelaki berusia sekitar 30-an tiba-tiba muncul di lantai dua kantor — sebuah ruko tiga lantai, yang secara kebetulan tetap tegak, meski bangunan di sampingnya babak-belur dihantam gempa yang diikuti gelombang tsunami. Mereka meminta uang.  Awalnya saya mengira mereka membutuhkan sumbangan untuk pembangunan tempat ibadah atau panti asuhan. Namun, mereka meminta sumbangan untuk diri mereka sendiri.

Beberapa hari kemudian mereka datang lagi. Setelah itu hanya seorang yang kembali. Dia mengira saya encik pemilik toko.

Pada tahun itu, lebih dari setahun sesudah gempa dan tsunami, kehidupan sebagian besar orang Aceh masih teramat berat. Tempat-tempat penampungan korban bencana atau pengungsi masih tersebar di sejumlah lokasi. Perekonomian lokal belum pulih. Bencana tersebut merampas apa saja. Orang-orang terkasih, rumah, harta benda, tempat usaha bahkan, pikiran dan harapan.

Penderitaan rakyat akibat konflik bersenjata antara Aceh Merdeka — kemudian populer disebut Gerakan Aceh Merdeka (GAM), setelah sebelumnya dijuluki Gerakan Pengacau Keamanan-Hasan Tiro — dan pemerintah Indonesia bertambah dengan penderitaan akibat bencana alam.

Pada 26 Desember 2004, waktu tsunami terjadi, Aceh masih berstatus Darurat Sipil. Salah satu film dokumenter memperlihatkan adegan serdadu menyiksa orang yang dituduh GAM pascatsunami. Orang ini mungkin sudah kehilangan segalanya, terbaring di jalan.

Banyak teman dari Jakarta datang ke Aceh untuk bekerja atau melaksanakan program dalam rentang waktu tertentu pascatsunami. Ratusan lembaga bantuan kemanusiaan internasional dan nasional beraktivitas di Aceh.

Redemptus Kristiawan atau Mas Wawan datang di tahun pertama saya berada di Aceh. Kami pergi berziarah ke makam Syiah Kuala atau Syekh Abdurrauf As Singkili, ulama dan cendekiawan di bidang agama dan hukum. Jalan menuju makam itu tergenang air. Di kiri kanan jalan, terlihat laut yang sunyi. Jika air pasang, jalan putus. Makam rusak parah. Sebagian melesak ke dalam tanah. Adik saya, Panglima Budhi Tikal, berpesan agar saya berziarah ke makam itu. Mas Wawan membuat saya melaksanakan pesan tersebut.

Eva Danayanti, yang turut mendirikan kantor kami di Aceh, tiba-tiba menelepon dari Jakarta untuk menyampaikan bahwa seorang anak muda nekad bernama Samiaji Bintang akan pergi ke Aceh.  Bintang ingin membantu saya, dengan menulis laporan-laporan pascatsunami dan pascakonflik di Aceh, mempraktikkan jurnalisme. Dia ingin mendengar langsung kisah-kisah orang Aceh.

Selama konflik bersenjata di Aceh, kebanyakan berita di media Jakarta memuat pernyataan pejabat sipil maupun militer Indonesia, bukan menjadi penyambung lidah warga, jauh dari mengungkap fakta. Sepeda motor Bintang dikirim dari Jakarta dengan kapal laut untuk menemaninya berkeliling Aceh.

Suatu hari terjadi penembakan di Paya Bakong, Aceh Utara, justru di masa damai. Meski GAM dan pemerintah Indonesia telah menandatangani Perjanjian Helsinki pada 15 Agustus 2005, masih saja terjadi berbagai kasus pelanggaran hak-hak asasi manusia.

Suatu hari telinga seorang peninjau dari Aceh Monitoring Mission terserempet peluru.

Di Paya Bakong, seorang mantan gerilyawan GAM meninggal setelah melewati pos tentara. Untuk mengetahui apa yang terjadi Bintang mengusulkan dia meliput peristiwa itu. Pihak militer telah mengeluarkan pernyataan dan dikutip suratkabar terbesar di Aceh. Kami tegang. Bintang memutuskan naik sepeda motornya menuju Aceh Utara, masuk kampung dan mampir di kedai kopi, mencari narasumber yang bersedia dikutip dan menggali informasi. Ini beresiko tinggi. Kesewenang-wenangan yang dipraktikkan pusat kekuasaan di Jawa dan praktik Jawanisme selama Orde Baru berkuasa telah menimbulkan efek samping: ketidaksukaan terhadap orang Jawa. Bintang adalah orang Jawa. Bintang menganggap sentimen itu ada akibat perlakuan rezim terhadap rakyatnya.

Tanpa bermaksud meremehkan gender tertentu, menurut Bintang, lebih baik dia sendirian ke lapangan karena dia bisa tidur di masjid jika keadaan darurat. Saya bertugas menganalisis kaliber peluru yang digunakan untuk mengetahui dari senjata pihak mana peluru itu ditembakkan. Detail sangat penting. Ketika manusia bungkam, benda mati bicara.

Laporan Bintang akhirnya dimuat salah satu tabloid di Aceh, karena kantor kami merupakan sindikasi media.

Pada hari tulisannya dimuat, kami berpencar meninggalkan kantor. Mengapa? Sebab kantor kami bersebelahan dengan markas Kodam Iskandar Muda. Tentara-tentara juga kerap memarkir sepeda motor mereka di halaman kantor.

Berada di Aceh membuat kami memahami betapa rentannya perdamaian.

Suatu hari seorang polisi militer mati, karena dicekik. Mantan GAM dituduh membunuhnya. Petinggi militer mengeluarkan pernyataan bahwa tambahan pasukan dari luar Aceh dibutuhkan untuk mengamankan Aceh. Mengesankan Aceh akan kembali bergolak.

Bintang sempat menghadiri konferensi pers yang diadakan aparat, juga menghimpun keterangan dari berbagai pihak. Setelah merangkai seluruh informasi, kami menduga pembunuhan polisi militer tersebut tidak ada kaitan dengan politik sama sekali. Dari keterangan sejumlah orang, mereka diduga terlibat masalah obat-obatan terlarang.

Setahun sesudah itu Hairul Anwar datang ke Aceh. Dia juga anak muda nekad, berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hairul menulis liputan tentang budaya, politik, ekonomi, dan bisnis tentara.

Suatu hari dia diancam tentara, karena dianggap telah lancang mengungkap bisnis mereka di sebuah tempat permandian air panas. Saya mengatakan kepada Hairul, berikan saja nomor telepon saya kepada tentara itu, biar saya menjelaskan langsung kepadanya.

Seminggu, sebulan, dua bulan, keadaan berangsur tenang.

Orang Aceh pertama yang saya kenal secara langsung (bukan dikenalkan orang) bernama Agam Patra. Kami bertemu dalam pesawat. Dia bersama istri, anak, dan cucunya. Pak Agam pulang berobat. Jantungnya bermasalah. Dia mengusulkan untuk mengantar saya ke tempat tujuan di Banda Aceh, karena saya baru pertama kali ke Aceh. Atasan saya berpesan sebaiknya saya menyewa taksi di bandara. Tetapi Pak Agam menyarankan lebih baik saya menerima usulnya. Aceh waktu itu bukan tempat yang mudah bagi perantau. Saya turun dari mobil Pak Agam sambil menjinjing koper besar, melayangkan pandangan ke arah bangunan yang akan menjadi kantor saya, sebuah ruko tiga lantai, gelap-gulita. Sunyi. Di sebelah ruko adalah markas Kodam Iskandar Muda.

Teman atasan saya di Jakarta orang Aceh yang tidak punya trauma terhadap tentara, sehingga dia merekomendasikan bangunan tersebut untuk disewa. Pak Agam khawatir mengingat saya sendirian, lalu menyarankan kembali naik mobil dan menginap di rumahnya. Istrinya juga mendukung. Saya menolak, karena tidak mau merepotkan mereka. Setelah itu, saya tidak pernah lagi berjumpa dengan Pak Agam.

Orang Aceh kedua yang saya kenal di Aceh adalah Donna Lestari. Dia bertubuh mungil, selalu mengenakan sepatu bertumit tinggi. Eva datang ke Aceh untuk melatih Donna menjadi sekretaris dan menangani pekerjaan administrasi. Donna tidak menangani keuangan, karena gaji dan honor kontributor ditransfer langsung oleh Jakarta ke nomor rekening masing-masing. Uang kas setiap bulan Rp 500 ribu juga dikirim dari Jakarta ke rekening kantor.

Belum pernah saya bertemu orang seberani Donna. Tiap kali gempa terasa, saya buru-buru keluar kantor, lari terbirit-birit seperti dikejar singa. Donna tetap bertahan di kantor. Saat listrik mati — pernah mencapai rekor 19 kali sehari, saya bergegas membawa laptop ke Caswell’s, kedai kopi sejuk-nyaman-bersih di Banda Aceh. Di sana ada generator. Donna menolak ikut, bersikeras menunggu kantor yang pengap dan panas. Dia sangat setia. Suatu hari dia berkata, kalau ada tsunami lagi dia tidak akan lari. Mengapa? Karena sudah lelah.

Jarang sekali Donna terlambat sampai di kantor, kecuali hujan angin melanda kota. Siang hari itu Donna muncul dengan wajah cemberut. Dia ditangkap polisi syariah dalam perjalanan ke kantor, diceramahi panjang-pendek. Meski berkerudung, pakaian Donna dianggap masih di luar standar polisi. Sejak syariat Islam dilembagakan, tubuh perempuan sering dikriminalisasi.

Pernah saya katakan kepada Donna, melindungi perempuan tidak dengan cara membungkus tubuh mereka rapat-rapat, tetapi dengan memperberat hukuman terhadap pelaku kekerasan seksual.

Seharusnya pemerkosa dihukum mati. Memperkosa itu penyakit mental. Tidak dapat disembuhkan. Tidak bisa dibuat jera. Masalahnya, hukuman mati dianggap keji. Kalau begitu, dipenjarakan seumur hidup tanpa kemungkinan bebas sama sekali. Bersiul-siul atau melontarkan kata-kata busuk berbisa saat perempuan lewat didenda Rp 500 juta atau ditambah sesuai nilai uang setiap zaman.

Cukup lama saya hanya berdua dengan Donna menjalani hari-hari. Para kontributor (seperti Win Ruhdi Batin, Dewa Gumay, Nasir Age, Ayi Jufridar, Novia Liza, Ulfa Khairina, Khithati, Bustami, Mifta Sugesty, dan lain-lain) mengirim laporan mereka melalui surat elektronik. Laporan-laporan itu dimuat di website kami. Selama proses penyuntingan, saya menelepon mereka untuk memeriksa fakta.

Kontributor yang cukup ruwet laporannya bernama Imran. Dia menulis seputar masalah yang terjadi dalam pendistribusian dana reintegrasi kepada mantan GAM di Lhokseumawe. Saya meneleponnya 51 kali, karena sukar memahami maksud kalimat-kalimatnya.

Pada tahun kedua kantor beroperasi, atasan di Jakarta mengatakan uang habis. Tidak ada dana untuk memperpanjang sewa kantor di Aceh. Dia menyarankan saya menghubungi Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias untuk minta disediakan kantor. Dia pikir, saya presiden Republik Indonesia dan Kuntoro Mangkusubroto anak buah saya.

Akhirnya saya segera menelepon Saiful Haq, teman dari Makassar, untuk bertukar pikiran. Siapa tahu dia mengenal orang di Aceh yang barangkali bersedia meminjamkan ruang gratis sebagai kantor sementara. Saiful bekerja di Jakarta, tetapi beberapa kali melaksanakan program lembaganya di Aceh. Dia biasa memanggil saya, ‘Ping Ping’, nama yang tidak ada hubungannya dengan sosok pesilat dalam film Mandarin, melainkan pemutakhiran bunyi dari kata ‘pingsan’.

Saya kadang sukar dihubungi, seakan pingsan. Setelah berpikir keras, mengingat-ingat, dia mengucap sebuah nama, ‘Hendra Fadli’. Ketika itu Hendra memimpin Kontras Aceh. Tanpa proses berliku, kantor kami pindah ke gedung Kontras Aceh di Lamlagang. Ketika menerima dana program Aceh lagi dari Jakarta, Donna membayar biaya listrik dan sewa kantor kepada Kontras Aceh. Dua aktivis Kontras Aceh waktu itu, Feri Kusuma dan Mustawalad, menulis laporan tentang pelanggaran Hak Hak Asasi Manusia untuk kantor kami. Mereka menjadi kontributor paruh waktu.

Para kontributor dari kalangan mahasiswa berusia antara 19 sampai 20 tahun. Ketika atasan di Jakarta membekukan kantor kami, mereka protes. Kepada dua perempuan utusan lembaga donor yang datang mengevaluasi program Aceh, mereka menyampaikan keinginan agar kantor diaktifkan kembali. Salah seorang perempuan itu berasal dari Yugoslavia. Dia berkata bahwa negaranya telah terbelah menjadi beberapa negara. Dia merasakan pahitnya perang. Dia menghimbau para kontributor tetap bersama apa pun yang terjadi.

Mas Wawan yang ketika itu bekerja di Tifa menemani dua utusan tersebut selama di Aceh. Dia juga membantu saya dan Eva melanjutkan program Aceh, bekerja sama dengan Tifa. Kantor aktif kembali, berganti nama menjadi Aceh Features. Akhir program ditandai peluncuran buku kumpulan reportase para kontributor, ‘Setelah Damai di Serambi’, setebal 600-an halaman.

Didik Irawan membuat website kami dengan cepat, memasukkan semua tulisan. Kejeniusannya telah membantu kami melewati krisis. Dia menyukai pemrograman. Waktu kanak-kanak, dia tidak menyukai permainan anak-anak pada umumnya. Waktu di sekolah menengah pertama, dia bosan terhadap sekeliling, sehingga memadamkan listrik satu kota, melahirkan kegemparan.

Laporan pertama saya tentang Aceh berjudul ‘Orang-Orang Tiro’. Teuku Zulfahmi membantu saya memperoleh akses untuk bertemu dan mewawancarai orang-orang yang turut mendirikan GAM. Dia adalah adik bungsu Cut Nurasikin, juru runding GAM yang dihukum 14 tahun dan dijebloskan ke penjara Lhok Nga. Cut Nur sedang menjalani masa tahanannya ketika tsunami melanda Aceh. Ada yang mengatakan jasadnya tidak ditemukan. Ada pula yang percaya jasadnya dimakamkan di kuburan massal korban tsunami.

Liputan kedua saya tentang lembaga international yang membantu nelayan-nelayan Aceh membuat perahu agar dapat mencari nafkah lagi dengan melaut. Lembaga itu bernama AIRO, didirikan oleh Aaron Lyman, Eddie Bloom, dan Eric Lyman, orang-orang Amerika. Lokasi pembuatan perahu mereka di Krueng Raya, di tanah yang disewa, dari tahun 2005 sampai 2009.  Lembaga tersebut tetap peduli terhadap kehidupan para penerima bantuan setelah program berakhir, dengan memperpanjang sewa tanah agar dapat terus digunakan untuk membuat perahu atau usaha nelayan.

Pada 2016, AIRO membeli tanah itu kemudian memberikannya kepada para pembuat perahu yang ditetapkan sebagai pemilik sah tanah melalui akte notaris. Tulisan saya tentang AIRO melalui sosok Eddie dimuat sejumlah media sindikasi, termasuk majalah Playboy Indonesia. Majalah Playboy berhenti terbit pada 2007, karena protes sejumlah organisasi massa berbasis agama. Front Pembela Islam merusak gedung Aceh Asean Fertilizer di Jl TB Simatupang, Jakarta, lokasi kantor majalah itu. Pemimpin redaksi Erwin Arnada dipenjarakan dengan jeratan pasal kesopanan dan kesusilaan.

AIRO tidak hanya menyelamatkan nelayan, tetapi juga menjadi selter sementara untuk saya dan Eva saat kantor kami dibekukan Jakarta. Kantor lembaga bantuan ini terletak di tengah pasar ikan, yang aromanya sungguh menyengat, perpaduan bau busuk dan amis. Di belakangnya mengalir Krueng Aceh. Airnya yang hitam menelan bangkai sapi dan ayam, sampah pasar dan rumah tangga. Waktu tsunami, ia juga menelan mobil dan manusia.

Pembangunan rumah-rumah di Aceh pascabencana amat penting. Menentukan penerima bantuan sangat membutuhkan ketelitian dan data yang akurat, sedangkan situasi pascabencana begitu rumit.

Suratkabar sekali waktu memberitakan tentang satu orang memperoleh 10 rumah bantuan, mengelabui bagian pendataan. Banyak orang yang benar-benar membutuhkan rumah malahan belum mendapatkan rumah.

Beberapa lembaga bantuan membangun rumah korban tsunami. Marco Kusumawijaya, arsitek dan aktivis urban, adalah orang Bangka yang tiba di Aceh untuk merancang dan memantau pembangunan rumah warga. Dia tidak menginap di hotel, tetapi dalam ruang kerja Donna di lantai dua. Dia menggelar sehelai tikar karet (yang biasa digunakan untuk yoga) sebagai alas tidur dan berselimut sarung. Pagi hari sebelum Donna datang, dia sudah bangun, merapikan ruangan, bersiap berangkat kerja. Donna merasa kasihan, karena Marco datang jauh-jauh lalu tidur seperti pemulung, seraya melirik gulungan tikar dan sarungnya yang terlipat di sudut ruang.

Penampilan Marco sederhana. Berkaos oblong. Bersepatu-sandal. Saking sederhana penampilannya, saya sering tidak percaya dia sanggup membayar tagihan rumah makan. Saya selalu menawarkan diri untuk menraktirnya makan, tepatnya memaksa. Padahal rumahnya di Menteng, Jakarta, permukiman orang-orang kaya lama.

Tidak terasa sudah 17 tahun sejak tsunami melanda Aceh, yang bagaimana pun telah mengantar saya bertemu bermacam orang dan teman di Aceh, seperti Azhari Aiyub, Reza Idria, Saiful Mahdi, dan banyak lagi.

Saya teringat perjalanan ke kampung-kampung, menyaksikan pemandangan alam hijau, pertanda tanah subur. Ini tempat seharusnya rakyat hidup makmur. Dulu ketidakadilan ekonomi merupakan alasan utama orang Aceh kecewa terhadap pemerintah Indonesia hingga mencetuskan perjuangan bersenjata. Namun, pejabat setempat pun ternyata mengecewakan orang Aceh. Tahun lalu gubernur Aceh dijebloskan ke penjara, karena kasus penyelewengan uang. Padahal dia menjadi tumpuan harapan para pendukungnya.

Tidak semua kabar sedih. Anak-anak muda Aceh yang saya kenal adalah orang-orang tangguh, berani, dan cerdas. Jufrizal, Junaedi Mulieng, Mellyan, dan Kiki sekarang menjadi dosen di Palembang, Meulaboh, dan Banda Aceh. Mereka mengajar jurnalisme. Bukan jurnalisme syariah. Jurnalisme ya jurnalisme, tanpa embel-embel apapun.

Kadang-kadang saya teringat lelaki yang mencoba mencopot tutup perigi itu. Barangkali dia ingin menjual tutup perigi untuk membeli makanan. Kehidupan terkadang begitu berat. Seharusnya saya lebih peka. Seharusnya saya memberinya sedikit uang.

Seorang teman pernah mencuri jambu karena lapar. Dia malah dijamu makan oleh pemilik pohon yang menjadi iba. Namun, tutup perigi, tidak sama dengan jambu. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, mengapa lelaki itu tidak meminta maaf kepada saya.

Sejurus kemudian saya teringat perbuatan pejabat ataupun pemimpin, yang mengkorupsi uang negara ataupun menerima suap. Mereka jauh lebih parah, terus menggunakan seribu satu cara untuk lolos dari bui, tidak pernah meminta maaf, tetap serakah dan tamak. (*)