Friday, April 19

Bayang di Teluk


28 Januari 2023


Oleh: Dera Liar Alam


ENTAH diingat, suatu sore saya menata kamera untuk memetik cahaya di nadir, memintalnya sebagai gambar — bayang itu sudah sering berada pada titik itu, di sana: 12° below the horizon, mengenang seseorang yang bercerita pengalaman kegilaan manakala jatuh cinta. Berkali-kali mengalami dan terus mencinta, kisah ini tentang sajak silam yang pantulannya menjadi bayang di teluk.

Perjumpaan teks karena gambar, Jamal menulis tentang sesuatu peristiwa:

Lalu kehidupan katamu memang mesti dirayakan
Sedang di sini belum kucium bau pesta

Justru muncul serupa cemas pada sisa usia
Melekat di detak hari-hari
Merambati ruang hampa ego sendiri

Lalu rindu sebatas runtutan kata-kata
Terbaca oleh sesiapa
Namun dengan ejaan berbeda

Hidup dalam realita
Adalah derita

Begitu, Jamal Rahman Iroth, 28 Januari 2019.

Menjawabnya sepotong saja, kemudian bertanya kabar:

Duhai,
Semisal rindu adalah kata

Pesta sudah berkali…
Di tiap desah huruf memecah cemas berulang-ulang
Lalu mati kita digambar dipahat dilebur pabrik-pabrik propaganda musnah. (*)