Friday, July 19

Banjir Kampanye Setan


04 Januari 2024


Kalkulasi berapa banyak janji di zaman silam yang telah terpenuhi sekarang, semisal: fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara. Sumpah yang digariskan undang-undang sebagai amanat ditujukan pada penyelenggara negara, namun terus diingkari. Miskin tetap berderet, dan paling santer isunya adalah miskin cara pandang…


Oleh: Dera Liar Alam


Gambar: Hujan di Luar Kaca


ORANG-ORANG gila diguyur hujan, saya menulis sajak: berkeliling kota, di jalan Garuda, kemudian ke arah W.R. Supratman, A.A. Maramis, Samrat, membaca nama-nama, kenal? Mungkin, bila mereka ngaku berteman. Spanduk-spanduk di bawah rindang, di lokasi sorot mata gampang pandang.

Ini sajak kota — Coba hitung janji tertera dalam media kampenye: berjuang bagi kepentingan rakyat. Rakyat mana? Membela kaum lemah. Pembela sendiri tak mampu bela diri dan lemah dalam argumentasi tentang kaum yang sengaja terus dilemahkan oleh regulasi. Reformasi argraria. Soal kocar-kacir sertifikat ganda dan seterusnya mafia tanah dikuatkan oknum-oknum berkuasa berpengaruh. BPJS gratis, wong berbayar saja susah direalisasikan dan bermasalah, gimana kalau gratis? Dananya dari mana? Pendidikan gratis. Orang tua siswa dan mahasiswa paling ngerti isu ini. Para miskin umumnya bersoal pada isu pendidikan minim, tapi semua tutup mata. Buka mata bila ada serangan fajar. Demikian pemandangan sekilas diterpa hujan dalam kota, dalam negara yang selalu punya alasan supaya tampak berwibawa beretika berharga diri.

Anda pasti punya daftar tak dihafal berapa banyak kampanye setan termasuk yang sudah dibabadkan dalam sajak kota di paragraf sebelum ini.

Mereda jiwa jalang, baca haus macchiato – caramel – es kopi gula aren – mocha – americano. Hi, choco-merry cheescake – porsi kacili. Cari dustbin depan Bastianos sambil tunggu puntung hangus.

Duhai kemanusiaan dipagari semesta bendera-bendera: upacara adat di tanah leluhur dituduh mengandung setan-setan. Hujan dalam tembang ummat disebut berkat juga akan dianggap karya setan bila telah hanyutkan para tertuduh gila miskin rumah miskin harta miskin mindset.

Kampanye akan panjang ceritanya. Bila nanti hujan berlanjut dan banjir di mana-mana ada selalu alasan yang menyalahkan para tertuduh sebagai penyebab dosa-dosa negara. Begitu selalu. (*)