Wednesday, June 19

Proyek Menimbun Logika


03 Juli 2022


Di suatu benua, ada minoritas putih memerintah mayoritas hitam. Otoritas di negeri ngeri adalah pesanan, regulasinya bernasib sama, dipesan untuk mementungi pemikiran kritis. Oligarki makan biaya, rakyat penonton penikmat sengsara. Korupsi jangan ditanya, pelakunya lebih mulia dan suci ketimbang maling jemuran.


Oleh: Dera Liar Alam
Penulis adalah jurnalis penulis


MANGROVE pepohon ditebangi, ditanduskan. Pantai ditimbun itu sudah biasa. Datangi pulau-pulau, tembok-tembok terbiar jauh dari pemukiman itu selasatu proyek menimbun logika. Rakyat menonton, entah. Tak ada tanya, yang penting dana turun, kemudian dibikin pertanggunggugatnya di atas kertas, foto-foto, peresmian. Selesai.

Hak disebut kewajiban itu juga proyek menimbun logika yang sering digosipkan para tokoh dan pemimpin. Di banyak tempat seperti itu, di kampung saya juga sama: proyek ini memang terbilang unggul dalam mendulang suara, dan membeli kepentingan.

Regulasi berjamur dipajang pada papan pengumuman. Regulasi bengkak gemuk siapa mengevaluasinya, publik? Siapa pelakunya, kekuasaan? Tahun 2016 ada dua puluh satu kepala daerah tersangka korupsi. Tahun 2017 mengalami peningkatan, ada tiga puluh kepala daerah tersangka korupsi. Proyek menimbun logika memang terbanyak dikerjakan kekuasaan, ya oligarki.

Kini pesta, dewi dewa tukang sihir siapkan strategi kursi kuasa lebih tinggi, swasta dan para jelata melemah karena petaka, sebagian menjilat pantat penguasa. Liturgi berbau, dana-dana berasap terbakar propaganda.

Kita punya cerita, bisik-bisik atau teriak, membentur tembok kuasa, oligarki tetap deras. “Curhat kemuakan lihat yang ketemuan-ketemuan bikin deal capres-cawapres. Kita nonton, kita nggosip — si anu sama si anu ya? Tapi mereka yang bikin deal lalu bikin oligarki baru atau lama yang terbarukan. Yang rugi ya kita yang cuma bisa ngegosip. Terserah kalau nanti mau golput, tapi sistemnya tetap harus dibongkar (tak perlu presidential threshold). Ini bukan soal saya, anda, kamu, kami – bukan soal di level personal; tapi soal kebrengsekan,” kata ahli hukum tata negara, Bivitri Susanti, di statusnya, 09 Juni 2022.

Lalu apa? Oligarki sudah tumbuh gemuk dan subur, akarnya menembus kantong-kantong alir pelumas proyek-proyek pembangunan pelupaan dan ketakutan pada ancaman dilarang kritis. Begitu!

Logika cenderung ditimbun mitos, padahal bumi evaluasi. Transparansi membongkar proyek pembodohan rakyat. Itu saja. (*)