
02 April 2025
Rantai makanan, ingatlah saya pada kucing memburu tikus.
Itu dulu, sekarang kucing tidur di sembarang tempat dan jadi kotoran kodrat dalam sistem, mendengkur dengar sajak:
kisah usang tikus-tikus berdasi
yang suka ingkar janji lalu sembunyi
di balik meja teman sekerja
di dalam lemari dari baja
kucing datang cepat ganti muka
segera menjelma bagai tak tercela
Oleh: Dera Liar Alam
RAT, taurat, aurat — derap diskusi tahun-tahun silam, seperti itu dikerat bersama Andrew, kawan dari ibukota negeri. Saya menjawab komentar itu, “Uratnya sang ‘Tulang Adam’, walau tak bertulang, tetap bisa keras. Taurat tak kuasa melawan kodrat.”
Tikus, rat, corrumpare, identik dengan sifat merusak secara menyeluruh, sistem, dan seterusnya. Dalam Jurnal Seni Rupa ‘Fenomena Korupsi: Tikus Sebagai Insiprasi Lusik’ diterbitkan 2021 menjelaskan kenapa tindakan korupsi diibaratkan hewan pengerat tikus, jenis hama yang mengganggu tanaman dan sulit dikendalikan karena mereka dapat belajar dari tindakan sebelumnya. Begitu diulas Herdi Dwitama dalam ‘Tikus Berdasi Jadi Analogi Koruptor’, di radarkuningan.com.
Kisah ‘rat-taurat-aurat’ di atas kilas balik pada status protologi hukum sudah lampaui planet – sistem masih berkutat pada luka lebam regulasi taurat dan aurat. Pengawal regulasi paternalist itu takut pada pangkat-pangkat, lemah dalam praksis bela perempuan ndeso. Pembuat regulasi bersenggama dengan koruptor dan politikus tikus.
Politikus tikus telah menjelma ahli pelintir ayat-ayat yang dikuduskan yakin ambigu. Praksis itu dipandang kodrat, turun dari tahta langit mahakuasa, dan dipaksa-terapkan di tataran rakyat. Politikus tikus telah jadi sifat bawaan, diasumsikan jadi kodrat, ketentuan yang melekat pada diri. Entah bawaan lahir: kekuasaan, kedudukan, ketentuan.
Merasuk kodrat baik – buruk. Walau punya kodrat berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki kesempatan untuk menjadi manusia bijak. Meski memiliki kebaikan di dalam dirinya, bukan berarti manusia tidak dapat melakukan keburukan. Maka dari itu teori tentang kodrat manusia ini mendorong kita untuk mengembangkan pikiran tentang kemungkinan bahwa baik dan buruk merupakan bagian wajar dari sebuah fakta makhluk bernama manusia itu.
Manusia rakyat telah dikelaminkan sistem sebagai ‘perempuan ndeso’. Cadar, tudung penutup wajah sistem berterali besi. Dalam posisi seperti itu, sumberdaya dijarah, dikuras, diludeskan. Regulasi dipandang ketentuan Tuhan, hukum alam biologis membagi dua kelompok — golongan lelaki penghuni istana, berikutnya golongan perempuan durjana jahat keji yang semena-mena boleh dieksploitasi. Demikian fakta rakyat yang dijauhkan aksesnya dari huruf tebal hukum kebal.
Sistem di negeri ini menganggap diri mendapatkan hak istimewa tentang sesuatu yang tersembunyi dari umat manusia pada umumnya. Politikus tikus dianggap Setan, Dajjal. Lalu tetiba kiamat, Keyakinan pada gagasan bahwa peradaban akan segera sampai pada suatu ujung menggemparkan karena adanya semacam peristiwa global sangat dahsyat.
Apa iya kodrat ditudung penutup wajah sistem berterali besi tak ada penawarnya? Apa iya taurat turun dari langit? Cuan mahakuasa penyebabnya: perampasan sudah sekian zaman terjadi, dan terus berulang hingga hari ini manakala anda membaca artikel ini.
Menarik perhatian saat ini ketika rakyat hendak ditikuskan, dikejar ke mana-mana. Kenaikan harga tanpa dikontrol tentu meresahkan dan menyusahkan rakyat. Pungutan ada di mana-mana. Aparatur nonton, menikmati. Penunggak pajak kendaraan bermotor akan dikejar, lalu kendaraannya disita petugas. Berita tanpa penyaring. Dirgakkum Korlantas Polri membantah kabar pemilik kendaraan menunggak akan disita petugas kendaraannya. Pelanggaran pajak kendaraan dapat ditilang polisi, tentu bisa saja, sebab pajak kendaraan bermotor merupakan bagian dari surat tanda nomor kendaraan, dan ketika anda belum membayar pajak kendaraan dapat dipastikan bahwa anda juga belum melakukan pengesahan lembar surat yang dimaksud. Namun, soal rakyat dikejar-kejar aturan, dikejar setoran, bukan ‘barang baru’ di negeri ini. Ditikuskan oleh pengerat sumberdaya. Ditikuskan oleh janji palsu politikus yang sebagian besar sudah duduk ditahta kekuasaan.
Rakyat ummat ditikuskan? Kalkulasi berapa banyak kotak sumbangan yang berderet di dekat mimbar. Pundi-pundi dijalankan dan kemudian menutup diri dari external audit, memperkaya diri dengan jualan taurat – seakan ada perintah turun dari langit untuk terus menguras ummat-ummat tikus-tikus.
Tikus dilarang berpikir. Tikus dilarang merdeka bertanya berargumen. Tikus terima saja kabar dari langit, dari tahta kekuasaan.
Politikus tikus — ‘rat-taurat-aurat’ — itu mesti diusir keluar dari sistem. Rasional, pengerat itu mesti dihalau agar sistem bersih dan cerah dari kodrat cadar tudung penutup wajah sistem berterali besi itu. Perhatikan para petinggi itu juga mengandung gelar-gelar bentukan sistem yang mengaku rohani, padahal roh halus, secara lembut meremas mindset supaya tetap terjajah.
Maka, kemarin lahirlah tikus mop.
Sekarang masih bertahta rat-taurat-aurat, bila sempat lahirlah sebagai mesias, pembebas. Skeptic pada semua hal, utamanya terkait hak-hak sebagai makhluk, manusia berpikir dan mempertanyakan. (*)