Tuesday, June 18

Bermain Api


08 September 2023


Di bilik berpendingin, anak-anak tenang, terhanyut pada gadget yang telah mendiamkan mereka sekian lama – entah kreativitas mereka terpangkas atau sementara dibangun didirikan…

Suatu sore jelang gelap saya melintas jalan-jalan kota, mengitari gang-gang dan menonton permainan sedemikian kaku…


Oleh: Daniel Kaligis


Gambar: Tiang menyanggah pasak anak-anak bermain.


NYALA api tidak kentara, sebab gulita dan musim menyamarkannya — sepintas menghitung, satu, dua, tiga, empat wajah tersamar sore yang usur, lampu-lampu sudah menyala di jalan-jalan, di ruang, di bilik, di sepanjang pesisir ramai mengurusi jualan berkemasan plastik. Dan, saya mengeja sajak: dua bocah di tanah bermain api – berapa kawan petualang mengirim cerita: The Lahaina wildfire was one of four blazes that broke out on Maui. Kabar kabut konspirasi, padamkan cocoklogi. Seperti itu, sajak koffie bercampur vodka.

Nyala jadi nyanyian, anak-anak bermain, api meninggi kemudian padam tinggal asap. Stimulasi berbagai cara, pendidikan punya kurikulum sendiri apakah ini arahnya mendukung anak-anak pada multiple intelligence? Berharap cara dapat menstimulasi kecerdasan berbahasa, visual, gerak tubuh, musikal, emosi intrapersonal, dan seterusnya.

Stimulasi dari kurikulum itu kontrak dengan lembaga pendidikan negara atau penyelenggara siapa saja yang tidak pernah diutak-atik, jarang dikritisi, mungkin pernah dievaluasi? Kontrak itu boleh jadi merampas waktu dan kesempatan bermain dan stimulasi alam semesta. Hasil dari kontrak itu sudah sangat jelas: budak-budak kapital, pesohor akumulasi produk lapar haus uang, nilai yang ditumpuk bagi penguasaan sumberdaya sepihak.

Stimulus malam baru mulai, anak-anak bermain di suatu ruang, di bilik, pindah atau jadi tontonan. Mereka tidak selincah generasi sebelumnya. Kita mungkin saja keliru menilai. Atau jangan-jangan permainan yang sekarang telah bertumbuh sebagai ‘trigger’, api yang sementara membakar zaman ini untuk jadi santapan robot-robot masa depan yang telah tiba sekarang tanpa mampu dipermainkan.

Mari kita ulangi: kurukulum sebagai pola logis yang jadi kontrak anak-anak sebagai peserta didik dengan penyelenggara pendidikan, siapa saja, bisa negara atau lembaga tertentu. Fakta dari hasil didikan lembaga bernama sekolah itu ada di masyarakat kita: Maka, uji, evaluasi.

Jangan-jangan kontrak itu boleh jadi telah merampas waktu dan kesempatan bermain dan stimulasi alam semesta terhadap kita dan anak-anak kita generasi penerus bumi. (*)