Wednesday, June 19

Soekirman dan Enam Resep Kelanggengan


04 Januari 2024


…Tulisan ini bukan untuk kampanye…
…Cegah yang buruk berkuasa…


Oleh: Dini Usman
Penulis adalah pelukis dan penulis


SEBUAH pertemuan di ujung tahun digagas Deli Art Community (DAC) pada 29 Desember 2023 untuk bertukar pikiran dan melihat peristiwa yang terjadi di tahun 2023. Silaturahmi itu hanya dihadiri sembilan orang, yang lain menguap dengan banyak alasan. Walau sepanjang hari hujan turun di mana banjir menjadi hiasan peristiwa banyak orang, namun mantan bupati di kabupaten Serdang Bedagai tetap berkomitmen datang. Secara terbuka ia mengakui telah tujuh kali ikut kontestasi politik di Sumatra Utara.

Pertama kali dimulai tahun 2004, setelah lama mengabdi menjadi PNS, bergelut sebagai dosen di Fakultas Pertanian USU dan menjadi direktur di LSM Bitra, Soekirman memanfaatkan momentum perubahan dengan bergulirnya reformasi 1998, maju sebagai calon DPD. Tapi ia gagal.

Mungkin ia berguru pada manusia masa lampau. Sebutlah Christopher Columbus, penemu benua Amerika yang karenanya kolonialisme bercokol di tanah jajahannya. Columbus harus mendapat restu raja. Ia pun mengajukan proposal kepada Raja Ferdinand agar bisa berlayar di samudera dengan kapal-kapalnya. Berkali-kali proposalnya menemui penolakan. Akan tetapi orang Genoa ini rupanya pantang menyerah, begitupun ia masih mengajukannya ketika ada kesempatan. Pada kesekian kalinya ia berhasil mengembangkan layar menjelajahi lautan dan benua baru ditemukan.

Soekirman pun tampaknya tidak mengenal istilah putus asa. Di tahun berikutnya bersama Tengku Ery Nuradi, adik kandung Rizal Nurdin, mantan Gubernur Sumatera Utara, ia mengayuh sampan yang sama melaju sebagai pasangan untuk menempati posisi wakil bupati. Ternyata di kabupaten Serdang Bedagai itu ia berhasil mendapati kenyataan bahwa dirinya berada di posisi wakil selama dua periode.

Pada periode selanjutnya ia pun sukses menempati posisi  sebagai orang nomor satu, menjadi Bupati Serdang Bedagai satu periode, sementara rekannya melaju menjadi Gubenur Sumatra Utara. Sesudahnya selama ia tidak menduduki jabatan secara formal di pemerintahan, Soekirman ternyata tetap aktif melibatkan diri sebagai ketua atau pembina di berbagai organisasi. Tentu saja ini sebuah resep ampuh untuk menyelamatkan mentalnya tetap sehat secara fisik dan psikis.

Di tahun 2024 ini, Soekirman tetap memelihara gairah hidup dengan memanfaatkan moment menjadi calon legislatif daerah pemilihan Sumut satu (Medan-Deli Serdang-Serdang Bedagai-Tebing Tinggi) agar bisa berbagi pikiranpikiran dengan duduk di bangku DPR RI di Senayan. Sebuah pertanyaan sepertinya penting diajukan. Apa yang dapat dipetik dari perjuangan seorang manusia yang berangkat dari kaum jelata khususnya keluarga kuli kontrak generasi ketiga di Sumatra Utara ini?

Ada dua hal yang menyolok dari dirinya yang patut menjadi pertimbangan.

Pertama, endurance dalam diri Soekirman sangat tinggi. Endurance artinya daya tahan, alias tidak kenal kapok. Kapok, bahasa Jawa, artinya menyesal karena gagal. Banyak di antara politisi (istilah untuk mereka yang terjun ke dunia politik praktis seperti di partai politik, legislatif atau eksekutif), begitu menemukan jalan buntu, dinyatakan gagal meraih target, maka seolah jiwanya, pikirannya, kesadarannya seketika melemah, cepat putar kemudi untuk menemukan jalan lain. Masih ‘untung’ berhasil menemukan diri berada di pilihan hidup yang berbeda, banyak juga di antaranya ‘kehilangan kemampuan menemukan diri’— semisal dihinggapi setres, depresi dan menganggap hidup tidak menarik sama sekali. Lost control, bisa dialami siapa saja.

Bagi manusia dengan endurance rendah, memang memiliki anggapan tentang ukuran keberhasilan yang begitu sederhana, dengan hasil kongkrit sesuai harapan. Padahal ukuran keberhasilan tidak selalu segaris lurus, real yang bias dipertontonkan secara kasat mata. Keberhasilan bisa ditandai dengan banyaknya pengalaman pahit, kegagalan demi kegagalan, penghinaan dan kemiskinan yang parah. Pengalaman adalah bahan baku menciptakan ramuan untuk menata diri lebih obyektif, mengasah kekurangan dan ketidakmampuan dengan melecutkan mimpi yang belum diraih selagi masih hidup. Apa pun itu!

Kedua, sadar atau tidak Soekirman terus menyalakan gen perubahan pada dirinya. Ia dibentuk dari keluarga, lingkungan masa kecil dan remaja dari beragam kekurangan. Kata kekurangan sebenarnya begitu relatif, bergantung sepenuhnya dari tingkat kematangan spiritual tentang perspektifnya kemapanan. Kekurangan yang dimaksud mengacu pada keadaan yang serba kurang. Kurang dari aspek keuangan baik dari keluarga inti atau keluarga besar. Kekurangan motivasi karena sikap dan pandangan hidup orang tua yang nrimoan begitu kentara. Sikap ini sebenarnya bagian dari jenis kepasrahan negatif yang bila dipelihara dengan keliru, menutup peluang memanusiakan manusia seutuhnya.

Manusia bisa super optimal sepanjang dia tidak terganggu atau dibebani oleh perasaan minder, inferior, jongos, budak, kuli, merasa diri bukan siapa-siapa, tidak dari wangsa ningrat, jelas adalah golongan manusia yang menghina dan merendahkan kemanusiaannya. Jika seseorang memiliki filosofi hidup ‘ora patheken’ (tidak peduli) kalaupun berasal dari lapisan strata sosial kaum brahmana bahkan paria (kaum proletariat), jika punya prinsip dan tekad hidup harus berubah lebih baik, lebih cemerlang, lebih berarti, lebih mumpuni, maka trilyunan gen di dalam tubuh satu individu kita itu akan bergerak dan memberi alarm on dengan menyalanya perubahan yang kita maui.

Lepas dari banyaknya kekurangan sumberdaya, Soekirman tetap maju.

Untuk orang yang mau maju, diberkahi peluang-peluang yang memungkinkan dirinya unjuk gigi lebih besar. Secara simultan ia menunjukkan eksistensinya sampai saat ini.

Pernyataan Frans Magnis Suseno, pemilu bukan untuk mencari yang terbaik tapi mencegah yang terburuk berkuasa, memberinya inspirasi untuk terus bergulir. Ia juga tidak menampik tuduhan jika selama menjadi pejabat dirinya bukan orang yang suci dan bersih-bersih amat, tapi ia juga mengakui kalau dirinya mampu menempatkan diri dengan baik dan mengetahui bagaimana harus bertindak di antara situasi dan kondisi yang dihadapinya saat itu.

Anggaplah pernyataannya itu sebagai pembelaan diri, tapi sejauh yang bias dilihat sampai hari ini, rekam jejaknya terbilang baik. Jika tidak, bukankah pasal berlapis menjeratnya masuk di hotel prodeo? Bagi kelompok sakit hati, hal inilah yang dinanti.

Dalam perjalananya sebagai politisi tentu saja ia punya resep jitu supaya selamat. Banyak politisi agaknya kurang pandai meniti buih di lautan lepas sehingga berakhir di kurungan tembok dan besi. Walaupun kita tahu ada teori exceptional bagi penghuni yang memiliki pundi-pundi simpanan, persoalan hidup dalam penjara bukan sesuatu yang menakutkan. Mereka yang mengikuti paham exceptional itu pasti menerapkan kalau semua hal bisa diselesaikan dengan uang.

Bukankah begitu? Jika tidak, berarti saya yang keliru.

Mengapa Soekirman terbilang berhasil membina ikatan dengan pasangan politiknya waktu itu? Mengapa yang lain mudah bercerai di tengah jalan? Tentunya ia punya resep yang cukup ampuh. Banyak calon eksekutif yang berpasangan, segera menemukan perpisahan di tengah jalan karena ketidakmampuan mengikuti arus ganas intrik dan tarikan vested interest yang memicu gejolak batin.

Ibarat perahu yang sedang mengapung, bagaimana senantiasa selamat di atas gelombang. Untuk biasa demikian, maka kecerdasan mengamati gelagat enam faktor yang menyebabkan pasangan bertahan atau memilih menyimpang jalan di periode selanjutnya perlu dipertimbangkan dengan matang.

Adapun enam faktor kekuatan itu adalah: partai politik pengusung calon; tim sukses; birokrasi yang sudah mapan khususnya pihak protokoler, humas, kepala bagian umum yang dikendalikan oleh sekretaris daerah; pengusaha atau kelompok oligarki; kerabat dekat dan sanak saudara; pemerintahan di jenjang yang lebih tinggi.

Tulisan singkat ini salah satu catatan yang mungkin bermanfaat khususnya untuk mereka yang sedang bergandeng tangan dalam satu ikatan politik. Masih banyak catatan lain yang bisa ditulis sebagai bahan refleksi.

Di tahun 2024 ini, sebagai warga negara kita tahu bagaimana menjaga kewarasan dengan menentukan sikap politik pada tempatnya. Pun seandainya Soekirman berhasil menjadi salah satu legislator untuk DPR RI 2024, mungkin dia bukan yang terbaik, tapi setidaknya Indonesia terhindar dari jenis manusia yang terburuk. (*)