Thursday, August 28

Sembuhkan Diri


19 Agustus 2025


Gambar Matahari di Ujung Bori mengingat peristiwa ngurusi perkara tanah sepanjang tepi aliran Sabbeng, kali yang sering meluap dan sebabkan pemukiman terendam air dan lumnpur. Ingat kutipan manakala memposting foto itu di media sosial – musim penghujan, 2022: “Ada sesuatu yang lebih berharga ketimbang nafkah dan kepuasan profesional – yakni kemerdekaan dan harga diri.” Kutipan ini tercatat pada editorial edisi perdana Tempo pascabredel, 06 – 12 Oktober 1998.


Oleh: Dera Liar Alam


Gambar: Matahari di Ujung Bori


FOTO jadi sajak merdeka, tertular banyak peristiwa. Begini yang saya catat, 11 Agustus 2023, ada tiga bait boleh anda nikmati boleh dilupa:


Ingin, angin. Kemarau panjang tiupkan dedaun: Anak-anak bakar petasan kemerdekaan, lalu main layangan di petak tanah tunggu jamin sertifikat negeri kaya regulasi. Dewata, manakala lepas kurungan jadi penasehat, pimpin partai, bersiul, bersabda, berfirman.

Tani nelayan bercocok-tanam plastik, membawa panen tanah ke pasar timbang harga terus naik orang-orang haus lapar dalam data tukang sensus gemuk: Semua dipajaki, naik turun singgah sedot sembur. Racun sudah ladang sungai danau laut, bisnis plastik telah diijon dari orde silam. Hutang, di pangkunya lahir gadget dan anak-anak instan. “Mie mie mie.” Begitu mereka memanggil ibu, menggoda pelancong dengan ukulele berdawai satu, seragam.

Bila longsor banjir, kampanye nyaring, doa-doa panjang bingung. Mujizat telah diganti hospital, cctv, live, buzzer, dan tukang tipu: cura te ipsum.


Hari ini artificial intelligence dengan mudah mengeja terminologi asing. Begini katanya: The Latin phrase ‘cura te ipsum’ translates to ‘heal yourself’ or ‘take care of yourself’. It is often used as an exhortation for individuals, particularly those in helping professions, to address their own needs and well-being before attending to others. The phrase is also sometimes interpreted as ‘physician, heal thyself., a phrase that appears in the bible. The phrase is a reminder that one’s own well-being is crucial, especially for those in roles where they are expected to care for others. It emphasizes the importance of self-care as a foundation for effectively helping others. Kampanye gratis tak pernah sembuhkan diri dari penjajahan pajak naik berlipat ganda. Rakyat hanya nonton, mungkin melawan, atau pasrah terus dikuras.

Kemerdekaan dan harga diri hanya jualan ideologi, isu diurus masing-masing, sebab sistem punya cara sendiri memperkaya diri dengan aturan yang sesungguhnya isinya meludahi kemerdekaan dan harga diri rakyat.

Merdu dan nyaring propaganda upacara, ‘bersatu berdaulat, rakyat sejahtera Indonesia maju.’ Pejabat berdaulat atas sumberdaya, rakyat nonton, miskin melebar, stunting, gagal tumbuh, isu viral dicatat sebagai bonus demografi – teori itu masih dapat didebat dengan logika dan fakta-fakta data hari ini. Bagaimana rakyat sembuhkan dirinya? Sistem tak berniat, kecuali mempertebal tabungan regulasi yang hambat kesembuhan kerakyatan yang dipimpin hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, sementara para wakil rakyat terbanyak hanya menggerogoti.

Jadi ingat. Di depan Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat, 06 Januari 1941, Franklin D. Roosevelt mengumandangkan ‘Four Freedoms’ — kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan beribadah kepada Tuhan dengan cara masing-masing, hak untuk bebas dari kekurangan dan kemiskinan serta kebebasan dari ketakutan. Ini prinsip-prinsip dasar yang berkembang menjadi Piagam Atlantik yang dinyatakan Winston Churchill dan Franklin D. Roosevelt pada Agustus 1941, Deklarasi PBB 01 Januari 1942 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang diadopsi PBB medio 1948, sekian hari setelah Indonesia pada 1945 proklamirkan merdeka pada dunia.

Upacara untuk lupa. Biang rusuh, biang korupt, biang polusi, diampuni kuasa, disembuhkan. Sembah saja. Sumighi. Dan hari ini kerakyatan kemanusiaan semesta itu enggan disembuhkan. Berdaulat? Seperti apa rakyat berdaulat, bagaimana rakyat punya otoritas penuh mengatur urusan internal dan eksternal tanpa campur tangan pihak lain? Sejauh musim politik miskin sumberdaya mindset seragam disogok disuap BLT supaya kuasa otoriter sambung menyambung jadi satu. Mbulet semua, dan semua mencandu, rakyat tertular.

Upacara mentereng sembah kekuasaan yang merobek ‘gulungan regulasi terkait demokrasi’, drama otoritarianisme berapa waktu silam menabrak rakyat di setapak demokrasi yang memang sudah sekian masa disempitkan jalan dan ruangnya. Sumighi, sembahlah dia yang mencipta semesta. Padahal pencipta tidak butuh disembah sebab dia mahasegalanya.

Di bayang matahari miring, pikiran miring, otak nungging. Begitu nasib rakyat, sembuhkan diri sendiri. Tunggu waktu, barisan bubar, negeri kaya bencana. Tanya, di mana kedaulatan rakyat. Sejauh ini aparatur-lah yang berdaulat. Begitu faktanya.

Walau, tubuh penuh luka, balut – harap tetap merekah, bangkit, bangun. Sembuhkan diri bangsamu. Kembalikan kedaulatan rakyat. (*)