Saturday, December 27

Susastra

Remang Remang Rempang
News, Susastra

Remang Remang Rempang

26 September 2023 Oleh: Nanang Suryadi Penulis adalah Penyair Cyber Indonesia Gambar: Edit tangkapan layar terkait Rempang “AKU tak ingin membaca lebih jelas, karena tak ingin sakit hati, seperti menderu-deru gemuruh traktor dan teriakan dalam kepala,” katanya di hadapan gelas kopi yang kosong tinggal ampas dan asbak penuh puntung rokok. Penyair, penyair, mengapa tak kau tulis apa adanya getar dalam dadamu, gemeretak amarahmu, kegelisahan yang memuncak. apakah kau telah menjelma politisi atau pengusaha berhitung untung rugi? “Entahlah. Biarpun remang-remang, Rempang ada di dalam doaku...” Indonesia, 26 September 2023
Khotbah Alterasi
Susastra

Khotbah Alterasi

21 September 2023 Alterasi, berbagai proses alam yang mengubah komposisi kimia mineral: di sini, proses itu hanya melapukkan sajak, khotbah panjang lebar tidak berguna bagi mereka yang haus dan lapar berkepanjangan… Oleh: Dera Liar Alam RAUT malam manai: sajak-sajak merah tumpah di samudera di nyanyimu bedil senapan mesin pemunah menggertak pajak – kemiskinan itu proyek panjang dan kekal – ditagih kapan saja bila tak dibantah. Kumpul kita duduk melingkar, senda gurau, membanyol, melupa banting tulang dengan gelak kelakar. Intermezzo – alterasi: Ria, penjual tissue di jerambah sekitar kedai kopi modern – matanya was-was, tak mau dirinya direkam kamera. Saya ajak ngobrol. Dalam cerita dia menyebut lokasi, “Iya, saya dari Karuwisi, kami tinggal di situ dengan nenek. Orang tua kam...
Ajari Aku Menari Zapin
Susastra

Ajari Aku Menari Zapin

18 September 2023 Edisi solidaritas untuk masyarakat Pulau Rempang Oleh: Jamal Rahman Iroth Penulis adalah penyair penulis Purna Tugas Ketua KPU Bolaang Mongondow Timur Periode 2018-2023 INI zaman telah jauh dari abad tiga belas namun senyummu masih beraroma parsi memagut mataku dengan ayun lengan dan langkah mengiramakan sebentuk harap BILA kau sedia ajari aku menari zapin meski damai dawai pada gambus hampir putus dan riuh ketukan marwas bisa saja terampas BIAR kudekap kompang itu sebelah tangan sebelah lagi untuk membunyikan pagi dengan rentak biasa namun kau meminta rentak kencet sebagai jedah dari segala risaumu PERANGKAP wangimu tak terhindarkan, selalu mendesiskan angan dadaku penuh deru sedang angin tak henti kerlipkan kerudungmu andai bisa kuselipkan mimpi di situ T...
Minta Izin
Susastra

Minta Izin

10 September 2023 Oleh: Wild Dove Penulis tinggal di Hongkong IZINKAN saya berkuasa. Sebab bila sahaja saya berkuasa, maka saya berkuasa dalam kekuasaan itu sendiri: Pula di pusar kekuasaan hakiki. Bilamana saya berkuasa, di situ ada kekuasaan hal-hal yang dikuasai. Hendak dikuasai lanjut di kuasakan dan akan terkuasai. Camkan: Berkuasa, bila-bila kuasa datang. Tersediakan air susu ibu daripada emak-emak bertetek besar milik bapak-bapak tak berakhlak. Bersusu dari tajuk tak berbayar. Sementara, emak-emak bertetek besar menangis tiada sisa susu buat si Buyung. Maka dari hal-hal itu: izinkan saya untuk berkuasa, hingga tetes iler terakhir si Buyung di atas puting tetek emak bertetek besar. Lalu: Bukan kolam susu. Hanya lautan tetek-tetek kering kerontang bergelayut. Berkawan den...
Pagi Usang, Begitulah Tuan
Susastra

Pagi Usang, Begitulah Tuan

05 September 2023 Oleh: Dera Liar Alam Gambar: Kenangan pandemi yang rapuh di meja periksa. SUNYI pergi berpasang-pasang Memecah tembikar pagi usang Berita semacam buram. Berhalaman-halaman membincang bungkam: batu-batu, jalan di kampung kami praksis penghisapan berkali-kali kampanye menumpuk wajah kusam orang-orang bermindset seragam menadah telapak meminta jatah sumbang pembangunan. Sunyi pergi berpasang-pasang Memecah tembikar pagi usang Plural diadu pilkadal - pilih kadal - menelurkan jurang: Rakyat bertengkar keyakinan, tukang sihir bertelanjang di panggung pandemi, mengobral data penghuni miskin yang dimodifikasi sensus isi perut isi kamar isi hati. Sunyi pergi berpasang-pasang Memecah tembikar pagi usang Alasan realokasi. Sistem seperti lahan gersang Rakus air rakus cuan...
Cahaya Acak
Susastra

Cahaya Acak

02 September 2023 Kode 80. Oleh: Arman Yuli Prasetya Penulis adalah Penulis Tinggal di Bojonegoro Gambar: Langit tanpa kupu-kupu CAHAYA acak yang terjebak di langit sepi kupu-kupu turun membawanya menembus kabut lalu pagi datang seperti jalan panjang yang meninggalkanmu sendiri (*)
Dibungkam Jelang Pesta
Editorial, Susastra

Dibungkam Jelang Pesta

27 Agustus 2023 Menjawab ‘Jejak 20’. Ayat-ayat sudah dirancang untuk memenjara kata, membungkam argumentasi… Oleh: Daniel Kaligis Gambar: Suara didengar diabaikan. JANGAN ditanya mengapa dengung tanpa suara rakyat dilarang ‘manggung’. Sebab, panggung penuh sesak. Di sana para penunggu sementara melakonkan hantu penasaran bangkit dari kemalasan berpikir. Coba baca beritamu kemarin dan mulailah berpikir. Atau bila engkau enggan, mulailah bersandiwara sendiri. Matamu masih merah sisa kantuk semalam, dan di tiap cawan yang kau tinggalkan jejak bibirmu belum dicuci. Panggung-pun masih memanggil-mangil obrolanmu bacakan kesaksian masa depan sebagai ujaran kisah bersambung sejarah negeri seberang sudah kau singgahi dengan segala penat dan letih bercampur selingkuh kepercayaan. Pes...
Mengeruk Sisa
Susastra

Mengeruk Sisa

17 Agustus 2023 Oleh: Dera Liar Alam Gambar: Burgemeester Bisschopplein — Berderet tiga tukang sapu di Taman Suropati, Menteng – Jakarta, suatu siang. KOTA, mana kita sambang derita di bayang tekanan ternyata mewah dalam ingatan. Berlari dengan lambung ditombak lapar dan kerongkongan nyaris kering sembari menghirup bising di mana-mana. Ruang pagi nan hampa, perempuan-perempuan mengayun sapu memacu memicu hari tanpa bosan mengeruk sisa yang mampu dijangkau ujung. Kita, di depan meja reot menarikan tuts, mengeja sajak pengembaraan curiga, apriori, mengapa fakir ada di mana-mana dengan raut datar menertawai lukanya tak pernah sembuh. Lalu nujum menghujam nalar, mesin-mesin telah mengganti hati dan telepati: suatu ambang pagi kita jatuh cinta pada badan dan sekujur tubuh yang ran...
Rumah-Rumah di Balik Kabut
Susastra

Rumah-Rumah di Balik Kabut

13 Agustus 2023 Kode 52. Oleh: Arman Yuli Prasetya Penulis adalah Penulis Tinggal di Bojonegoro Gambar: Setapak tuju hutan KEMARAU ini berlangsung lebih lama. Pohon-pohon di hutan ini layaknya seorang pria yang tak pernah berjalan jauh dari rumahnya. Mereka berbaris tapi tak rapi. Burung-burung hinggap di dahan. Berkicau dengan buru-buru. Jalan setapak yang dulu pernah membelah hutan manjadi dua bagian yang sama panjang. Menuju rumah-rumah di balik kabut. Dengan sungai dan batu-batu hitam. Halaman yang ditumbuhi bunga-bunga tanjung. Seorang anak yang melewati jalan setapak itu. Mencari di mana tanah penuh cahaya itu berada. Ia melihat ketinggianmu yang menjulang dan kau melihatnya dengan diam. Seperti kabut dan angin yang memenuhi satu sama lain. Ketika kupu-kupu pertama l...
Angin Kemarau Memanggil Ibu
Susastra

Angin Kemarau Memanggil Ibu

11 Agustus 2023 Oleh: Dera Liar Alam INGIN, angin. kemarau panjang tiupkan dedaun: anak-anak bakar petasan kemerdekaan, lalu main layangan di petak tanah tunggu jamin sertifikat negeri kaya regulasi. Dewata, manakala lepas kurungan jadi penasehat, pimpin partai, bersiul, bersabda, berfirman. Tani nelayan bercocok-tanam plastik, membawa panen tanah ke pasar timbang harga terus naik orang-orang haus lapar dalam data tukang sensus gemuk: semua dipajaki, naik turun singgah sedot sembur muntah segala caci-maki. Racun sudah di ladang di sungai di danau di laut. Bisnis plastik telah diijon dari orde silam. Hutang, di pangkunya lahir gadget dan anak-anak instan: mie mie mie, begitu mereka memanggil ibu, menggoda pelancong dengan ukulele berdawai satu, seragam. Bila longsor banjir, kampa...