
16 Desember 2025
O ya, tentu, kita tidak sedang mengembara di padang pasir, dan tidak menunggu mujizat turun dari langit. Namun kita hidup di tanah yang subur, yang dulu ditopang oleh hutan, oleh akar-akar yang menahan air dan menjaga keseimbangan. Tanya bencana di tanah kita.
“Maaf, kami tidak punya tongkat Nabi Musa,” kata Presiden.
Oleh: Pidar Lingi
Penulis tinggal di Poland
KALIMAT itu terdengar sederhana, bahkan lucu sekaligus dungu. Namun, dalam ingatan kolektif kita, tongkat Musa bukan sekadar sepotong kayu. Ia adalah simbol: penopang perjalanan, perantara mukjizat, dan lambang petunjuk.
Dengan tongkat itu, Musa memukul batu, lalu dari batu yang keras memancar dua belas mata air — cukup bagi seluruh kaumnya. Dalam tafsir batin, tongkat itu adalah Taurat; batu adalah hati yang membatu; dan air adalah rezeki — rezeki terbesar berupa iman dan kepercayaan pada petunjuk.
Jika demikian, maka ketiadaan tongkat bukan semata soal alat, melainkan soal arah. Seolah yang dikatakan bukan ‘kami tak punya tongkat’, melainkan, ‘kami tak berpegang pada petunjuk’.
Baca juga:
🖇 Death Note
🖇 Anjing berkaki Tiga
🖇 Sihaporas Diserang, Tutup TPL
🖇 Ibu Hutan
Kita memang bukan kaum Bani Israil. Kita tidak sedang mengembara di padang pasir, dan tidak menunggu mujizat turun dari langit. Namun kita hidup di tanah yang subur, yang dulu ditopang oleh hutan, oleh akar-akar yang menahan air dan menjaga keseimbangan.
Kini penopang itu telah ditebang, digantikan oleh sawit yang tumbuh seragam dan rakus. Maka ketika langit menurunkan airnya — yang seharusnya menjadi Rahmat — ia berubah menjadi bencana.
Di titik ini, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal tongkat Musa, melainkan soal hati: sekeras apa hati para pengambil keputusan?
Jika ia telah mengeras seperti baja buldoser, dengan apa ia masih bisa diketuk?
Barangkali benar, kita tak punya tongkat Nabi Musa. Namun setidaknya kita memiliki tongkat lain: tongkat swafoto, tripod pencitraan.
Tongkat ini tak membelah laut, tak mengeluarkan air dari batu, tetapi mampu membingkai kenyataan dari sudut tertentu — membalikkan keadaan, mengecilkan derita, dan menjadikan bencana seolah hanya sensasi media yang dibesar-besarkan.
Di sekitar kekuasaan, selalu ada para penyihir. Mereka tak lagi melemparkan tali yang bisa berubah menjadi ular-ular berbisa, tetapi kata-kata. Pernyataan-pernyataan mereka menjelma ular-ular berbisa: menyalahkan cuaca, menertawakan korban, dan meniadakan empati.
Bisa itu tak langsung membunuh, tetapi perlahan melumpuhkan rasa kemanusiaan.
Di tengah semua itu, aku melihat sebuah video: seorang ibu tersenyum getir sambil meletakkan bayinya di atas belanga agar tidak hanyut oleh banjir. Ia melakukan itu bukan karena kebodohan, melainkan karena cinta — upaya terakhir untuk menyelamatkan nyawa kecil yang sepenuhnya bergantung padanya.
Pemandangan itu mengingatkanku pada kisah lain: seorang ibu yang menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil, bukan untuk membuangnya, tetapi untuk menyelamatkannya.
Sejarah rupanya berulang, bukan karena kita tak punya tongkat Musa, melainkan karena kita lupa bahwa mujizat terbesar selalu bermula dari keberpihakan pada yang lemah. (*)