Tuesday, February 27

Langit Beracun Jingga


23 Oktober 2022


Oleh: Dera Liar Alam


DAN, dia telah membuka semua jendela:

Asap menerobos ke taman, halaman sebelah dikosongkan berminggu-minggu silam oleh orang-orang berseragam pamong. Puang memanggil sopirnya, “Sule, Sule, Sule.” Sule hampiri Puang, rautnya datar menunggu perintah. Pintu mobil putih terkuak, jendela kaca diturunkan, surat-surat berhamburan diterpa badai terbang ke langit jingga…

Pertapaan kita berbatas halaman tetangga yang sudah diusir. Dan, aku membuka jendela, menunggu selentingan yang hilang, gossip, desas-desus diam, suara timba merecoki sumur sudah sepi. Sule datang dari halaman lain memotong semak, menebang pohon, mengangkat sisa pagar, memindahkan loyang bekas wadah cucian, membanting loyang ke tembok. Burung-burung bubar, Sule pulang, langit jingga ditaburi surat-surat awan, koyak…

Puang memandangnya dari jauh, dari lantai tiga pelatarannya – tiga kilometer dari kaki langit kota seberang.

Jingga bertabur bintang teori biru kerakyatan jadi merah, dan marah.

Langit di atas tanah, di atas danau, di batas sungai membanjir sampah: senasib para saudara bertumpah darah, dan nanah, dan kencing, dan tinja. Negeri, pepohonnya tumbuh satu-satu, peruntuhan bergemuruh, kadang tersamar suara generator manakala listrik berbayar dipadamkan tanpa penjelasan. Kaca, cermin, memantulkan arak-arakan tuju pemakaman. Di atasnya langit jingga berkabut racun, kelam…

Langit jingga, jendela ditutup satu-satu. (*)


Tanah Sulawesi, 2022.