Saturday, December 27

Susastra

Puisi Tukang Jual Ayat
Sains, Susastra

Puisi Tukang Jual Ayat

08 April 2024 Oleh: Dera Liar Alam Gambar: Genetic Inheritance and Common Genetic Diseases Sumber: Kauvery Hospital DI SEKOLAH menengah, suatu ketika ‘mr.T’ bilang: “Coba periksa, dalam gen itu — tak ada unsur dosa, sebab dosa tidak menurun dan tidak menular.” Para siswa saling tengok, heran walau tak ada kritis bertanya. Tukang jual ayat juga ikuti acara, galau dan tidak yakin apa kata disebut dokter yang doktor itu. Saya memuja pepohon yang merindang di titik-titik jemu. Suatu ketika memuja batu yang dibongkar-bangkir jadi pecahan dan receh menyusun bangunan tempat para raja mendengkur sambil berfirman memarahi anak-anak yang haus lapar. Waktu listrik telah merajai wanua, ranjau semakin banyak dipasang. Namun kami telah jadi penyembah rice-cooker, tiga empat lima kali menun...
DI BAWAH BULAN PUCAT PASI
Susastra

DI BAWAH BULAN PUCAT PASI

01 April 2024 Oleh: Larasati Sahara Penulis adalah seniman Tinggal di Kota Lhokseumawe SETELAH malam purnama Kulihat bulan masih belum beranjak pulang Wajahnya pucat pasi, tatapannya mengambang Aku menyusuri jalan setelah fajar yang lengang Menghitung satu dua nafas berkejaran dengan waktu Lampu lampu jalan masih nyala kekuningan Siap padam ketika tak lagi dibutuhkan Serupa impian yang sering kali bermain di kepala seseorang Angin dingin masih menggigit tiang tiang listrik Sebuah hati terbelah di sepanjang jalan, sebelum sampai pada pertemuan L. Sahara, 220122
Kabut Turun di Meja
Susastra

Kabut Turun di Meja

17 Maret 2024 Oleh: Dera Liar Alam GELAS putih berkabut putih di seberang labuhan nun jauh Lensa memerangkap hijau dan biru Kampung berserak hunian anak-anak muncul dan hilang di antara dahan Dan jutaan biru gradasi bersambung teluk, awan, langit, samudera… Collocalia vestita bersarang entah di gua entah di kolong labuhan Visir senapan menggambarnya sekali sentak badai sasar letak otaknya Biru hitam putih berdarah… Kabut turun di meja bersama catatan murka, bengis, merah, asap Mezbah bersusun batu-batu, tanah air, dan tiang bendera Keramat sudah dimetrai dalam tafsir… Kita bercinta ilusi dilabur warna: badan, jiwa, gerak, geliat Dari meja pindah ke dipan – kabut bersetubuh nyawa Di atas nyawa... Badan berkeringat tafsir kejadian keramat Keluaran keluh dan luapan lava Gunung-gunu...
Bertutur Kun, Baiijiu, dan Pesta Lawan Persepsi
Budaya, Esai, Internasional, Susastra

Bertutur Kun, Baiijiu, dan Pesta Lawan Persepsi

08 Maret 2024 Tanggal seperti hari ini, 1942: Perang Dunia Kedua: Jepang merebut Rangoon, Burma dari Inggris. Tulang dogma, cetus Kun: Kaum kami itu kehormatan, itu nama saya. Dan sepanjang babad semesta semua manusia faktanya diturunkan oleh perempuan. Berserak di alam, lebih separuh sumberdaya bumi dihasilkan tangan-tangan dan pikiran kaum kami dan semua mengabu sejarah – mitos yang terus didiamkan pesta pora paternal… Oleh: Dera Liar Alam KUN namanya, dia perempuan, dan teman. Kami bersua sengaja, tentu karena kenal, bukan kenalan. Jadi akrab sebab saling senyum. Kemudian saling mengakrabkan diri pada situasi yang berulang, kadang basi. Bila ada obrolan tentang Kun, pun tiada pengaruh. Dia perempuan biasa dan telah beranak lelaki perempuan. Kisahnya diikatkan jenderal pada i...
TROTOAR BASAH
Budaya, Susastra

TROTOAR BASAH

27 Februari 2024 Oleh: Daniel Kaligis DI TROTOAR basah Duduklah seorang pengamen Menyanyikan masa depan “Negeriku,” katanya… Tawa memelas berderai Senyum kusam Rambutnya masai Perut tambun seperti nasib reshuffle Nganggur berjejal-jejal Hutang kiri Hutang kanan Hutang di depan Hutang di belakang Di trotoar basah Seorang pengamen berdiri bersama kawannya Nyanyikan masa depan Langit-langitnya Merah padam Putih pucat Tak ada gitar Tak ada ukulele Mereka bertepuk tangan Menanggapi iklan rokok Bibir berasap Bibir meratap Bibir membibir Bibir mencibir Bibirnya bibi Bibirnya tuan Bibir bertemu bibir “Negeriku,” desahnya Diperkosa... Kenangan sudah berlari, meninggalkan mimpi-mimpi buruk dan basah; “Pagi,” katanya, “berhentilah sejenak untuk lapar yang akan mendekam hingga mal...
Ara Bunna di Lereng Sirung
Politik, Susastra

Ara Bunna di Lereng Sirung

08 Februari 2024 Suatu malam di warung tepi laut saya menulis sajak: Kabir malammu, bintang kelana di atas laut hitam arus menampar. Empat lelaki duduk di pemecah gelombang, obrolannya tanjung: Tanjung Abila, Tanjung Warpandai, Tanjung Kalisalang, Tanjung Hambaroi. Penyadap nira lelah, diam, bicara dengan dirinya di bawah pokok lontar. Entah siapa, mereka dari titik biru, darah mendidih seberangi sejumlah negeri, membangun dermaga, menulis cerita. Puisi tentang asap yang tak pernah genap dan tak kunjung tamat, senantiasa kumat… Oleh: Dera Liar Alam Gambar: Sampan, anak-anak laut, dan gunung yang membayang. ARA BUNNA itu asap, kosakata dalam dialek Lamma. Senja terik di Kakamauta, kami di persimpangan arah Lamma, sepanjang pagi dan siang menyusur tepi Munaseli ke Baranusa, jal...
Malam Buta
Susastra

Malam Buta

02 Februari 2024 Oleh: Dera Liar Alam MENDERAP di tikung malam buta dan gelap: Nafsi Basi Sandiwara Hitam Putih Meneteslah... Sungai Samudera Kering Fatal Bebal Kesal 2010
Kucing di Rumah Bertingkah
Politik, Sains, Susastra

Kucing di Rumah Bertingkah

19 Januari 2024 Kucing di sini tidur di bawah mobil mewah, depan toko-toko dan ruko dalam pemukiman. Mereka mondar-mandir angkuh, kawin mawin saban saat, berteriak mengeong berpesta membangunkan subuh manakala tambur berganti suara toa tak kunjung usai siang sore malam… Oleh: Dera Liar Alam RUMAH bertingkat, kucing tidur di atapnya siang malam. Riuh kendaraan tidak dianggap, tikus berseliweran, cuek saja. Maka, dibuatlah perangkap, bukan untuk kucing. Namun, perangkap telah dirusak. Penghuni perangkap tak mau tersisa dalam kurungan, kawat-kawat yang dirangkai mengait kawat yang lebih besar kokoh digigit sampai putus. Bibir dan mulut berdarah, biar saja, tidak peduli, supaya celah boleh terbuka, jalan lari terkuak, agar diri boleh bebas. Dia melompat menerobos lorong dapur dari b...
Banjir Kampanye Setan
Susastra

Banjir Kampanye Setan

04 Januari 2024 Kalkulasi berapa banyak janji di zaman silam yang telah terpenuhi sekarang, semisal: fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara. Sumpah yang digariskan undang-undang sebagai amanat ditujukan pada penyelenggara negara, namun terus diingkari. Miskin tetap berderet, dan paling santer isunya adalah miskin cara pandang… Oleh: Dera Liar Alam Gambar: Hujan di Luar Kaca ORANG-ORANG gila diguyur hujan, saya menulis sajak: berkeliling kota, di jalan Garuda, kemudian ke arah W.R. Supratman, A.A. Maramis, Samrat, membaca nama-nama, kenal? Mungkin, bila mereka ngaku berteman. Spanduk-spanduk di bawah rindang, di lokasi sorot mata gampang pandang. Ini sajak kota — Coba hitung janji tertera dalam media kampenye: berjuang bagi kepentingan rakyat. Rakyat mana? Membela ...
Revolusi Kopi dan Pesta Sastra
Budaya, Susastra

Revolusi Kopi dan Pesta Sastra

31 Desember 2023 Ide mencuat, lalu bersua, Steleng Mawale 2010. Beberapa tahun kemudian menulis – rancu, bias, kata diperguncing sebab negeri sekian lama diwajahkan sistem terpusat. Susastra mesti dari ibukota negara, tidak. Kata, value yang berakar dari mana huruf-huruf itu berawal, bebas merdeka. Saya refrasa keyakinan itu dari wanua, tanah Minahasa 2018. Oleh: Dera Liar Alam PESTA Sastra di Tanah Leluhur 2010: bincang kami politis, memilih huruf sama seperti pilih menu, ini pun politis. Hari ini masih sama, bersama kopi berrevolusi. Gambar dan video selalu lebih menarik daripada text, tiba di 2018. Kopi memang nikmat, kenangan perbudakan — budak sejarah, budak teori, budak text. Dan kita merdeka menyapu semua tatapan. Nanti tengah malam Tomohon semakin dingin, diskusi kita t...