Friday, June 14

Bila Bersua Kenangan


18 Juni 2021


Oleh: Linda Christanty
Penulis adalah Penulis dan Sastrawan


Hutan-hutan yang hilang tidak mungkin kembali seperti sediakala. Percobaan-percobaan senjata kimia turut memperparah keadaan bumi. Gempa, tsunami, ledakan gunung berapi, ataupun tumbukan meteor turut menyumbang kerusakan fisik, tetapi kerusakan-kerusakan terbesar disebabkan manusia.


TIAP kali melihat langit, saya membayangkan betapa banyak misteri yang meliputi bumi dan luar angkasa kita.

Alam semesta yang berisi galaksi-galaksi, planet-planet, bintang-bintang, materi-materi dan energi-energi itu, terus meluas, bukan menyempit atau menyusut. Energi misterius yang disebut “energi gelap” membantu proses perluasan alam semesta. Dengan demikian, batas adalah mustahil. Tanpa batas atau tak berhingga adalah gambaran ilmiah tentang alam semesta.

Namun, sejak lahir kita dibesarkan dalam konsep “batas” dan mengalami hukum gravitasi, yang tanpa itu segalanya berbenturan. Kita tinggal di sebuah rumah, di lokasi tertentu, di satu kampung atau kota, di bumi, di sebuah planet. Inilah batas. Ada batas kebun. Ada batas tanah. Ada batas negara. Jangkauan mata kita terbatas. Pendengaran kita terbatas. Kita juga mengenal rasa lapar, sebagai batas untuk mulai mengisi perut, dan rasa kenyang, sebagai batas untuk mengakhiri kunyahan. Saat memompa balon tanpa “batas”, balon pecah atau meledak. Kita sukar memahami alam semesta.

Konsep “batas” ini berlawanan dengan konsep  “kekal”, yang sering disebut “lestari” atau “berkelanjutan”.

Bumi tidak kekal. Kerusakannya seringkali tidak dapat diperbaiki. Tambang-tambang mineral tertentu yang dibuka atau digali membabi buta mengeluarkan radiasi berbahaya, sedangkan manusia hanya bisa bertahan hidup oleh paparan radiasi tertentu, begitu pula hewan dan tumbuhan. Hutan-hutan yang hilang tidak mungkin kembali seperti sediakala. Percobaan-percobaan senjata kimia turut memperparah keadaan bumi. Gempa, tsunami, ledakan gunung berapi, ataupun tumbukan meteor turut menyumbang kerusakan fisik, tetapi kerusakan-kerusakan terbesar disebabkan manusia.

Manusia sakit, menua dan mati, tetapi alam semesta tetap ada. Meski bintang-bintang hancur, bintang-bintang baru terus lahir. Menilik tabiatnya, ia makhluk hidup, bukan mesin.

Baru saja saya menonton film tentang penjelajahan manusia dalam pesawat antariksa. Terbayang suatu hari bumi tidak dapat dihuni lagi.

Udara terpolusi berat, sungai tercemar logam berat, laut penuh sampah dan limbah, dan virus-virus buatan akibat perang biologi atau perang populasi nyaris tak tertanggungkan tubuh manusia.

Terdorong naluri bertahan hidup dan berpetualang, sekelompok ras manusia membangun koloni di luar bumi. Mereka melanjutkan sejarah kita. Setelah itu mereka mulai berkembang biak, melahirkan keturunan-keturunan yang kelak juga merusak tempat hidup baru ini, mungkin planet atau bintang lain.

Pengulangan-pengulangan terjadi.

Batas hidup manusia di bumi adalah kematian. Sejumlah orang yang saya kenal sudah meninggal, karena berbagai penyakit. Mereka yang masih hidup berusaha memperpanjang umur melalui makanan, olah raga, meditasi, dan rasa gembira.

Sebagian takut mati, karena tidak terbayangkan hidup sesudah mati itu seperti apa.  Adakah pohon-pohon pendek berbuah lebat dan lezat yang dapat dipetik kapan saja? Adakah kuali raksasa dengan air mendidih yang siap menjadikan manusia sebagai manusia rebus? Saya tidak mengkhawatirkan semua itu.

Ketika mempelajari agama waktu kecil, saya diperkenalkan kepada konsep surga dan neraka. Saya juga tidak tertarik.

Ada hal yang jauh lebih menarik dan dijanjikan oleh agama keluarga saya, bahwa setelah kematian anak-anak dapat bertemu kembali dengan orangtuanya. Saya hanya khawatir tidak dapat bertemu orangtua saya lagi, atau dipersulit. (*)


Editor: Daniel Kaligis