Thursday, September 28

Saya Bukan Detektif


04 Juni 2021


Oleh: Linda Christanty
Penulis adalah Penulis dan Sastrawan


Saya bukan seorang detektif, tetapi biasanya mengingat kembali kejadian 20 atau 30 tahun silam melalui apa yang dilihat Monk sebagai detail. Saya juga membantu beberapa teman memecahkan sejumlah misteri, meskipun bukan detektif, melalui detail, yang terpisah jarak, ruang dan waktu.


ADRIAN Monk. Ia tokoh detektif dalam serial televisi, ‘Monk’. Caranya memecahkan kasus lumayan unik, di sela-sela menghadapi obsessive compulsive disorder atau OCD. Ia terobsesi kepada kebersihan. Ia cemas jika melihat sesuatu tidak pada tempatnya. Tiap kali selesai bersalaman dengan orang, ia buru-buru mengelap tangannya dengan tisu basah.

Di salah satu seri, ia dan rekannya, Sharona Fleming, berhadapan dengan penjahat yang kabur ke gorong-gorong. Sharona berhasil menemukan penjahat itu lebih dulu, tetapi ia diserang, benar-benar kewalahan dan harus berteriak meminta Monk segera membantu. Namun, Monk sibuk mengelap besi pegangan tangga menuju gorong-gorong dengan tisu. Setelah urusan ini selesai, ia cepat-cepat mencari Sharona. Beruntung belum terlambat. Sharona selamat. Penjahat berhasil diringkus.

Saya memperoleh kaset-kaset video serial ‘Monk’ dari seorang kawan sebagai kenang-kenangan. Katanya, “Monk ini mirip sama elu.” Hah!

Dalam seri lain, Monk disibukkan seekor kera yang dituduh menjadi pelaku pembunuhan. Sharona yakin kera tidak terlibat pembunuhan. Monk membutuhkan waktu untuk menyelidiki lebih lanjut.

Kera itu tinggal sementara waktu di apartemen sewaan Monk untuk diobservasi. Ia mengacaukan seisi apartemen. Melempar gelas-gelas. Mengunyah apa yang bisa dikunyah. Berayun-ayun di lampu gantung.

Monk mencoba mengendalikan diri dengan menelepon dokternya, yang suka rela datang kali ini untuk membantu pasien menghadapi keadaan darurat. Alangkah terkejutnya dokter begitu mengetahui masalah itu berasal dari seekor kera. Sebaiknya Monk menelepon polisi, bukan dokter.

Pemilik apartemen tiba-tiba datang untuk memprotes tindakan Monk yang mengiklankan penyewaan apartemennya tanpa berkonsultasi lebih dulu. Situasi makin kacau. Kepala pemilik apartemen itu botak. Kera histeris lalu melempar apa saja ke arahnya. Setelah Monk menutupi kepala pemilik apartemen dengan topi, kera menjadi tenang.

Monk menguji teorinya. Ia melepas topi dari kepala botak itu. Kera mengamuk. Memasang topi, kera diam. Melepas topi, kera histeris. Kesimpulannya, pelaku pembunuhan adalah orang botak. Monk dan rekan-rekan polisinya lantas mencari orang botak yang dicurigai.

Seri lain tidak kalah lucu.

Monk turut memecahkan kasus pembunuhan duta besar negara tetangga di sebuah hotel di New York. Penembakan terhadap duta besar terjadi saat Monk dan rekan-rekannya baru tiba di hotel tersebut untuk melakukan proses reservasi. Pelaku kabur. Monk satu-satunya orang yang sempat melihat rupa pelaku dengan jelas.

Kepala polisi memintanya datang ke kantor polisi untuk membantu menjelaskan detail wajah pelaku kepada juru gambar. Cukup lama juru gambar mencoba merekonstruksi wajah pelaku hingga akhirnya berhasil menggambar sebelah telinga pelaku.

Monk mengatakan cukup gambar telinga itu saja untuk disebarluaskan, karena bentuk telinga menjadi ciri khas Homo sapiens. “Telinga manusia, sama seperti sidik jari,” ujar Monk.

Sharona turut membantu Monk memperhatikan telinga-telinga orang.

Saya bukan seorang detektif, tetapi biasanya mengingat kembali kejadian 20 atau 30 tahun silam melalui apa yang dilihat Monk sebagai detail. Saya juga membantu beberapa teman memecahkan sejumlah misteri, meskipun bukan detektif, melalui detail, yang terpisah jarak, ruang dan waktu.

Barangkali karena ada sedikit OCD. Berbeda lagi dengan autisme. Orang-orang dengan gejala autisme berpikir dalam sebuah gambar, menurut Temple Grandin, ilmuwan Amerika yang mempelajari tingkah hewan. Ia mengidap autisme. “Saya menerjemahkan kata-kata lisan dan tulisan ke dalam film penuh warna, lengkap dengan suara, yang berputar seperti kaset video di benak saya. Ketika seseorang berbicara kepada saya, muncul langsung terjemahan kata-katanya dalam gambar,” kata Grandin, dalam bukunya, ‘Thinking in Pictures’.

Molotov. Bom racik sederhana berbahan alkohol atau bensin. Kata ‘molotov’ membuat saya teringat seorang kawan.

Suatu malam, di tahun 1998, kekacauan tengah melanda Jakarta. Aparat berhadap-hadapan dengan rakyat. Saya dan Fitri, aktivis buruh, berjalan menuju kantor YLBHI. Seseorang berjalan cepat dari arah berlawanan: Rein, aktivis mahasiswa. Kami bertanya ia dari mana. Ia menjawab baru saja melempar molotov. Ia juga bercerita, ada marinir di kawasan tertentu dan marinir tidak menyerang massa.

Saya tidak bisa mengingat apa yang terjadi pada Rein dan Fitri pada hari-hari selanjutnya. Ingatan saya melompat ke peristiwa Rein memimpin aksi massa menolak Presiden Habibie. Ia dan tiga kawan lain, Wignyo, Ety, dan Iyan, berada dalam mobil pikap komando pada 11 November 1998. Apa sebabnya saya bisa mengingat mereka dan mobil komando itu? Karena peluru-peluru yang ditembakkan aparat memercikkan api di aspal. Percik api dari peluru ini mencegah saya lupa.

Pascatsunami dan konflik bersenjata di Aceh, saya bertemu kembali dengan Rein di sebuah rumah makan di Banda Aceh. Tiga tahun kemudian, ia dan teman-temannya sesama pengajar di sebuah universitas Thailand menyelenggarakan seminar dan mengundang saya menjadi salah seorang pembicara. Ia berjasa merintis hubungan saya dengan para akademisi itu.

Sejumlah kawan, seperti Rein, tidak pernah berkomunikasi rutin dan tiba-tiba muncul dengan kabar baru kehidupan.

Namun, tidak semua kawan masa lalu menyenangkan untuk ditemui. Kadangkala ulah mereka memalukan.

Beberapa tahun lalu seorang kawan kami sesama aktivis dulu mengadakan misa pertamanya sebagai rohaniawan di sebuah katedral di Jakarta. Ia menjalankan tugas kepastorannya di Amerika Serikat. Sudah lama ia tidak pulang ke Indonesia dan sejumlah kawan ingin bertemu dengannya. Setelah misa itu ada acara makan malam.

Saya pun datang ke katedral tersebut, duduk di antara para jemaat dan mendengarkan khotbahnya.  Persahabatan sejati melampaui agama, ras, suku, jenis kelamin, gender, dan golongan. Khotbahnya mengisahkan liku-liku kehidupan seseorang hingga menjadi pastor. Tidak terasa air mata saya menetes, mungkin karena terharu.

Tugas seorang rohaniawan itu mulia, dengan ia menguatkan hati orang-orang yang mengalami kedukaan ataupun keputusasaan hingga mereka mau berusaha melanjutkan ataupun memperbaiki hidup.

Inti ibadah terjadi ketika hosti diberikan. Saya dan sejumlah orang yang bukan pemeluk Katolik tetap duduk di bangku selagi para jemaat menerima hosti. Ketika misa selesai, orang-orang mulai meninggalkan katedral untuk pergi ke halamannya, tempat acara makan malam diselenggarakan.

Dua orang kawan masa lalu yang saya kenal berteriak-teriak di pintu katedral, melontarkan kalimat-kalimat gurauan (atau ejekan) yang tidak pantas diucapkan dalam situasi semacam ini. Suara mereka terdengar keras. Seorang Katolik dan seorang Islam. Tindakan mereka memalukan. Tidak menghormati kawan kami, tidak menghormati para jemaat dan membuat tidak nyaman orang-orang yang hadir.

Tiap kali saya melewati katedral itu, saya selalu teringat tingkah dua orang penista agama tersebut.

Kawan saya yang lain, Lucas, sedang menulis sebuah buku yang merekam sejarah kami dulu, dilengkapi analisis kritis. Ia memiliki ingatan yang kuat dan pemikiran yang tajam. Ia juga mampu mengingat lebih banyak nama dan detail aktivitas mereka dibandingkan saya.

Mungkin ia tidak hanya akan menulis peran setiap orang di masa lalu, juga menulis apa yang mereka lakukan di masa kini, seperti membangun bukit atau  menggali got, mana yang lebih bermanfaat.

Lucas pernah ikut aksi lompat pagar kedutaan asing di Jakarta bersama aktivis-aktivis Timor Leste pada 1995 dan menuntut Refendum untuk Timor Leste. Ia dulu aktivis mahasiswa dan salah seorang pemimpin penting gerakan mahasiswa.

Tiap kali melihat orang mengenakan celana selutut, saya langsung teringat Lucas. Ia sering mengenakan celana ini. Pakaian yang dimilikinya terbatas. Ibu kandungnya meninggal waktu ia masih belajar di sekolah dasar. Ibu sambung yang membesarkannya seorang guru mengaji.

Begitulah saya atau Adrian Monk, tokoh fiktif itu, mengingat peristiwa. Kawan saya yang memberi kaset-kaset video serial ‘Monk’ itu akhirnya bertemu saya lagi di Berlin pada 2008.

Ia kuliah di kota Jerman yang berjarak tempuh sekitar tiga jam berkereta dari Berlin. Harapannya, saya telah menjalani semacam terapi mandiri dengan menonton film ‘Monk’. Namun, harapan tersebut sukar terwujud. Ketika saya menoleh kepadanya yang duduk di deretan kursi belakang dalam ruang diskusi, saya melihat beberapa helai rambut mencuat dari hidungnya dan buru-buru saya memberi sehelai tisu agar ia merapikan penampilannya segera sebelum saya bertindak. Saat itu kami menghadiri diskusi yang diselenggarakan Frederich Ebert Stiftung. Saya diundang lembaga Jerman itu, karena kawan saya, Nezar, mengusulkan kepada mereka untuk mengundang saya. Ia seharusnya berangkat, tetapi ada urusan lain.

Namun, setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk mengenang peristiwa.

Sebagian peristiwa pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM) berat di masa lampau semakin sayup di benak sebagian orang. Oleh karena itu, lembaga non-pemerintah seperti KontraS menerbitkan buku antologi cerpen, ‘Berita Kehilangan’.

Silahkan kalian yang ingin membeli buku ini menghubungi KontraS dan menyumbang bagi perjuangan melawan kejahatan HAM berat. (*)