Wednesday, April 17

Miangas


04 April 2022


Blasteran, atau hasil perkawinan campur ada di mana-mana di bumi. Di pulau paling utara Indonesia, mereka itu disebut ‘kancingan’, kebanyakan dari mereka fasih Tagalog. Cara lama bahasa Tagalog menggunakan aksara Baybayin. Sebagaimana dicatat Pedro Chirino, 1604, dan Antonio de Morga, 1609, aksara tersebut dipakai untuk keperluan pribadi, menulis syair misalnya.


Oleh: Parangsula


SAJAK lama ada di sana, nama pulau, nama desa, nama kecamatan. Miangas memang unik, satu-satunya kecamatan di Indonesia yang hanya punya satu desa saja. Berdasarkan catatan sejarah, Miangas dikuasai Belanda sejak tahun 1677. Dalam peta Filipina 1891, pulau itu dikenal dengan nama Las Palmas.

Bandara di Miangas

Permanent Court of Arbitration (PCA), organisasi internasional didirikan tahun 1899 berbasis di Den Haag, Belanda. Melalui hakim PCA, Max Huber, pada 04 April 1928, memutuskan Miangas milik Hindia Belanda.

Menurut Visualisasi Data Kependudukan – Kementerian Dalam Negeri, tahun 2020 di Miangas ada 820 penduduk menempati pulau seluas 2,39 km², dengan kepadatan 343 jiwa per km².

Di Kabupaten Kepulauan Talaud, Miangas berderap bersama sejumlah kecamatan: Beo, Beo Selatan, Beo Utara, Damau, Gemeh, Essang, Essang Selatan, Kabaruan, Kalongan, Lirung, Melonguane, Melonguane Timur, Moronge, Nanusa, Pulutan, Rainis, Salibabu, dan Tampan’ Amma. (*)