Monday, May 20

Renungan Kritis di Hari Lahir Pancasila


01 Juni 2021


Oleh: Benni E. Matindas


TAHUN 1951, dalam pidatonya Presiden Sukarno menyindir kelompok-kelompok politik yang tak menjalankan Pancasila secara utuh, hanya menitikberatkan pada sila tertentu saja.

Buya Hamka, dengan dorongan tokoh parpol Masyumi, Mohammad Natsir, langsung terbitkan buku untuk membalas. Hamka bukannya menyangkal, malah sebaliknya menegaskan bahwa menitikberatkan pada Sila Ketuhanan itu adalah keharusan, mutlak, kebenaran tertinggi.


Takdir Mentahkan Pancasila! Apa jawab Bung Hatta, Buya Hamka, Pdt Rosin, Prof Mukti Ali?


Di saat sama, Pdt. Dr. H. Rosin juga terbitkan buku tentang pengertian Pancasila yang seharusnya.

Bung Hatta memperoleh inspirasi dari Buya Hamka dan Rosin, tapi Hatta tenggelam oleh prahara politik yang meletuskan perang saudara PRRI/Permesta.

Rumusan Hatta dibela terus oleh Prof. Mukti Ali, cendekiawan Muslim dengan reputasi internasional (a.l. bersama Paus Johanes Paulus II mendirikan think tank). Teori Hatta itupun sejak 1956 mendasari studi pengembangan Pancasila oleh Prof. Notonagoro bersama team Universitas Gajah Mada.

Itulah mengapa belum lama ini, ketika ada orang BPIP menulis Pancasila dengan urutan sila-sila sama dengan pidato Bung Karno 1 Juni 1945, ahli Pancasila dari UGM langsung mengkritik dengan merujuk pada Hatta.

Problem kefilsafatan Pancasila ramai terus! (*)


Sumber foto: Halaman fb broer Benni
Editor: Daniel Kaligis