Monday, February 26

Sore di Icon


05 Juli 2022


Di Icon, senja itu jingga karena cahaya menembus awan berpendar di atas ufuk mesra sekali, awan-awan seperti ada pasangannya terpantul di laut teduh. Kemarau musim ini pelan membawa riak di ujung batu-batu timbunan di pantai dan selat. Kapal, perahu melintas, entah siapa penumpangnya…


Oleh: Daniel Kaligis
Penulis adalah jurnalis penulis


LINDA itu kawan yang bikin suasana riang. “I Love her style,” ucap Steven beberapa hari lalu tentang Linda, dia teman yang gesit dan lincah, rambut ash brown grey-nya panjang sebahu. ‘I will’ mengalun, “Who knows how long I’ve loved you | you know I love you still | will I wait a lonely lifetime | if you want me to, I will.” Tangan dia gemulai diangkat setinggi punggung, leher dan kepala meliuk lentur. Bukan, bukan tentang lagu itu, hanya suka kata-katanya. Kemudian nada dering merlintas, Steven dan saya lantunkan ‘Can’t buy me love, everybody tells me so, can’t buy me love, no-no-no, no! Say you don’t need no diamond rings and I’ll be satisfied.’ Pink bilang, “Dia suka nyanyi.” Maksud Pink, teman kita Steven suka musik, disambung Steven, “Yeah, saya suka The Beatles.”

Persahabatan seperti mencipta irama yang selalu ramai dibicarakan, lintasannya tidak terputus waktu, zaman, dan menembus dinding perbedaan, batas-batas wilayah. Di sana ramai, anak-anak bersuka di sisi desir gelombang, orang saling sapa, datang dan pergi, langit di tepi kota lain senantiasa biru kita gambarkan. Datang di Icon juga tentang kerja, tak peduli waktu, siang, sore, malam. Kerja kita memang suka-suka, menambang, meracik bumbu, mencuci wajan, ngepel, bergaya, dan saya menulis sambil jualan air kemasan.

Steven dan saya ngobrol tentang sumberdaya yang kaya di negeri ini. “Sumberdaya di sini mumpuni, namun ada banyak orang yang suka minta-minta, dan korupsi, bikin rusak pembangunan di Indonesia,” kata lelaki asal Perth itu. Di Icon kami nyanyi, bersahutan, diskusi, brainstorming, tertawa sama-sama. Di lain ketika, kami mengembara, ada saat diri tuju garang batu-batu dihempas arus. Kami mewakil perbedaan-perbedaan bumi, beda tanah lahir, beda kelamin, beda keyakinan, beda usia, tetap bersahabat. Pink dan Unique memetik foto di sudut-sudut berbeda.

Bicara visi, menuang cerita hari-hari yang masih panjang ke depan. Steven membuka gadget, menunjuk peta dan bilang, “Kita sesungguhnya dekat, berada di satu kawasan.” Saya menambahkan, kita berada di bumi yang sama.

Icon sore nan hangat, sudut di mana kami memandang matahari pulang. Saya mengulang cerita lima ratus enam puluh enam tahun silam: ‘El-Fatih dan pasukan Utsmaniyah mengepung Nándorfehérvár untuk tundukkan Hongaria, 1456, pada penanggalan Julian.’ Di sana, orang-orang terkenal mendentang lonceng di tempat peribadatan tua, sebagai peringatan, perang dan pengepungan sementara berlangsung. Tidak di Icon, kami menyeruput sirup berbagai warna dan coke berbusa tipis. Angin laut mengacak-acak perbincangan.

Saya mengulang sajak politik menggandar mindset seragam nan bangkrut kreasi. Jelata itu pengulangan: impor fiksi ilusi, tukar panggung korup regulasi. Kita kaya mimpi, enggan aksi. Terus saja, panjangkan dengkur nikmat imajinasi inspirasi.

Merindu cerita Perth dan Swan River. Membaca Remember Midland, 12 Agustus 2013, saya bersua kutipan ini: “On this day in 1829, Helen Dance drove an axe into a tree to mark the foundation of the Swan River Colony and the city of Perth.  In December of the same year, Captain Stirling discovered the river that we now know as Helena River. The Helena River which flows through 6056 was named in honour of Helen Dance, wife of Captain William Dance. She was the first woman settler in the Swan River Colony.  Helena Street in Midland also takes it’s name from Helen Dance and the Helena River.”

Kita di Icon, di tanah Sulawesi, dari sini menjelajah sejumlah situs, sore selalu memberi inspirasi. Bumi damai dalam persahabatan. (*)