Wednesday, June 19

Menyinta dengan Sederhana


17 Mei 2023


Memetik teks, menera ulang beberapa bait Sapardi Djoko Damono, dan percik-percik cerita yang dikira usang dan hilang…


Oleh: Dera Liar Alam


Gambar: Bulan retak — Ferryaldo, 2013


SUNGGUH, mencinta sesuatu tanpa alasan tampak aneh. Coba kau terka, kapan cinta datang, kapan cinta menjadi kabur dan tanpa bekas, bila cinta mengeras dan tak dapat dibantah oleh alasan apa saja, biar mati sekali pun.

Demikian, saya memetik kata-kata ‘cinta’ yang disebut sederhana itu, “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu | Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Sajak ‘Aku Ingin’ ― Sapardi Djoko Damono, ternyata tak sesederahana keinginan biasa. Bait-baitnya mengisyaratkan cinta menghilang dan entah, tanpa bekas.

Jadi teringat sebuah cerita; dikisahkan rumah seseorang terbakar, hartanya musnah. Kandang ayamnya tinggal tiang-tiang rapuh. Dan, orang ini teringat, ada induk ayam beserta anak-anak ayam dalam kandang itu. Ia memeriksa sisa-sisa, ternyata di tumpukan debu sang induk ayam juga terbakar. Namun, dari balik kepak sayapnya yang sudah menjadi arang, anak-anak ayam perlahan menyeruak. Mereka tidak terbakar karena berlindung di balik kepak sayap sang induk. Cintakah, atau naluri sang induk? Sulit diterobos cara pikir ‘sederhana’, hanya induk ayam, hanya ternak sederhana; walau demikian, mampukah kita mengambil pelajaran dari tragedi induk ayam itu? Menjadi pelindung orang-orang di sekeliling kita, keluarga kita, kerabat kita; meski kita sendiri menjadi sesuatu yang tidak lagi berharga dan mati?

Kembali pada sajak Sapardi Djoko Damono. Saya menemukan satu lagi dari sekian judul yang pernah ia tuliskan memuat kata ‘sederhana’.


Ini dia, Selamat Pagi Indonesia:


“Selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk dan menyanyi kecil buatmu. aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu, dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam kerja yang sederhana; bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal. selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah, di mata para perempuan yang sabar, di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan; kami telah bersahabat dengan kenyataan untuk diam-diam mencintaimu.

Pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu agar tak sia-sia kau melahirkanku.

Seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya. Aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan, merubuhkan kesangsian, dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak zaman yang megah, biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat, para perepuan menyalakan api, dan di telapak tangan para lelaki yang tabah telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.

Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil memberi salam kepada si anak kecil; terasa benar: aku tak lain milikmu”.


Pernah terbersit dalam renung, bertanya tentang diri sendiri. Tentang negeri yang dalam kata-kata kita menyebut, “Aku cinta kau, Indonesia”. Aku cinta padamu. Menjadi milik selamanya, dalam kata, lalu terpisah oleh berbagai sebab, situasi dan alasan.

Siapa Sapardi Djoko Damono? Ia adalah pendiri Yayasan Lontar, lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Pada medio 1986 menerima anugerah SEA Write Award. Beberapa puisinya sangat populer: Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi beberapa karya Sapardi Djoko Damono.

Alasan ‘sederhana’, mengapa saya menuliskan kata-kata ini, karena pada hal-hal sederhana sesungguhnya sudah membuncah berbagai perkara besar dan maha dasyat. Kesederhanaan membuat cinta menjadi tidak ternilai harganya.

Walau! Cinta masih tak terselami, kita masih terus mengagungkannya. Dari rangkai huruf menjadi kata, lalu kalimat, maukah kita terus merangkai tiap-tiap huruf itu menjadi cinta, lalu mengimplementasikannya? Boleh jawab sendiri. (*)


Tulisan ini diterbitkan TOUN Magazine, medio 2014