Tuesday, October 4

Banjir, Tangki Raksasa, atau Bangun tanpa Korupsi



07 September 2022


Tokyo bangun tangki raksasa, Curitiba atasi banjir dengan mengubah area rawan jadi taman dan danau buatan, di negeri kita bencana seperti dipelihara dan diteriaki doa-doa pengusir setan.


Oleh: Daniel Kaligis
Penulis adalah jurnalis penulis
Editor: Philips Marx


Gambar: climate refugee inside, sumber foto: delhipostnews


BERDIRI berjejal depan Ngee Ann City, melintas Takashimaya ke arah Gucci, memandang langit Desember pucat kelam di atas Orchard. Lalu deras hujan membikin air menggenang di mana-mana.

Ada peluit, dan orang-orang menepi. Nanti di depan Tong Building saya perhatikan, rupanya peluit dari petugas itu memperingatkan orang-orang supaya menyingkir dari katup penyangga di atas drainase. Petugas tetap berdiri mengawasi, katup miring sekitar 45 derajat ke bawah, dan air hujan terhisap masuk drainase. Dalam waktu singkat, tidak ada lagi air tergenang. Saya keluar Tong, tuju Pesso, nangkring di situ seraya  ngobrol seputar hujan, banjir, dan lingkungan hidup dengan Charlie, Rivka, dan Denny Makaenas.

Intensitas curah hujan seperti menggulung perkara sama yang selalu berulang awal dan akhir tahun di banyak lokasi. Peristiwa yang didokumentasikan media dan jadi pembelajaran supaya bencana dapat diminimalisir. 16 Juni 2010, Singapura dihantam banjir. Sebagian besar area kota tergenang air, termasuk Orchard Road, Bukit Timah Road dan Little India, dengan air setinggi lutut. Disusul sembilan hari sesudahnya, Bukit Timah Road, Balestier Road dan Thomson Road kembali digenangi banjir. Hujan badai mengamuk menumbangkan pepohonan di sejumlah lokasi.

“Tahun 2010 saya di sini dan banjirnya parah sekali, namun pengelolaan lingkungan dan tata air hujan di sini baik. Sempat jadi masalah, cepat teratasi. Itu kali terakhir banjir di sini,” kata Charlie.

Kawan satu ini traveler, punya banyak info, jadi saya mencatat apa saja yang saya anggap penting, terutama ketika dia menyebut pengelolaan lingkungan dan pembangunan tanpa korupsi. Tunggu dulu, kalimat terkutip itu adalah percakapan 2014, Charlie dan saya ketika kami dengar kabar banjir bandang hantam Manado.

Saya berapa kali menulis tentang Singapura, menganggap informasi Charlie itu jadi penting sebagai bahan perbandingan, dan perlu verifikasi lagi apa yang dia sebutkan benar bahwa usai 2010 tak ada lagi banjir di Singapura.

Terlepas dari pernyataannya itu, setahu saya, Singapura masih pernah dihajar banjir berapa kali sesudah 2010. Berikutnya tentang ‘pembangunan tanpa korupsi’. Secara umum saya sepakat dengan apa yang disebut Charlie, bahwa pengelolaan lingkungan dan pembangunan di Singapura relatif baik untuk jadi pembanding bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Terkait banjir 2010 di Negeri Singa itu, saya mengumpul berapa literatur. Membaca dari The Straits Times, Senin, 19 Juli 2010, yang mana pemerintah Singapura, lewat Public Utilities Board (PUB) – Singapore’s National Water Agency – telah membuat review untuk mencegah banjir tidak terjadi lagi di Singapura.

The Straits Times membeber sejumlah kejadian banjir yang terjadi berulangkali di bulan sebelumnya, berikut metodologi penanganannya yang dikerjakan PUB dan pemangku kepentingan di sana.

PUB bertindak, dan dengan lekas menyelesaikan penyelidikan atas peristiwa banjir. Hasil penyelidikan menyebutkan, bahwa banjir disebabkan oleh badai hebat yang bergerak cepat di sepanjang Stamford Canal, dari hulu ke hilir. Kemudian Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air – yang menjabat saat itu, Yaacob Ibrahim, berbicara di depan parlemen tentang langkah-langkah yang akan dikerjakan dan yang sudah dilakukan.

“Pada 16 Juni, air meluap hingga 100 milimeter setelah hujan selama lebih dua jam di daerah tangkapan air Stamford Canal. Wilayah Orchard Road, tepatnya antara Cuscaden Road dan Cairnhill, menjadi area yang paling parah terkena dampak banjir dengan kedalaman 300 milimeter. Segera diatasi, dan air surut dalam satu jam,” ujar Yaacob Ibrahim, demikian dilansir The Straits Times.

Secara terbuka pemerintah Singapura menyebut penyebab utama banjir parah yang terjadi di Orchard Road pada Juni 2010, bukan hanya karena puing dan sisa aktivitas pembangunan yang menyumbat kanal, tapi juga karena desain dan daya tampung Stamford Canal bermasalah. Hal mana, persoalan itu segera ditangani.

Diberitakan Straitstimes.com, pada pukul 09.40 waktu setempat, luapan air pertama menuju ke sisi hulu daerah aliran Stamford Canal. Limpahan air hujan pertama mengalir ke kanal. Ketika air tersebut mencapai bagian tengah kanal – dari Cuscaden Road ke Grange Road, di waktu bersamaan limpahan air dari luapan kedua jatuh di daerah tangkapan pada pukul 10.10 waktu setempat.

“Intensitas curah hujan tinggi menyebabkan air naik dengan cepat dan meluap ke Orchard Road. Situasi ini diperparah adanya puing-puing yang terbawa ke dalam kanal oleh luapan pertama. Dalam tempo satu jam banjir sudah dapat dikendalikan,” jelas Yaacob Ibrahim.

Pemerintah kemudian membuat review, menetapkan langkah tindak yang akan dilakukan untuk mencegah banjir datang lagi.

Singapura tidak punya sumberdaya air alami. Di sana hanya ada sedikit lahan yang digunakan untuk mengumpul dan menyimpan air hujan. Untuk urusan air, Singapura melakukan real-time monitoring system di National Water Agency’s Control Centre, yang terletak di Environment Building di Scotts Road. National Water Agency’s Control Centre didirikan pada 2012, merupakan bagian dari Public Utilities Board – Water Systems Unit.

Dari PUB – Water Systems Unit itu ditampilkan semua informasi infrastruktur air di Singapura. Di sana ada 12 layar besar dan 16 yang lebih kecil dipampang di dinding, dan berbagai peralatan canggih yang terus dipantau tenaga ahli.

Informasi terkini air Singapura menyajikan peta terperinci pipa dan katup air, data tekanan pompa air, laju aliran dan kualitas air. PUB – Water Systems Unit, sebagai pengendali juga mengumpulkan informasi dari lembaga pemerintah lainnya, seperti radar cuaca di National Environment Agency. Semua informasinya dapat diakses bebas dari situs yang mereka tampilkan secara online.

Semua terkendali dari satu sistem. Pada saat hujan deras, sensor di kanal memperingatkan banjir, para insinyur PUB dapat mengambil kendali langsung kamera pengawas lalu-lintas otoritas angkutan darat melalui konsol dan joystick, untuk memantau dan mengendalikan banjir dengan lebih baik.

Medio 2011, jelang Hari Kemerdekaan Singapura, saya membuat satu tulisan: ‘Menuju Terminologi Baru’, dimuat Harian Swarakita Manado, sebagai catatan banding kemerdekaan Singapura dan Indonesia, menyinggung tentang pembangunan dan pengelolaan lingkungan kedua wilayah itu.

Dari media online saya tuangkan catatan itu. Singapura modern didirikan Thomas Stamford Raffles. Awalnya wilayah itu merupakan pusat pemerintahan kerajaan Melayu. Berdasarkan tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi menyatakan, ketika Singapura dibersihkan, bukit yang terdapat di situ telah dikenali sebagai bukit larangan. Di sana ditemukannya sebuah prasasti yang tak teridentifikasi dan telah kabur. Prasasti Singapura itu menunjukkan negeri itu telah menjadi sebuah pusat administrasi jauh sebelum tiba pihak Inggris. Prasasti itu telah dimusnahkan seorang insinyur Inggris. Namun, terdapat nota mengenai sebuah salinan tulisan tersebut yang telah diantarkan ke London tetapi gagal ditafsirkan.

Di antara abad enambelas dan kurun abad sembilanbelas, Kepulauan Melayu secara berangsur-angsur menjadi milik penjajah dari Eropa. Portugis tiba di Melaka pada tahun 1509. Dan pada abad tujuhbelas, Belanda telah menguasai kebanyakan pelabuhan utama di Kepulauan Melayu. Belanda memonopoli semua perdagangan rempah-rempah yang pada saat itu merupakan bahan perdagangan penting. Eropa termasuk Inggris, cuma mempunyai hak kecil terhadap perdagangan di sana.

Pada 1818, Thomas Stamford Raffles dilantik menjadi gubernur di salah satu pelabuhan Inggris yaitu di Bengkulu, Sumatera. Thomas Stamford Raffles yakin bahwa Inggris perlu mencari jalan untuk menjadi penguasa dominan di rantau ini. Salah satu jalan ialah dengan membangun sebuah pelabuhan baru di Selat Melaka. Thomas Stamford Raffles berhasil menyakinkan East Indies Company untuk mencari pelabuhan baru di rantau ini. Thomas Stamford Raffles tiba di Singapura pada 29 Januari 1819. Dia menjumpai sebuah perkampungan Melayu kecil di muara sungai Singapore yang diketuai seorang Temenggung Johor.

Agustus 2011 di kawasan Orchard catatan itu saya mulai, ketika pengumuman di televisi lokal Singapure memberitakan barikade payung akan dikibar rakyat Singapura, membentang lambang negeri itu akan berkibar di hari kemerdekaan negara bekas Straits Settlement Inggris, dan kini telah menjadi salah satu lokomotif ekonomi Asia.

Bukan tanpa soal ketika lingkungan alam dibenahi, juga model dan sistem pembangunan di negeri itu. Banjir tak semata segayung tumpah dan selesai. Saat hujan mendera 19 Januari 2017, dataran rendah masih jadi sasaran genangan air. Berikut wilayah Thomson Ridge, Paya Lebar, dan Tanjong Pagar dihantam banjir bandang. Paya Lebar memang langganan banjir. Lewat sebulan silam, pada 24 Desember 2016, air meluap hingga kedalaman 350 milimeter, dan area seluas 500 meter ditutupi air. Berita banjir itu serta amarannya disampailkan di website PUB, dan dapat dibaca di The Straits Times.

Pengalaman Kota Lain di Asia: Tokyo Bangun Tangki Air Raksasa

Jepang membangun tangki air raksasa bagi pertahanan banjir di Tokyo. Katedral banjir itu tersimpan dua puluh dua meter di bawah tanah sebagai bagian dari Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC), sistem terowongan sepanjang 6,3 kilometer dan ruang-ruang silindris yang melindungi Tokyo Utara dari ancaman banjir.

“Pada 1950 dan 1960-an, ketika Jepang tengah berusaha bangkit dari perang, pemerintah telah menginvestasikan sekitar 6-7 persen dari anggaran nasional untuk bencana dan pengurangan risiko,” kata Miki Inaoka, pakar bencana di Japan International Cooperation Agency, seperti ditulis Tribun News, 22 Desember 2018.

Berapa dekade terakhir, Tokyo sudah menyempurnakan cara mereka menghadapi hujan topan dan sungai bergejolak. Sistem perlindungan banjirnya rumit, namun dianggap sebagai keajaiban dunia. Tentu semua dikerjakan terencana. Tokyo sekarang punya belasan bendungan, waduk dan saluran air. Terowongan bawah tanah berdampingan dengan jalur kereta bawah tanah dan pipa gas di seluruh kota.

Saluran MAOUDC dan katedral banjirnya dibangun dengan biaya senilai hampir Rp.30 triliun adalah satu satu keunggulan teknik yang paling mengesankan di kota ini. Sistem itu selesai dibangun 2006 setelah pengerjaan 13 tahun, dan merupakan fasilitas pemecah banjir terbesar di dunia.

Curitiba di Brasil: Bangun Taman dan Danau Buatan

Curitiba menjadi inspirasi kota-kota lain di Brasil, bahkan inspirasi dunia.

Pengalaman pengendalian banjir di kota ini di tulis di Hot Topics Merdeka.com.   Disebut bahwa Curitiba memakai pola pembangunan Radial Linear-branching Pattern melalui kombinasi pengaturan zona lahan dan infrastruktur transportasi publik berupaya mengalihkan lalu lintas dari pusat kota dan membangun perumahan, pusat layananan dan industri dalam lokasi sumbu radial. Di mana Curitiba berhasil mengatasi masalah banjir dengan mengubah area rawan menjadi taman dan menciptakan danau buatan untuk menampung banjir.

Biaya yang dibutuhkan untuk strategi itu, termasuk untuk merelokasi wilayah pemukiman kumuh, diperkirakan lima kali lebih rendah dibanding ketika kota harus membangun saluran kanal banjir. Efek positif lain yang patut diperhitungkan; nilai properti dan penerimaan pajak di wilayah ini juga terus naik.

Curitiba adalah contoh sebuah kota yang dengan perencanaannya yang cerdas berhasil menghindari kerugian sosial, ekonomi dan lingkungan akibat pertumbuhan ekonomi, sekaligus berhasil meningkatkan efisiensi, produktivitas dan kualitas hidup penduduknya.

Pembangunan Tanpa Korupsi

Balik ke obrolan dengan Charlie yang saya paparkan pada pembuka tulisan ini. Poin penting yang saya sebut dan sudah anda baca di situ, yaitu, ‘Pembangunan Tanpa Korupsi’: Channel News Asia,melaporkan yang mana, di wilayah Asia Pasifik, Singapura berada di urutan kedua setelah Selandia Baru, yang menempati peringkat pertama sebagai negara dengan tingkat korupsi paling rendah dengan skor 89 poin. Skor tertinggi berikutnya di wilayah itu diberikan kepada Australia dan Hong Kong, di urutan tiga belas, Jepang di urutan dua puluh, dan Taiwan di urutan dua puluh sembilan. Data perihal “Corruptions Perceptions Index” itu dirilis Transparency International pada Rabu, 21 Februari 2018.

Di Singapura, pemerintah punya aturan ketat terkait pembangunan dan permasalahan lingkungan hidup. “Di sini, buang sampah sembarang dendanya tidak main-main, hilang seribu dollar kalau ketangkap. Bila ketangkap lagi denda berganda seratus persen, lalu dikasih bonus kerja sosial angkat sampah. Apalagi ada developer yang suka nakal melawan regulasi, boleh jadi diusir dari sini,” kata Charlie seraya terbahak ketika menyebut ‘bonus kerja sosial’.

Kini secara keseluruhan Singapura dilayani sistem sanitasi modern. Air bekas dikumpulkan melalui jaringan selokan yang mengarah ke kilang air daur ulang. Saat ini, ada empat kilang air daur ulang yang melayani lebih dari lima juta penduduk Singapura.

Saban tahun, lebih kurang 595 juta meter kubik air daur ulang dihasilkan. Jumlah itu setara dengan 238.000 kolam renang ukuran Olimpiade. Air daur ulang ini diproses dengan standar internasional yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kaki-kali berlari, menderas dari ruang-ruang bawah bumi, menyusur lorong-lorong kokoh, terus bergulir dari eskalator dan lift, berpindah dengan konstanta selaras menujuh perobahan. Sekeping pengalaman boleh saya resapi di bawah rindang pepohonan ketika mampir di depan One Fullerton, di mana tugu singa muntah air itu terlihat megah.

Hujan tak pernah dapat diprediksi. Demikian juga alam, akan terus bergejolak, bergemuruh, berevolusi, berevolusi, menemu baru yang adalah rumus abadi di semesta, walau tak ada makhluk di dalamnya. Tiap peristiwa hanya disebut bencana bila menyasar mahluk bernama manusia. Bantuan sudah mengalir bagi mereka yang terdampak. Itu saja?

Terbukti, ribu zaman berganti, doa-doa saja tak pernah mampu mengusir setan banjir dan iblis bencana. Kecuali direncanakan, dikerjakan dengan strategi dan langkah tindak cepat tepat. (*)


Ditulis dalam perjalanan, 03 Februari 2019