Monday, February 26

Membangun Kerajaan Kreativitas


Medio 2017


Kreativitas dipangkas dengan penyeragaman buah pikiran. Lahirlah generasi banyak alasan yang menduduki kursi kuasa di banyak pintu pelayanan lambat


Oleh: Daniel Kaligis


SUMBERDAYA terkuras, datanglah kemiskinan seperti penyerbu. Apalagi kemalasan yang hidup satu rumah dengan ‘banyak alasan’, segenap senyap diisi ironi, jurang perbedaan mengangah. Megah pembangunan, gedung pencakar langit berdiri seperti bercakak pinggang walau tak mampu menendang gubuk-gubuk reot penderitaan yang selalu bersitatap memaki keberingasan.

Petikan di bawah ini hanya sebuah acuan, dan boleh jadi kita akan susah mencari pertaliannya dengan kalimat pembukan di atas. “Kemiskinan dan lingkungan hidup bagaikan dua mata uang yang sama. Bila masyarakat miskin maka lingkungan pun akan rusak, begitu pun sebaliknya, lingkungan yang rusak akan membuat masyarakat semakin miskin,” kata Rachmat Witoelar.

Kita menangkap sebuah pesan terhadap rakyat di sana, bahwa, yang namanya rakyat selalu dilekatkan dengan terminologi miskin. Di zaman ini di negeri kita pluralisme ditodong subversif, ia berjalan bersama kerancuan bias dan anomali.

Berhari-hari ia mengumumkan pertidaksamaan labil dan menyembah keraguan itu siang dan malam. Kemiskinan pernah dilekatkan dengan kemalasan dan kurang kerja keras. Tapi, di negeri kita, kemiskinan itu terkontaminasi sistem yang memangkas kreativitas dan membikin miskin itu panjang barisannya.

Kreativitas dipangkas dengan penyeragaman buah pikiran. Lahirlah generasi banyak alasan yang menduduki kursi kuasa di banyak pintu pelayanan lambat.

Di masa sekolah, kita pernah mengenal pepatah yang menyebut ‘hemat pangkal kaya’. Tapi, bagaimana mengajarkan berhemat bila memang semua sudah kosong? Bagaimana mengajarkan rakyat berhemat bila mereka tak punya sesuatu yang dapat dihemat? Pepatah hemat pangkal kaya itu tidak salah, tetapi apakah hanya dengan berhemat kemudian otomatis seorang dapat menjadi kaya?

Berkebalikan dengan itu dan sangat celaka, lembaga pendidikan kita kurang memberikan cara bagaimana berhemat secara benar supaya kita dapat mengelola sumberdaya secara optimal. Sekolah cuma menjadi suatu kelaziman yang menghasilkan selembar ijazah, padahal usai belajar lewat lembaga pendidikan seharusnya kita beroleh pengetahuan untuk mengelola sumber-sumber secara kreatif sehingga sumber-sumber itu boleh punya nilai plus.

Bahwa, bukan di masa sulit saja, dan bukan hanya pada sumber-sumber terbatas dan tak terbarukan, berhemat sudah selayaknya dijadikan cara untuk membendung kerakusan nan tamak yang membuat orang lain tak beroleh apa-apa, ampas pun tidak.

Kita memang layak berhemat, seperti ajakan pemimpin negeri ini. Sebab, pemimpin yang cerdas tahu bahwa penghematan adalah cara terbaik untuk menjamin kontinuitas dari sebuah proses usaha, demikian juga, dengan berhemat kita dapat menjamin kontinuitas sebuah tahapan pembangunan.

Bahwa, pemimpin yang bijak tidak akan menjadikan benda-benda mewah sebagai simbol kekuasaan dan kewibawaan, tapi ia akan menggunakan kesederhanaan sebagai contoh dan keteladanan hidup.

Menyuruh berhemat melalui keteladanan berarti mau menghilangkan hak privileges serta mau dan bersedia menjadi pribadi sederhana yang siap melakukan perubahan untuk menjadikan sebuah usaha lebih kuat dan kokoh.

Dari sebuah novel tetralogi, “Sang Pemimpi”, kita membaca pesan yang mengajarkan mentalitas merealisasikan idea menjadi tindakan nyata, karena ribuan teori akan mudah dikalahkan satu pembuktian. Bahwa menjadi kaya itu tidak semudah hanya dengan berhemat. Harus ada kemampuan lain, yaitu seni mengelola. Sebuah pendidikan kecerdasan kreativitas.

Pengembangan kreativitas akan membuat kita mampu menciptakan hal-hal baru. Kreativitas inilah modal dasar untuk menjadi enterpreuner. Modal penting lainnya adalah sikap bertanggungjawab. Sisi positif dari pengembangan sikap ini adalah terbangunnya rasa tanggung jawab. Para ahli mengamarkan bahwa kerja kreatif akan berhasil jika menggunakan dan menyeimbangkan tiga kemampuan: sintetis, analisis dan praktikal.

Ketiga hal ini bisa ditumbuhkembangkan secara sadar dan terlatih.

Kemampuan sintetik adalah kemampuan membangkitkan ide baru dan menarik. Seringkali seorang yang kreatif memiliki unsur berpikir sintetis yang bagus, mampu menghubungkan antara sesuatu hal dengan lainnya secara spontan. Sementara itu, kemampuan analisis adalah cara berpikir kritis, memiliki keterampilan analisis dan evaluasi idea.

Orang kreatif memiliki kemampuan menganalisa pada peristiwa baik atau peristiwa buruk. Dengan mengembangkan kemampuan analisis ini, memungkinkan kita dapat merubah idea buruk menjadi baik dan berkualitas. Sedangkan kemampuan praktikal ialah kemampuan menerjemahkan teori ke dalam praktek, dan merubah idea-idea abstrak ke arah kecakapan praktikal.

Di banyak lokasi kreativitas itu sudah punah dan menjadi barang aneh dan langka. Inilah yang coba dijawab Thomas Stanley, “Apa yang saya temukan, secara konsisten, bahwa dari semua faktor yang terlibat dalam keberhasilan keuangan, kerja keras adalah yang pertama, dan lulus dengan nilai baik ada di peringkat terakhir. Kebanyakan milyuner mendapat nilai ‘B’ dan ‘C’ di kampus. IQ bukanlah indikator sukses. Milyuner membangun kerajaannya dari kreativitas dan akal sehat.” (*)