Tuesday, February 27

Purnama China

27 April 2021


Oleh: Dera Liar Alam


NEGERI-NEGERI di timur rayakan full moon festival pada pertengahan musim gugur. Orang-orang menikmat purnama di tepi danau atau di atas bukit, atau di tepi pantai: dewi khayangan turun ke bumi membawa ramuan panjang umur bagi manusia.

Di kampung saya, ada saat di mana bulan disebut ‘purnama china’, yaitu sehari dua sebelum full moon, dan sehari dua sesudah full moon, manakala bulan terlihat agak sipit. Senang sekali menonton fenomena malam purnama china dari punggung perbukitan wanua Kawatuan di mana gelombang di lour tampak gemerlapan keemasan. Dendang tercipta, se wewene ‘mengantar’, nyanyi ‘lolombulan menembo-nembo’. Kisah percintaan di zaman perang.

Nyaku koffië sajak, menyinta sepenuh cawan, kau, senyum kaku semesta yang memecah di kecipak rindu.

Tentang purnama, April sekian tahun silam, seorang kawan berbagi foto:

Jamal Rahman Iroth, 18 April 2011: Full Moon, satu jam lalu.
Lokasi: Kolongan Kalawat
Shoot With: Canon 550 D, 135mm f.2


Selalu senang dengan purnama, walau gamang: cahaya menjarah sekelumit nafsi, tenggelam dalam tanya: mengapa gulita. (*)


Notes:
Lour itu telaga, wewene adalah sebutan bagi perempuan di jazirah utara Sulawesi. Wanua itu banua atau kampung. Tembang ‘lolombulan menembo-nembo’ adalah lagu tentang rembulan yang mengintai dari balik awan. Nyaku itu saya.