Tuesday, May 28

Tag: Belanda

Kritik Marianne Katoppo terhadap penokohan Kartini
Esai, Estorie

Kritik Marianne Katoppo terhadap penokohan Kartini

21 April 2024 Marianne Katoppo, teolog feminis dan sastrawan mengkritik penokohan terhadap Kartini, seorang perempuan yang disebut pelopor emansipasi perempuan Indonesia tapi tak mampu melawan feodalisme kebangsawanan Jawa… Oleh: Denni Pinontoan Penulis adalah penulis Mengajar di IAKN Manado Editor: Daniel Kaligis Dikutip dari Kelung, 21 April 2019 MARIANNE KATOPPO, seorang perempuan, sastrawan cum teolog feminis asal Minahasa punya pandangan kritis terhadap Radeng Ajeng Kartini, perempuan Jawa yang diberi gelar sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia. “Setiap tanggal 21 April para gadis harus mengenakan pakaian daerah tradisional guna merayakan hari kelahiran Kartini. Bagaimanapun juga, semua orang tahu bahwa putri Jawa itu telah terbukti berbakti untuk membawa ‘t...
Padi di Oesao
Foto Pilihan

Padi di Oesao

15 Maret 2024 Oleh: Dera Liar Alam OESAO mengingat perjalanan panjang seharian, lalu jiwa disegarkan pemandangan elok, pematang nan sunyi, tangan perempuan-perempuan terampil menanam padi di petak sawah. Sore di Oesao, Kupang Timur. Membayangkan proses padi ditanam dan tumbuh di musimnya, saya mengutip artikel Arman Yuli Prasetya, kawan yang bermukim di Bojonegoro bersajak ‘Setelah Panen’: “Tumpukan jerami kau bakar sore ini, menjadi asap yang hilang ditiup angin. Keringat yang jatuh dari tubuhmu telah tumbuh menjadi tumpukan padi di pematang. Ketika hari telah surup, gelap semakin jelas kau lihat pada hamparan tanah ini.” Merekam cerita padi ditanam seumpama mengeja sejarah orang-orang yang ada di sana, pulau itu sebagaimana fakta tercatat pada bagian selatan dan tenggara Timor t...
Ibukota Timor Portugis, 1767
Foto Pilihan

Ibukota Timor Portugis, 1767

23 Juli 2023 Oleh: Dera Liar Alam Gambar: Pante Macassar, Wini. PERNAH di Oekusi merekam jejak kemarau. Tebing, karst, jembatan putus, pencari kayu bakar, dan sore nan syahdu. Menikmat tuak sopi moke Pante Macassar, Juli kerontang, kota di pantai utara Timor Leste. Babad perdagangan zaman silam, orang-orang mengenal lokasi ini sebagai Oecussi atau Ambeno - Vila Taveiro. Manakala Portugis pertama menjejak Lifau di Timor, tempat ini jadi ibu kota Timor Portugis hingga 1767. Ibu kota pindah ke Dili sebab Belanda terus saja merongrong posisi Portugis di eksklave Oeccusi-Ambeno. (*)
Banjir, Tangki Raksasa, atau Bangun tanpa Korupsi
Entertainment, Internasional

Banjir, Tangki Raksasa, atau Bangun tanpa Korupsi

07 September 2022 Tokyo bangun tangki raksasa, Curitiba atasi banjir dengan mengubah area rawan jadi taman dan danau buatan, di negeri kita bencana seperti dipelihara dan diteriaki doa-doa pengusir setan. Oleh: Daniel Kaligis Penulis adalah jurnalis penulis Editor: Philips Marx Gambar: climate refugee inside, sumber foto: delhipostnews BERDIRI berjejal depan Ngee Ann City, melintas Takashimaya ke arah Gucci, memandang langit Desember pucat kelam di atas Orchard. Lalu deras hujan membikin air menggenang di mana-mana. Ada peluit, dan orang-orang menepi. Nanti di depan Tong Building saya perhatikan, rupanya peluit dari petugas itu memperingatkan orang-orang supaya menyingkir dari katup penyangga di atas drainase. Petugas tetap berdiri mengawasi, katup miring sekitar 45 derajat ...
Miangas
Internasional

Miangas

04 April 2022 Blasteran, atau hasil perkawinan campur ada di mana-mana di bumi. Di pulau paling utara Indonesia, mereka itu disebut ‘kancingan’, kebanyakan dari mereka fasih Tagalog. Cara lama bahasa Tagalog menggunakan aksara Baybayin. Sebagaimana dicatat Pedro Chirino, 1604, dan Antonio de Morga, 1609, aksara tersebut dipakai untuk keperluan pribadi, menulis syair misalnya. Oleh: Parangsula SAJAK lama ada di sana, nama pulau, nama desa, nama kecamatan. Miangas memang unik, satu-satunya kecamatan di Indonesia yang hanya punya satu desa saja. Berdasarkan catatan sejarah, Miangas dikuasai Belanda sejak tahun 1677. Dalam peta Filipina 1891, pulau itu dikenal dengan nama Las Palmas. Permanent Court of Arbitration (PCA), organisasi internasional didirikan tahun 1899 berbasis di D...
Membakar Devaluasi Harga Diri
Editorial, Guratan, Opini

Membakar Devaluasi Harga Diri

10 Februari 2022 Logika nasionalisme diuji, sistem, penguasa, tanah dan wilayah, rakyat di dalam atau di luar. Bercita-cita, bercinta, lalu pasrah digorok pisau teori. Tanya, mengapa pengusiran peminggiran masih marak? Keyakinan, apa maunya membakar literatur. Mari kita menafisir devaluasi itu terkait harga diri rakyat dan negara… Oleh: Dera Liar Alam Penulis adalah jurnalis dan penulis Gambar: Seorang kawan, memotret ‘river merchants’. Diri jadi patung dalam kisah peminggiran rakyat. REPRESENTASI simbolik devaluation. Giliran ronda menyapu art market sepanjang semenanjung, gelombang merangkulnya jauh dalam history lupa. Di sana, sejumlah angsa berenang di danau peradaban yang jadi tragedi sepanjang abad: mereka masih menetap dan bersarang pada orde gagal move-on. Sudah berap...
Hollandia 1910
Estorie, Susastra

Hollandia 1910

19 Januari 2022 Ngarai, sungai, rawa ditumbuhi pepohon sagu. Mata airnya ada di Pegunungan Cyclop. Numbay dan Anafri bertemu, bermuara di Teluk Numbay. Mata angin sejarah menarik ditelisik, para petualang telah datang, mampir dan menetap, lalu ingin merebut. Dirangkum dari berbagai sumber. Oleh: Dera Liar Alam Editor: Parangsula Gambar: Dawn - Port of Jayapura, dipanah dari Aston. SUATU pagi di Bay of Bau O Bwai. Nyanyi rindu mengalun di antara kabut, puncak gunung-gunung, dan semerbak rimba. Berapa zaman berlalu, seperti menyeruak Nuuk, San Jose, Songkhla, Puerto Princesa, Quezon City. Bukan, bukan Greenland, bukan Kosta Rika, bukan Thailand, bukan Filipina, bukan di sana. Ini Papoea, ini di Jayapura. Tualang Ynico Ortis de Fretes dengan armadanya San Juan, 1545. Dalam pel...
Menuju Terminologi Baru
Guratan, Susastra

Menuju Terminologi Baru

17 Agustus 2021 Oleh: Daniel Kaligis Foto: Kepik Art Menggambar Indonesia Seraya mengedit tulisan, saya membaca sesumbar propaganda. Tahun 2011 artikel ini saya muat di Harian Suara kita, sambil mengenang: Saban Agustus orang-orang kita dikampungkan, terbabit ‘panjat pinang’. Tidak dipinang sudah dipanjat, pohon-pohon bertumbangan. Di atas pinang, berkibar bendera-bendera. Merdeka, teriak memekak hak-hak bengkak dijejali peradaban impor. Terminologi itu digemari, dan ramai di banyak sudut Indonesia. Demikian panjat pinang, dulu dan kemudian bila pandemi sudah usai, boleh berupacara dengan cara-cara. Keinginan dipinang, sekarang keinginan dikekang. Tinggal dalam gua peradaban yang hilang, tersenyumlah walau belum sepenuhnya merdeka… HARI ini, sembilan tahun silam: “Terminologi b...