Wednesday, June 19

Kucing di Rumah Bertingkah


19 Januari 2024


Kucing di sini tidur di bawah mobil mewah, depan toko-toko dan ruko dalam pemukiman. Mereka mondar-mandir angkuh, kawin mawin saban saat, berteriak mengeong berpesta membangunkan subuh manakala tambur berganti suara toa tak kunjung usai siang sore malam…


Oleh: Dera Liar Alam


RUMAH bertingkat, kucing tidur di atapnya siang malam. Riuh kendaraan tidak dianggap, tikus berseliweran, cuek saja. Maka, dibuatlah perangkap, bukan untuk kucing. Namun, perangkap telah dirusak. Penghuni perangkap tak mau tersisa dalam kurungan, kawat-kawat yang dirangkai mengait kawat yang lebih besar kokoh digigit sampai putus. Bibir dan mulut berdarah, biar saja, tidak peduli, supaya celah boleh terbuka, jalan lari terkuak, agar diri boleh bebas. Dia melompat menerobos lorong dapur dari belakang kulkas, naik ke sisi toilet, masuk lobang tuju loteng. Suara kaki-kaki berdansa mengetuk langit-langit mengejek sunyi gelap hampir pagi, lalu senyap. Kamis telah tiba, kemudian bergulir Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin seterusnya. Tikus juga mau bebas merdeka.

Padahal bagi tikus-tikus, Rabu malam silam perangkap telah disiapkan – pertengahan episode bebas gerombolan tikus melubangi kardus minyak, memangsa ikan goreng di tutup saji terkuak, melubangi bokor dan tong penyimpanan beras. Siapa tidak murka? Tengah tahun, sudah ada sejumlah tikus terjerat. Mereka diguyur air mendidih. Menjerit-jerit, sakitkan alasan, diam. Bangkai tikusnya kemudian dibuang ke keranjang bertumpuk plastik bekas, sisa-sisa aktivitas kantor, kertas bekas pembungkus pangan, kemasan minuman cepat saji, semen sisa, lempeng besi berkarat, potongan aluminium, gulungan tembaga, baju celana kotor, dosa rakyat, makian, sumpah jabatan.

Kucing disebut mempunya kemampuan refleks mengarahkan tubuhnya ketika jatuh dengan benar. Refleks itui dimiliki mereka ketika berumur tiga sampai empat minggu dan akan sempurna ketika berumur tujuh minggu. Refleks dapat dilakukan sebab kucing punya tulang punggung yang sangat fleksibel dan punya tulang selangka fungsional.

Di pojok depan pemukiman, di mana sampah ditumpuk, kucing-kucing menggaruk. Sampah dikuak, luka mati aromanya menyengat. Di sana juga kucing-kucing itu kawin dan makan-minum. Dulu, dikira memelihara kucing akan mengusir tikus-tikus yang bersarang di rumah. Ketika masih bocah, di Wanua saya sering melihat tikus dimangsa kucing. Tikus dimakan kucing, atau sekedar jadi permainan dia, tikus tidak berdaya.

Namun, di beberapa lokasi, sejauh ini saya temukan, tikus tidak lagi takut kucing. Ada suatu kesempatan kucing kecil kaget disamperin tikus sebesar dirinya. Kucing kecil itu jerit mengeong dan terbirit-birit sambil mengancungkan cakarnya ke sana-ke mari ke mana-mana memukul-mukulkan ekornya dengan kaku terbata-bata.

Ini beberapa catatan Sunquist, peneliti penulis soal kucing, dalam ‘Wild Cats of the World’: Felidae atau felids, yakni jenis kucing yang meliar walau ada yang dipelihara kaum manusia. Semua jenisnya disebut klade — kelompok taksonomi yang punya leluhur bersama dan semua keturunannya juga berasal dari moyang tersebut. Karnivora obligat ini selalu perlu diet daging untuk bertahan hidup. Selain singa, genus felids liar umumnya soliter; kucing domestik liar melakukannya, tetapi membentuk koloni kucing liar. Citah juga diketahui hidup dan berburu dalam kelompok. Tercatat, ada masa di mana felids yang umumnya hewan nokturnal, dan hidup di habitat yang relatif tidak dapat diakses. Sekitar tiga perempat spesies kucing hidup di daerah hutan, dan mereka umumnya pendaki tangkas. Namun, felids dapat ditemukan di hampir setiap lingkungan, dengan beberapa spesies yang asli daerah pegunungan maupun gurun. Felis Catus liar asli berada di setiap benua kecuali Australasia dan Antartika.

Kucing memangsa tikus, dulu. Sekarang ada fakta kucing mengabaikan tikus dan hidup damai dengan mengorek-ngorek sisa konsumsi kaum manusia, atau malah kucing dimanja pemujanya. Tikus punya cerita sendiri lemayan seru.

Dalam Animal Diversity Web disebut bahwa tikus ditemukan hampir di seluruh belahan dunia, meskipun banyak subfamili hanya bisa ditemukan di daerah tertentu. Tikus tidak ditemukan di Antartika atau pada banyak pulau yang terletak di tengah samudera. Meskipun tidak satupun dari mereka berasal dari Amerika, beberapa spesies, terutama tikus rumah dan tikus hitam, telah tersebar ke seluruh dunia. Tikus menempati berbagai ekosistem dari hutan tropis hingga tundra. Terdapat pula spesies yang hidup sepenuhnya di dalam tanah, di atas pepohonan , dan semiakuatik, tetapi sebagian besar merupakan hewan terrestrial.

Sekarang, tidak pernah lagi menyaksikan kucing berburu tikus. Itulah mengapa perangkap tikus dijual dan (termasuk kami) membelinya untuk keperluan memerangkap tikus-tikus yang dianggap menggangu kaum manusia. Teman saya cerita: Tikus-tikus sudah ada sejak dahulu kala, mereka sama tuanya dengan peradaban. “Sebelum orang mendirikan pemukiman, lebih dulu tikus-tikus sudah berkeliaran di area itu. Hutan dan tanah dirombak, lalu orang mendominasi semua tempat. Tikus-tikus dan animal yang dianggap pengganggu dihalau keluar karena dituduh memusingkan, boleh jadi sumber penyakit dan kesusahan.” Begitulah, sebagaimana tercatat di alinea pembuka dan berikut di aliea lanjutan, sebab perangkap tikus kami gunakan: gerombolan tikus melubangi kardus minyak, memangsa ikan goreng di tutup saji terkuak, melubangi bokor dan tong penyimpanan beras.

Kucing lenggang-kangkung ke sana ke mari seperti pejabat negeri dan fakta-fakta sumpah ingkar jabatan. Walau disogok apa pun, ayam goreng mentega, kambing guling, penganan enak, kue dan sebagainya, walau sudah diberi pita, diberi baju, diberi lonceng, kucing dipersolek, tetap mereka malas membebaskan rumah, kantor, dan pemukiman dari ancaman tikus. Begitu tingkah kucing sekarang. (*)