Sunday, April 14

Amritsar Berdarah, 1919


13 April 2022


Kekerasan dibalas kekerasan, puncaknya pembantaian. Dendam dimangsa dendam, begitu seterusnya. Bagi semesta yang memang plural, berdamailah…


Oleh: Daniel Kaligis
Penulis adalah jurnalis penulis


MIGRASI diduga lima puluh ribu tahun silam dari Afrika melalui pesisir sepanjang Jazirah Arab dan Teluk Persia, tiba di India. Lalu di zaman kemudian, sekitar tiga ribu tahun sebelum ‘Tahun Tuhan’, ada bangsa Harappa mendirikan kota-kota Zaman Perunggu di Sungai Indus. Mereka berdagang dengan Asia Barat, peradaban itu bubar, tiada diketahui secara pasti penyebab keruntuhan ini.

Lalu, bangsa India-Eropa – yakni Weda atau Arya – datang dari Asia Tengah ke India membawa serta kuda, kereta perang, dan bahasa mereka. Keyakinan pendatang bersekutu keyakinan lokal, maka sistem kasta terbit ketika itu. Mereka menyeruak dari Lembah Indus menaklukan seluruh India Utara, termasuk lembah Gangga.

Tercatat, Kongsi Dagang British East India Company atas nama Piagam Kerajaan disodorkan Elizabeth I pada 31 Desember 1600. Tujuannya membantu hak perdagangan di India. Perusahaan ini dibentuk dengan tujuan untuk menegaskan hak perdagangan di sekitaran kawasan Samudera Hindia. Semula kongsi dagang itu beraktivitas di anak benua India dan Asia Tenggara, kemudian memperluas gerakannya dengan Qing di China.

Piagam Kerajaan atau Royal Charter, aktivitas perdagangannya adalah monopoli di Hindia Timur, kemudian merangsek ke fungsi pemerintahan dan militer tambahan. Hingga akhirnya kongsi itu bubar, 1858. Sebelumnya, 1857, terjadi Pemberontakan India. Kongsi bangkrut, kekuasaan beralih kepada Kerajaan Inggris, namun dalam wilayah India Britania dengan Kemaharajaan Britania diatur pangeran-pangeran lokal.

Kita menilik distrik Amritsar, di wilayah Punjab, India. Kotanya, Amritsar, berada di barat laut India, berjarak sekitar tiga puluh dua mil sebelah timur Lahore.

Untuk India, terkait sejarah hari ini kita menilik distrik Amritsar, di wilayah Punjab, India. Kotanya, Amritsar, berada di barat laut India, berjarak sekitar tiga puluh dua mil sebelah timur Lahore.

Negeri lima musim Amritsar, masyhur sebagai ‘kolam suci sari abadi’. Tentara Inggris dan brigade Gurkha, pada 13 April 1919, menembaki orang-orang – perempuan lelaki anak-anak – yang sedang berkumpul menentang wajib militer dan pajak perang di Jallianwala Bagh, bagian utara kota Amritsar. National Archives of India, mencatat, lebih dari seribu orang tewas, dan dua ribu lainnya terluka manakala ‘kiamat’ berdarah itu berkobar.

Membaca ‘Amritsar: a very British massacre’, ditulis Zareer Masani di History Reclaimed, 12 Agustus 2021, bahwa memang di sana kekerasan itu berbalas kekerasan. Dendam dimangsa dendam.

Diketahui, Zareer Masani adalah penulis dan penyiar. Buku-bukunya yang terkenal di antaranya Indira Gandhi: A Biography (1976), Indian Tales of the Raj (1990), dan Macaulay: Britain’s Liberal Imperialist (2013).

Tentang peristiwa berdarah di Amritsar, Masani menulis, “The home government set up a judicial enquiry into the Punjab crisis under a British High Court judge, Lord Hunter, with prominent Indian members.  It condemned the firing, and Dyer was forced to resign from the army.  He was the subject of a heated House of Commons debate, in which his boss, the Secretary for War, Winston Churchill, famously condemned the massacre as ‘monstrous’ and ‘un-British’.  It was a remark echoed by former Prime Minister David Cameron, when he visited the Jallianwala memorial in 2013, but he stopped short of the formal apology demanded by Indian nationalists.”

Apa mau dikata, kekerasan sudah terjadi, darah telah tumpah, mereka yang meregang nyawa tak mungkin dibangkitkan. Permintaan maaf yang datang di kemudian hari sama sekali tidak berguna.

Dan karena peristiwa itu, komitmen rakyat untuk bebas merdeka menguat. Mohandas Karamchand Gandhi, atau yang dikenal sebagai Mahatma Gandhi kobarkan nasionalisme dalam demontrasi damai, menuntut lepas dari cengkraman Inggris. India lalu merdeka, 1947. (*)