Wednesday, July 17

Sajak Lautan Utang


07 Februari 2022


Kita diskusi sajak ‘upbringing’. Di negeri ngeri, ‘tuhan’ itu politik bahasa yang menakut-nakuti rakyat:
keuangan yang maha esa. Sajak dihentak jawab singkat.

“Mantap,” kata kawan seniman, Ampuang Hadi.


Oleh: Parangsula
Penulis adalah penyair dan penulis


Gambar: SCENERY – Pacific Ocean extends from the Arctic Ocean in the north to the Southern Ocean in the south and is bounded by Asia and Australia in the west and the Americas in the east – Photo by D.L.A.


LAUT-LAUT menghitam libido: catat argumentasinya International Financial Institutions bertahun silam yang pernah jadi keyakinan. Dan negeri kita semakin bernafsu ngutang – lanjut saja teori itu, “Part of the total debt in a country that is owed to creditors outside the country,” dan seterusnya. Tertulislah makna, utang luar negeri tidak membedakan antara pembayaran pokok atau pembayaran bunga, atau pembayaran keduanya. Definisi tersebut tidak menentukan bahwa waktu pembayaran pokok dan atau bunga di masa depan perlu diketahui agar suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai utang.

Penguasa berganti, pandangan tentang utang berubah. Namun, lebih tujuh tahun silam, ketika kita bersua, diskusi utang itu  malah sudah dimodifikasi, ditambah bumbu-bumbu dan kian gencar. “Sajak-sajak habis menderas percuma, tikus-tikus negeri ngeri ini memang berperut gajah dan beranak-pinak lewat komisi menggadaikan tanah airnya. Bahkan garam serta kelapa kita sudah impor, begitu masih pengen disebut sebagai pemimpin,” kata kawan di ibu kota negara, Onald Anold.

Bertahun lalu, sistem membisikan ‘bantuan luar negeri’. Ternyata, ‘loan’, utang lagi. Namun, anak-anak negeri bangga terima bantuan. Pemerintah di daerah sama juga kelakuannya, gencar menghabiskan anggaran. Bila rakyat berteriak, mungkin saja akan tambah ditekan.

Saya, hari ketiga dan keempat di Februari ini hanya menulis, lalu menyempatkan diri ke ibukota provinsi. Bicara dengan penggunan jalan — sopir yang sehari-hari melintasi jalan negara — tentang utang.

Negeri diasuh utang. Waktu mencatat kematian, siapa-siapa pergi. Kenangan ditimbun, lalu hilang bekas. Surahman Abdullah, kawan penulis dan pegiat konstruksi itu, tentang utang mempertanya, “Transaksi kemanusiaan, teori atau resiko peradaban?” Saya bilang, “Bisa dua-duanya.” Sajak belum memuncak, teori kemanusiaan dan transaksi kemanusian bergulat dialektika bumi, semesta. Uap air seperti suara-suara, mengangkasa, di atas cakrawala menghitam, turun sebagai deras perkara.

“Wow, ngopi dulu,” ujar Aneis.

Memang kita diajar berhutang. Upbringing! Sajak-sajak tiada batas, saya bilang. Ada hilang: Pernah, di kafe bertata klasik kita mendiskusi berhala sambil geleng-geleng. Saya memetik gambar, lalu membuat folder di ruang waktu, di jiwa.

Ah. Kisah tanah jauh dan pulau-pulau seberang laut mungkin hilang. Teks, foto, angka, review, interview, konspirasi, design, kesedihan, tertawa, makian, memori, banyak banget. Ingat saja, dosen tingkat satu berkisah, “Lupa berlangsung begitu cepat,” ketika kelas membahas extrasensory perception.

Jadi gitu, lupa saja, kesedihan tertawa beban sia-sia. Nah, soal foto dan story, teman saya bilang, “Ada orang tak terkenal, tak menulis buku, punya banyak sekali kumpulan kisah yang tak dicatat sejarah, tak dibahas ruang-ruang diskusi seminar. Dia menyimpan semua memori di sensorinya.” Wow, thanks Kodet, sudah mengingatkan, menendang keraguan saya tentang lupa itu penting.

Foto itu story, lekat digambar dilukis ditenun berkali-kali tiada bosan. Kemudian senyum gemas, teori.

Kampanye, ‘tikus-tikus negeri ngeri’ dipergunjing Onald Anold, dalam tanya, “Lima tahun — kali berapa kali — berulang pergunjingan (?). Puluhan tahun dianggap merdeka: Si ‘garuda’ nengok kanan melulu, di kiri habis terkikis, tersisa lubang mengangah dari Aceh sampai Papua, “E dodo e kasiang kita for itu burung,” dengus dia.

Jepsony, kawan diskusi negeri seberang, tiada kabar. Padahal kita pernah bicara utang dan revolusi. Utang ‘buah peradaban’: percakapan kita terrekam, karena berpikir-pun adalah bagian dari revolusi, sehingga mereka yang ‘tak mikir’, berarti mati peradabannya.

Setuju lubang-lubang, sistem lubang kiri, lubang kanan, lubang depan belakang, lubang negara: sistem negara memilih, kita, tetapkan masing-masing: kita adalah elang menyambar dongeng bunga burung investasi atas nama value rakyat berdaulat. “E do do e mo merdeka, maar tako-tako.” Begitu saya menyambar ‘tikus-tikus negeri ngeri’.

“Itulah asal-muasalnya kesesatan, suara rakyat suara tuhan. Rakyat yang mana dulu? Sedangkan tuhan sudah pasti satu,” umbar Onald Anold.

Saya menanya: “Sudah pasti satu, Onald?” Ah, persinggungan hari ini yang dibangkit-bangkit keyakinan rubuan tuhan dan semua mau menang sendiri. Padahal mengurus keyakinan di negeri yang pasokan utangnya semakin menjadi, amat rumit. Di negeri ngeri, tuhan itu politik bahasa yang menakut-nakuti rakyat: keuangan yang maha esa.

Jepsony mendesak ‘rumah utang’, gamang sejumlah teori segelimang perkara. Rumah-rumah di mana rakyat terbuang, diusir dan hanyut di laut entah mana. Saya jawab panjang lebar. “Lebih nyaman keluar dari rumah-rumah itu. Kita menggemar jejak-jejak suci para petani menolak bibit unggul, pupuk dan pestisida: terus memacul tanah membatu bagi benih-benihnya yang tumbuh liar di peradaban.”

Laut sajak, bergelombang: pemimpin bertahta dan bertelur paling banter lima tahun, lalu diperpanjang, ditarik sebagaimana karet-mengaret dan terus mengerat. Menjual utang. “Boleh hitung apa yang mereka tetaskan saat ini, yang paling molek adalah budaya instant.

Khotbah sajak, menjadi laut basi. Diulang berkali-kali.

Kenangan menua. “Jadi inget kalau ke gereja, maitua sibuk cubit-cubit saat pendeta berorasi basi, kita tidur pulas sekali. Dunia sudah tua, penyair mati tanpa nama di sana-sini. Tapi, jangan ragu kawan-kawan. Saat negara sakit, satu-satunya dokter yang menyembuhkan bukan tuhan, tetapi penyair yang sehat. Salam hangat dari Cengkareng yang becek tak berojek,” kata Onald Anold.

Dunia penuh kalimat, teks yang jadi tua. Teks tersisa bila bermanfaat. Laut kita sajak, kenang. (*)