Friday, July 19

Anak-Anak Teluk Mutiara


01 Desember 2021


Oleh: Dera Liar Alam


Kecipak gelombang, sajak usang perdebatan: gunung-gunung hijau membiru, langit, gaib, tengkorak raja memimpin pertempuran – di masa yang lampau ada serang, erang, perang. Hanya, kisah silam tinggallah nyanyi seniman di musim-musim sepuh, kadang ikan menghilang, panen bersemayam matang jatuh hilang.

Derai masih saja ramah mencumbu pemukiman di sekujur asin air lautnya, hanyut kenang, bayang-bayang memanjang senja terbilang, lampu-lampu padam, lampu-lampu terpasang, gelap ranum, buah-buah asing di dermaga ujung kampung, mengeja Adang, Buom, Air Kenari, Fanating, Motongbang, Teluk Kenari, Binongko, Kalabahi Barat, Kalabahi Kota, Kalabahi Tengah, Kalabahi Timur, Mutiara, Nusa Kenari, Welai Barat, Welai Timur, Wetabua…


HUE berganti, memotret Collocalia vestita, burung-burung jenis itu ramai ketika senja tiba di tepi teluk. Di Mama Resto kami berdiskusi cara menulis. Ada Demas, Pontius, dan saya. Pontius menyebut misteri, tulisan-tulisan kuno di Pantar. Saya menjauh, menyusur jalanan arah Pasar Kadelang, belok ke jalan Buton, lalu berbalik, kembali berdiskusi, mencatat  data di notepad.

Ada saat Benno Caribera dan saya memetik gambar dekat pelabuhan. Senja, ufuk, warna yang selalu berubah waktu demi waktu tak pernah sama. Musim bunga, awal tahun selalu dominan hijau di Negeri Timur Matahari, lalu merah dan jingga kontras di sejumlah titik. Waktu yang lebih setengah tahun silam dari diskusi itu, lalu tulisan ini dimulai. Masih ingat cara Pontius bertutur Munaseli dan puing-puing cerita tutur yang dikenal masyarakat di sana.

Di laut, anak-anak bermain di atas perahu. Mereka melompat, berenang, naik lagi mengendali buritan. Menanyai anak-anak tentang permainan mereka di laut, saya dijawab dengan senyuman. “Bermain saja,” kata mereka. “Buat bubu, bikin perahu, belajar menangkap ikan, memancing, dan kawin,” kata Nurdin sambil senyum lebar, namun malu-malu.

Seharian di teluk, ada tiga empat kali melihat anak-anak bermain di laut. Berperahu mendayung mereka jauh ke tengah, nanti ada teriakan memanggil, mereka pulang.

Angin berhembus kencang ketika sore tiba, membawa sejuk. Air tampak teduh, riak-riak menyentuh sisi-sisi pemukiman, lalu laut sepi. Anak-anak yang bermain di teluk telah masuk huniannya.

Seperti disebut Nurdin, anak-anak itu belajar dari lautL berenang, berperahu, menangkap ikan, bersosialisasi dengan teman sebaya, dan seterusnya. Dan itu sudah turun-temurun seperti itu bila anak-anak itu tidak merantau, hanya tinggal di kampungnya.

Nurdin adalah nelayan kampung seberang. Dia tinggal di Batu Putih, Alor Barat Laut. Dia pengrajin perahu.

Tentang Collocalia vestita, menurut Jody Bourton, di Supercharged swifts fly fastest, yang mana ordo Apodiformes berkembang pada masa ‘Eocene’ di mana anggota keluarga yang kini punah masih ada, fosil umum ditemukan di seluruh bagian Eropa yang hangat, lokasi antara Denmark dan Prancis, contoh burung primitif Scaniacypselus dan yang lebih modern burung Procypseloides. Jenis prasejarah kadang dihubungkan dengan burung walet, seperti Primapus.

Burung-burung di beberapa tempat jadi penanda, jadi lambang. Orang-orang di sana juga mengenal walet sejak dulu. Walet ada di goa-goa karang jauh dari pemukiman, namun ada juga walet di bumbungan rumah. Beberapa yang terperangkap dan jatuh, jadi mainan anak-anak.

Zaman Eocene, sebagaimana disebut Jody Bourton, yaitu definisi yang dikenal sebagai skala waktu geologi – berlangsung 55,8 ± 0,2 hingga 33,9 ± 0,1 juta tahun silam. Merupakan kala kedua pada periode Paleogen di era Kenozoikum. Kala ini berlangsung mulai akhir kala Paleosen hingga awal Oligosen. Awal Eosen ditandai dengan kemunculan mamalia modern pertama. Akhir Eosen adalah suatu kepunahan massal yang disebut Grande Coupure, yang mungkin berhubungan dengan satu atau lebih bolide — atau meteor besar yang ditemukan di Siberia dan Chesapeake Bay. Seperti halnya periode geologi lain, stratum yang menentukan awal dan akhir kala ini terdefinisi dengan jelas, walaupun waktu tepatnya kurang dapat dipastikan. Penyebutan ‘Eosen’ berasal dari bahasa Yunani, ‘eos’ berarti fajar, dan ‘ceno’ bermakna baru. Merujuk pada kebangkitan mamalia modern yang muncul pada zaman ini.

Apakah kehidupan di teluk telah mulai jutaan tahun silam? Tidak tercatat. Hanya ada tutur masa lalu yang cenderung belum terlalu usang. Tercatat, zaman kolonial Belanda, 1911, pemerintah pindahkan pelabuhan laut utama dan pusat pemerintahan Alor dari Alor Kecil ke Kalabahi. Dataran luas, laut teduh. Hutan kusambi jadi pemukiman, jadi kota. Mr. Bouman jadi kontroler di sana. Sebelumnya, tanda kehadiran kolonial di Alor, hanya penjaga pos dan seorang serdadu berpangkat letnan. Manakala Mr. Bouman tinggal di Alor, berapa pegawai pemerintah Belanda ditambahkan di sana.

Saat berdiskusi, Pontius menyebut tentang izin-izin yang diterbitkan pemerintah untuk lokasi berusaha di sana. Saya menanya sampah, dan sisa-sisa yang mengapung dan tenggelam di laut, di tanah.

Hari ini, anak-anak masih bermain di teluk seperti sediakala. Cerita lebih kurang sama, burung-burung penanda pagi dan senja masih bermain di sana, di surganya yang elok. (*)