Wednesday, June 12

Kesurupan Nonton Propaganda Neraka


27 Mei 2024


Oleh: Daniel Kaligis


TO HELL AND BACK adalah biographical motion picture dari Audie Murphy, anak petani miskin Texas Timur Laut yang jadi serdadu dan terlibat perang. Film dengan genre sama terdapat di Call Me Anna diperankan Patty Duke – The Bob Mathias Story diperankan Bob Mathias – Alice’s Restaurant diperankan Arlo Guthrie – Private Parts diperankan Howard Stern, etc. Anda juga boleh telisik The Sky is Pink, film biografi berbahasa Hindi India yang disutradarai Shonali Bose, 2019.

Saya membandingkannya dengan VS7H, yang dilebel ‘diangkat dari kisah nyata’.

Film ditonton jutaan orang. To Hell and Back pernah diputar berhari-hari di tanah Minahasa manakala pergolakan sementara menyala, era 1950-an. Papa HNK, penyintas zaman pergolakan, berkisah tentang para belia yang memanggul senapan dan terlibat perang karena terpengaruh nonton To Hell and Back, “Latihan sehari dua kemudian belajar pegang senjata, jadi serdadu. Memutar-mutar pistol di jari dan gengamannya — bergaya laksana cowboy mengejar pemangsa gembalaannya — berdiri sambil menembak di gencar deru desingan mesin perang. Banyak yang mati konyol, terbunuh tanpa ilmu.”

Terlanjur jadi tontonan, padahal ada data fakta terabaikan. Atau, malah tontonan dengan tegas memelintir fakta-fakta. Tontonan sahih ditonton, saya, menonton dengan cara saya.

Dalam film, anda menonton konflik disajikan penulis naskah dan sang sutradara. Saifin Nuha, dikenal sebagai Alex Komang, aktor terbaik dalam perannya di film ‘Doea Tanda Mata‘, 1985. Alex pernah bilang, “Salah satu hal penting untuk menjadikan film Indonesia diterima oleh masyarakat adalah dengan mengangkat masalah sehari-hari yang ada di sekitar kita.” Kami pernah ‘se-panggung; medio 2013: Alex, Dewi Irawan, Akhlis Suryapati, Alex Ulaen, dan saya, ketika itu bersama membahas film, memberi masukan, mengeritik film dan tontonan.

Balik ke soal VS7H. Mungkin saja isu yang diangkat dalam film itu adalah ‘masalah sehari-hari yang ada di sekitar kita’. Kritik saya untuk VS7H manakala tontonan itu disebut sebagai ‘diangkat dari kisah nyata’. Padahal ada data-data yang abai ditampilkan, dan justeru masyarakat penonton lebih tertarik pada adegan ‘kesurupan’ dan menganggap hal ‘kesurupan’ itu sebagai fakta. Pseudoscience? Apakah ada roh-roh yang dapat dimintai keterangannya – memberi data fakta – di lembaga pengawal hukum di seluruh dunia untuk verify kesaksian-kesaksian dan bukti? Sudah ribuan tahun ‘arwah’ atau setan kesurupan itu tidak dapat dibuktikan dalam dunia nyata.Ingatan manusia perlu diuji dengan data, fakta, dan bukti-bukti.

Kemarin, 26 Mei 2024, dikabarkan RRI, lebih dari lima juta orang telah menonton VS7H. Dasyat! Cuan mahakuasa, di balik ‘kisah nyata’ ada juga ‘nyata’ kasus hukum dan soal keadilan yang sementara ini ramai diperbincangkan masyarakat dan dibahas berbagai media.

Bersambung. (*)