Monday, May 27

Nabi Membunuh Kota


18 Juli 2022


Kepentingan regulasi mencengkram siksa rakyat. Demikian para nabi dirindu mewakili sesuatu harap, asa rakyat tertindas. Kemudian, lahir dia berproses, katanya wakil dari perjuangan hak-hak. Ternyata, nabi mendakwa yang diwakilinya dengan todongan uang.


Sajak Kelana:
Elang Pratapa & Dera Liar Alam


Gambar: Bayang-bayang kota dan nabi


PERSINGGAHAN persinggungan kami adalah nama jalan yang ramai di berbagai kota. Nama itu bangsawan, raden, jenderal perang zaman revolusi, dan panglima. Maka, bersahut kami. Hutan menggemakan teriak itu di lurah curam, membawanya bersama arus sungai-sungai, jeram.

Suatu waktu di hari terik, pedagang kaki lima dipinggirkan. Mereka bilang, “Ini penataan kota, ini penertiban.” Dipinggirkan dengan cara usir, rombak. Reruntuhannya berbekas di jalan, di halaman, di parkiran, di lensa yang berderit waktu dikokang. Nabi berdiri menceramahi tembok, semakin tinggi tiang-tiang menjulang jadi rangka, mati terbunuh suara-suara.

Elang terbang menukik, memekik dia. Pengawal-pengawal berbaris, pentungan ada dalam genggam mengeras, ereksi. Terpukul dua, tiga, mengungsi di negeri sendiri. Bersabda nabi tentang kematian dan ancaman, “Ini penataan kota, ini penertiban.” Bunga bangkai ada dalam deretan huruf berita kota, pahlawan kesiangan, katanya.


At 1:52am •


Para nabi di tiap zaman…
Tak pernah terhenti…
Dari pucuk-pucuk waktu
Ke pucuk sepi…
Merobek landscape hati di jumawa kota.


Lahir regulasi. Tumbuh sebagai onak duri di bayang papan advertisement. Pesta saban tahun, saban lima siklus musim tanam musim berbuah dan musim memaki. Nabi mengajar: jenderal itu rakyat dulunya. Dia mendidik, dia keluarga priyayi. Nama-nama didaftarkan, terima sumbangan. Terima kartu-kartu. Ucapan selamat ada saban pekan, ditulis rapi dalam kertas liturgi. Nabi berdiri di depan mezbah. Bajunya penuh tanda heran, bukan seperti pelangi.

Tukang parkir di dekat patung berbagi asap, menyuap gorengan. Lalu duduk menjauh dari kerumunan. Dia berkacamata hitam. Nabi ada di tengah rakyat, sebagai bayang-bayang.


At 3:34am •


Di belantara kaca ada dua pilihan:

☑️ Pecahkan ilusi
☑️ Atau, terus bercermin

Dan aku memilih berlari sebagai bayang-bayang…


Kota, kata dia, akan kiamat.
Namun sampah memperkuat argument banjir. Longsor sudah sering, mujizat mati. (*)

1 Comment

Comments are closed.