Monday, May 27

Luna di simpang Taman Gandaria


Jakarta 2018


Oleh: Dera Liar Alam


DI BAWAH LUNA sepotong, gradasi gulita hilang di lampu jalan: kucing gemuk tidur di atas genteng, ia bermusuh kucing lain yang kena virus, kurus kering rontok. Walau di musim birahi, mereka kawin-mawin, saksinya tikus-tikus luka.

Makan mereka serupa, itulah alasan mengapa kucing tak lagi memangsa tikus.

Luna di simpang Taman Gandaria, tempat kita bermain petakumpat. aAak-anak kampung seberang brantem di ujung Lauser lalu mangkal di shelter Velbak. lokasi itu saat Walanda berkuasa di Batavia disebut Vuilnisbak.

Luna di simpang Taman Gandaria, tempat kita bermain petakumpat. Bermain mata dan jatuh hati pada sajak yang dinyanyikan merdu para pemagut sisa.

Kawan kampung seberang, rumah sewa dalam gang. Boleh melantai meneguk air es, rokok ketengan, kripik pedas, sudah cukup kenang kita berkawan.

Berkisah kota penuh taman. Katamu, adik ulang tahun, beruntung memberi sebatang coklat. Luna tak dengar obrol kita, kita juga tak ingat bagai apa bentuk luna, segaris celurit, separuh lingkar, atau oval.

Ibu bumi bertutur: “Penjaga portal ada garang, ada ramah, suka menyeberangkan saya ke luar gang,” kata ibu saat lengang.

Luna di simpang Taman Gandaria, tempat kita bermain petakumpat. Berapa tahun kemudian: kawan kampung seberang. Berdiri di belakang portal menghadang orang kusut berdaki yang dicuriga bukan penghuni. Dia berjaga jalankan perintah lokasi-lokasi private. Dia mampu menedang yang tak ia senang, dia sendiri dapat ditendang, karena dia bukan penghuni.

Tanah-tanah sudah kenang masa silam, dibeli dengan gang-gang-nya sekalian. Rumah kawan kampung seberang jauh di buang dekat kebun pisang.

Luna di simpang Taman Gandaria, tempat kita bermain petakumpat. Review pepohon tumbuh tumbang. Gedung berkaca beban, metal, cahaya, iklan, langit-langit di mana kita mengintai cemas, anak-anak mengunduh status, Raya perang baku serang di media maya.

Sepasang kekasih berbincang history bertanya gender kelamin apa. Mata saling pelotot layar mengunyah gambar meneguk smirnoff. Lupa nama lupa alamat lupa usia…

Luna di simpang Taman Gandaria, tempat kita bermain petakumpat. Mengenang diary pacar incar pejalan tanpa alas, tanpa kaki…

Rakyat, deru mesin, debar nadi. Tv menggossip harta seperti investigasi, basi basah bau terasi. Pejabat nikah siri, luna sudah pagi.

Kita memesan ticket pertunjukan, kembali ke ibukota: hutang belum lunas, hoax beringas bernas di berita kurang data sekunder. Anggota dewan anu pemimpin upacara anu dalam gedung anu menukar value anu.

Luna di simpang Taman Gandaria, tempat kita bermain petakumpat: berjanji mencinta kenangan, mengulang berani masa silam dengan ‘teks pergolakan’. (*)