Friday, June 14

Tafsir Tiara bersusun Tiga


10 April 2022


Tafsir pernah murka dalam geram nan takut. Berkali-kali umat adakan persiapan, menyembunyikan diri dari rumahnya yang fana di semesta, yakni bumi, sebab ‘janji hidup tiada berkesudahan’ di seberang langit. Lalu, janji-janji diuji data, fakta, diteliti, dibenturkan, dan sekonyong-konyong mimpi kerajaan seribu tahun hancur berkeping. Sisa dari itu adalah kefanatikan tak tahan uji, dan malu berkepanjangan oleh karena fakta-fakta pengetahuan yang terus berganti sebab dirombak, diperbaharui.

Lupalah dogma, bahwa, mengampuni dan mencintai sesama jauh lebih luhur dari ‘hukum-hukum yang diperjualbelikan kepentingan para tuhan yang memang misteri dan tak ada satu pun makhluk pernah sanggup bertemu apalagi mendefinisikannya…     


Oleh: Dera Liar Alam
Penulis adalah jurnalis penulis,
Pemimpin Redaksi Toun Magazine
Redaktur di ELEKTORAL.ID


ORANG-ORANG MENDENGAR, berkali-kali menyimak dalam takut dan gentar sebab diteriakkan. Apa itu yang bikin gentar, tanda binatang, dan ujung sejarah semesta.

Klaim kiamat memang menggembirakan sekaligus menakutkan sejumlah orang yang mendengar, karena ada poin mendasari kegembiraan atau ketakutan itu: beroleh hadiah kehidupan kekal, memasuki gerbang mutiara di tepi laut kaca, atau menuju api kekal membakar segala kejahatan hingga musnah sama sekali, tanpa kenangan.

Perdebatan ‘tanda’ sudah saya dengar, bahkan sebelum saya mengenal huruf: Vicarius Filii Dei, nilai numeriknya enam ratus enam puluh enam. Begitu katanya.

Tanda, jadi bahan diskusi. Di masa sekolah lanjutan, isu ini kami bahas. Akan datang masa yang sukar di mana orang-orang tidak boleh berdagang, tidak dapat membeli, dan menjual kecuali punya tanda itu. ‘Tanda binatang’ jadi bahan ajar di sekolah, jadi propaganda dogma sekian lama.

Namun, ‘tanda binatang’ ternyata dianggap tidak menguntungkan bagi mereka yang menyebut diri ‘umat pilihan’. Tanda binatang, seperti itu tuduhan mengarah pada kuasa dan institusi. Tanda anti meterai Kristus. Benarkah demikian?

Tahun 1866, Seventh-day Adventist Church, melalui Uriah Smith, mengusulkan suatu pandangan, bahwa Paus memakai mahkota kuasa bertuliskan Vicarius Filii Dei. Klaim terang nubuat terhadap tanda itu dapat anda baca di Review and Herald 28:196, 20 November 1866.

Klaim sebagai ‘jalan ziarah menuju kebenaran’, sebagaimana ditulis Raymond Cottrell, dalam ‘The Story of the Bible Commentary’, musim panas 1998, menjadi pemicu kabar dogma semakin kuat didengungkan untuk dijadikan amaran bagi orang-orang di bumi yang katanya ‘belum mengenal kebenaran’.

Amaran itu ada di Revelation 13 : 16 – 18, “Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam.”

Dalam sejarah, ada kuasa menindas, tentu tidak dapat dibantah. Namun, konspirasi di atas konspirasi, memalsukan dogma dengan cocoklogi, segera akan beroleh bantahan.

Mari kita teliti.

Apa itu ‘Vicarius Filii Dei’? Vikaris episkopalis, frase yang pertama kali dipakai dalam dokumen abad pertengahan bertajuk ‘Donasi Konstantinus’.

Donasi Konstantinus adalah dekret kekaisaran Romawi, ‘katanya’ dekret itu dibuat kaisar Konstantinus Agung yang menyerahkan otoritas atas Roma dan bagian barat Kekaisaran Romawi kepada Paus. Dekret diyakini dibuat pada abad delapan, dekret tersebut digunakan, khususnya pada abad ketigabelas, dalam mendukung klaim otoritas politik yang dibuat kepausan.

Dari dokumen inilah, yakni Donasi Konstantinus, berkali-kali dogma mengutip dari sana, membuat berbagai tafsir tanpa verifikasi fakta sejarah. Namun, Vicarius Filii Dei, sudah puluhan tahun diajarkan sebagai sebuah teori cocoklogi tanda antiKristus.

Seandainya ada verifikasi, maka, kita pasti tahu, dalam berapa manuskrip — salinan tulisan tangan dari dokumen tersebut — meliputi dokumen tertua ‘Constitutum domini Constantini imperatoris’, Donasi Konstantinus masuk dalam kumpulan Dekret Pseudo-Isidorean abad kesembilan.

Konspirasi Donasi Konstantinus disibak Lorenzo Valla. Dia membongkar pemalsuan tersebut dengan argumen-argumen filologi sah pada 1439 – 1440, meskipun keontetikan dokumen tersebut masih dianggap terjamin sejak 1001.

Siapa Valla? Dia pendeta Katolik Italia dan humanis Renaisans.

Tahun-tahun tafsir sudah dianggap fakta. Dan suatu kitab saja sudah dianggap sebagai jawaban final. Padahal, Revelation hanyalah sajak abad permulaan, dia menggambar anaiaya, derita bangsa yang mengharap Messiah turun dari tahta khayal, surga yang kekal.

Walau, sajak adalah doa, adalah sugesti yang membuat bumi dapat bertahan sebab ada pengharapan.

Revelation adalah sajak dalam bakul sejarah. Pada saat Gaius Messius Quintus Decius berkuasa, tahun 249 – 251 Masehi, siapa yang tak punya sertifikat pengorbanan – libellus – terhadap Kaisar Romawi, tidak dapat berdagang, suatu larangan yang dapat dilacak sebelumnya dari pemerintahan kaisar Nero. Nilai penting segel kerajaan ini paralel dengan apa yang dicatat dalam ayat 17 pada kitab Revelation.

Tahun 66 Masehi, ketika Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus memerintah, masa di mana kitab Revelation ditulis, Yahudi memberontak terhadap Romawi. Di zaman itu, orang-orang Yahudi mencetak mata uang mereka sendiri. Kata Yunani χάραγμα, kharagma, selain berarti tanda juga dapat berarti mata uang atau koin yang dimeterai.

Jadi ayat 17 dalam Revelation ditafsirkan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain daripada mereka yang punya koin itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya.

Tafsir kitab: Jadi, siapa binatang yang disebut dalam sajak apocalyptic di Revelation 13 itu? Tidak lain adalah Kekaisaran Roma di masa silam. Tentara-tentara Roma digambarkan dalam tulisan sastra seumpama binatang buas, kejam dan seram di zaman itu.

Mengarang dogma, menjumlah numerik, lalu cocoklogi tanpa menyentuh dan mengenal dokumen dasar serta fakta sejarah. Maka, ajaran menjadi dongeng berkepanjangan, bahkan telah dianggap kebenaran turun-temurun: inilah kisah nubuat, Revelation 13 disandingkan dengan Vicarius Filii Dei.

Bila sempat, anda boleh baca tulisan Henry George Liddell & Robert Scott, ‘A Greek-English Lexicon’. Revised and augmented throughout by Sir Henry Stuart Jones with the assistance of Roderick McKenzie. Oxford, Clarendon Press, 1940.

Imperial Seal — adalah tanda kerajaan atau meterai — Kekaisaran Romawi yang digunakan untuk mengesahkan dokumen resmi abad pertama dan kedua Masehi.

Coba buka sejarah dan bandingkan. Abad kedua Masehi, orang Kristen memiliki pemahaman bahwa kitab Revelation adalah kode meramalkan orang atau peristiwa tertentu yang mengantar pada akhir zaman. Saat itu, sekelompok Montanis pergi ke padang gurun Frigia untuk menyaksikan Yerusalem surgawi turun dari langit, semua kecewa karena penantian mereka kosong.

Montanis, gerakan sektarian Kristen perdana, pendirinya Montanus.

Gerakan ini berkembang di daerah Frigia dan sekitarnya – pengikutnya disebut Katafrigia. Gerakan ini menyebar ke wilayah lain di Kekaisaran Romawi, dan pada suatu masa sebelum agama Kristen ditolerir atau dianggap legal. Meskipun Gereja Kristen arus utama menang atas Montanisme dalam beberapa generasi, dan mencapnya sebagai sebuah ajaran sesat, sekte ini bertahan di berapa daerah terisolir hingga abad delapan.

Sejarah memang mencatat kuasa selalu kejam membantai segala gerakan perubahan. Para pembaharu dianggap ancaman. Pedang tombak senjata pemunah, pisau pengerat roti dapat saja menikam jantung kesadaran.

Sejarah mengulang mimpi-mimpi silam yang belum beroleh jawaban dan pencerahan cahaya. Dulu, khotbah didengar tanpa pernah dikritisi. Rakyat dilarang membaca, dilarang pintar, dilarang membongkar rahasia. Menunggu di gunung-gunung, langit terbuka 1844, penantian kosong abad kedua berulang seperti gelombang, menampar pasir dan pesisir yang diam.

Dunia saat ini gemar transparansi.

Mahkota, tiara konspirasi: ‘katanya’ tanda itu disembunyikan. Padahal, rutin tiap 29 Juni saban tahun, tiara diletakkan di atas kepala patung St. Petrus di Vatikan. Semua tiara Paus secara periodik dibersihkan, dirawat, dan direstorasi. Tiara-tiara saban waktu dipamerkan sebagai benda seni.

Semua orang dapat melihat tiara itu, termasuk anda. (*)



Dalam tualang seraya mencatat ‘perang ideologi’,
National Stadium BTS Station – Bangkok, Thailand, 29 Juni 2015