Sunday, July 14

Gerilya Mesin Perang


04 Maret 2023


Interupsi masih sama, pasukan perdamaian terus saja menenteng proposal project dan senjata. Padahal, dewasa ini orang-orang sebenarnya sudah tak kaget lagi dengar desing mesiu, cuma prihatin bila perdamaian diselesaikan dengan mesin perang. Dan ini artinya perang memang tak pernah akan berujung bila tidak ada niat dari penguasa dunia yang tetap bermain di air keruh penindasan rakyat miskin tak berdaya…


Oleh: Daniel Kaligis


Gambar: Edit patung bersenjata


SUATU masa, 2016, kami diskusi gambar mesin perang canggih. Noon di Tea Bar, sambil menatap laut, kembali mengulang catatan diskusi waktu itu, saya ingin berbagi dengan anda saat ini. Nanti anda dapat membacanya di bagian bawah tulisan ini, setelah saya menggambarkan situasi tukar pendapat dengan para sahabat.

Anna Maria, kawan saya yang bermukim di London – saya memanggil dia Antje, dia bilang tentang peralatan perang itu, “Keuren emang dan America sudah punya something similar kalau ini punya Israel aku enggak kaget lagi.”

Mesin perang canggih. Menyeringai taring-taring, cakar-cakar raung bagai anjing liar berebutan tulang. Begitu Geovani Nomura Iskar membayangkan bila pertikaian perang memanas. “Prihatin dengan situasi, hasrat penguasa negara-negara yang menggelora.”

Pengalaman silam. Beberapa kalangan masih menilai perang saudara yang terjadi pada 1957-1961 sebagai interupsi terhadap kekuasaan dan upaya mengedepankan otonomi daerah; dampak perseteruan di semua tataran hingga di tingkat akar rumput tak dihitung — psikologi sosial, material, politis, dst. Latar, skenario di belakang layar medan pertikaian dibahasakan lain oleh kitab sejarah sebagai gerakan otonomi, lalu generasi yang lahir kemudian enggan beranjak dari memori basi penyeragaman sistematis terstruktur. Mengapa? Sangat nyata, perang telah jadi industri. Perang adalah proyek pembungkaman orang-orang yang tak mampu melawan, saling serang siapa saja yang mau jadi utama, menang, dan berkuasa.

Masuk pada ruang 2016: DECLARE || global financial crisis, billions of human beings living below the poverty line, thousands dying needlessly from war, malnutrition or easily curable diseases and thousands more dying… | Namun, history pernah dibongkarbangkir semau orde…

Dengar! Soal silam tentang pergulatan pemikiran manakala perang merasuk.

Bekas suraro — dialek di wanua untuk menyebut serdadu itu disebut suraro – bahkan ada yang, mereka, yakni para bekas suraro itu “Nyanda pernah dapa doi pension deng stow nyanda pernah pension sampe sekarang.” — Mereka bilang, masa silamnya adalah neraka pergolakan: perang saudara, battalion-battalion kompi-kompi baku anti, dinding berkuping, manusia memangsa manusia…

Stockholm International Peace Research Institute at 15 Apr 2013 announced that the year 2012 saw an estimated US$ 1.750.000.000.000 spent on weapons and the military machine.

Disadari, ke depan, uang dan sumberdaya akan terus berhambur untuk mencipta dan membeli mesin perang. Dan fakta ini akan kita dapat verifikasi dengan penelitian, evaluasi, serta pembuktian. Begitu.

Tempo hari, Pace bercerita. “Seandainya kami gunakan strategi gerilya dalam pergolakan, kami menang waktu itu.”

Seiring waktu, cerita itu merambat sebagai dongeng, karena perang ternyata politis. Surarosuraro disuruh membunuh sesama anak manusia atau bahkan mereka juga sering jadi korban perang demi uang yang mengalir pada para bengis yang berkuasa dan haus kekayaan. Terbukti.

Berguman. “Everything will change, but we have to recognize that the system we live in today is broken and is irreparable because it does not value human life: it only values money. Sistem rusak, alam rusak. Manusia dihargai dengan uang.

Altje Wantania miris berguman dalam tanya dan memberi asumsi terhadap kekhawatirannya, “Apakah semua mesti diselesaikan dengan perang? Perang dibayar perang, punah kehidupan.” Altje melukis, menulis sajak. Dia seniman, hidup dan menetap di wanua. Tempat dia tinggal dekat telaga tua penuh kenangan, sekarang telah digerogoti gulma nan subur.

Begitu cara kami berdiskusi, bertukar informasi, mengumbar rasa, data. Bercanda tertawa, atau menangis bersama. Kegetiran senantiasa menumbuhkan kegetiran baru, sehingga kita butuh lupa. Lupa pada kegetiran yang tak penting, dan tetap terjaga. Bergerilya melawan diri sendiri. Berdamai, dan melawan perang dengan teks cinta kasih.

Demikian adanya. Video yang kami diskusikan telah dihapus oleh pihak yang menabur propaganda. Namun, diskusi tentang uang dan kekhawatiran tentang harta masih tetap tinggi. Uang jadi mesin perang. (*)