Wednesday, February 4

Interupsi di Titik Temu


02 Februari 2026


Bersua di titik temu, pesta ada di situ. Di riuh debat siapa paling benar. Kebenaran diuji pada titik-titik temu pengetahuan. Walau, ‘katanya’ pengetahuan itu lebih banyak disimpan hanya untuk mereka yang mencarinya hingga jauh dan dalam, cari di titik temu. Rakyat, khalayak ramai hanya menelan propaganda dan menularkan dogma yang diyakininya benar seturut tafsir. Titik temu, negara menudung sistem dengan regulasi, distribusi informasi elektronik bermuatan penghinaan tafsir karet cemarkan nama – sanksi pidananya penjara dan denda maksimal satu miliar.


Oleh: Dera Liar Alam


Gambar: Menyimak seketika Minahassa dari Kilapong Hills.


BERTAMBAHLAH tou, bertambah-tambah penghuni bumi di titik temu, sebab pernah diucap dan tercatat: bahwasanya tanah leluhur di bayang langit di mana saja. Di titik temu, ticket tanda masuk boleh tukar dengan kripik pisang goroho, sajian yang membikin dewa dewi pedagangnya bertimbun cuan-nya. Sementara para tau menghambur tabungan, mengemas validasi dengan video, foto, narasi, dan mungkin goyangan badan, alat tubuh.

Di sini, cakrawala berkabut relatif tipis. Kian waktu kian sejuk. Awan berarak picu rindu tenggak arak Minahassa.

Nyaku datang di situ. Titik temu ini dinamai Kilapong Hills. Tou’s memuja kabut pagi siang sore malam eksotis, udara segar, suasana tenang, alam foto instagramable. Gitu katanya. Nyaku mampir 29 Desember 2025 di situ. Mengeja sajak mantra ‘kobong pece: rawa rewósinarawetan’ lukai kaki dan jiwa pengembara. Angin menerobos, Pesta Sastra Tanah Leluhur (PSTL2025). Jejak titik temu sudah dua hari silam diposting, 27 Desember 2025. Anda dapat membacanya pada tautan di baris di atas itu. Tertera, ‘Wanua kekal kenang, tanah leluhur di mana kita dicinta menyinta sepenuh jiwa.’

O iya, dari Kilapong Hills ketika itu memendam ingatan. Dari situ leluasa meneropong telaga bertepi hutan rumbia tempat bangau putih bersarang. Menelisik Lokon – Empung – Mahawu – Tatawiran – Makatete – Ranotongkor – Lolah, dan laut nan jauh. Menggambar Lembeh – Bangka – Talisei – Gangga – Napomanu – Kuala Batu – Manterawu – Siladen – Bunaken – Manado Tua. Nun, di bawah sana, dengan jarak sekian menit perjalanan, di kafe penuh lampu dan sound-system memekak, ada tetou menembang, “Opo wana natase, tembone se mengale-ngalei.” Singgah sejenak, lalu beranjak. Titik temu ada di mana-mana, boleh dipilih titiknya sesuai kepentingan kebutuhan.

Titik temu lain adalah komentar di status-status terduga viral. Joppe, kawan di Wanua, reposting pernyataan penguasa, perintah presiden, “Tidak ada satupun izin tambang yang dikeluarkan.” Hari itu, 18 Desember 2025. Susastra dari panggung kekuasaan dianggap dukung harapan rakyat. “Praise the Lord,” ucap Jull. Pasal 33 UUD’45, kata presiden, “Tidak menguntungkan rakyat tidak akan kita teruskan.” Besoknya Joppe mengulang, “Tidak boleh ada korporasi yang mengalakan negara.”

Nyaku beri komen, 19 Desember 2025. “Kekuasaan lebih cepat berpidato berdongeng membangun pencitraan. Dan ternyata bencana di mana-mana — bencana alam bencana hukum bencana sosial politik — bencana lebih jujur bicara fakta-fakta eksploitasi penghisapperasan sumberdaya. Apa yang hendak dikisahkan dari sistem yang telah kehilangan empati, kehilangan malu? Tunggu apa, janji palsu.”

Bahwa, nyaku sebut: Bukannya dari dulu korporasi-korporasi — dalam tanda kutip itu — memang didukung sistem negara? Lalu apa langkah tindaknya, ‘omon-omon‘ saja sampai 2029?

Jejak digital hari silam itu beroleh jawaban: Gubernur YSK ternyata mengusulkan 232 izin blok pertambangan rakyat untuk Sulawesi Utara. Tapi baru 63 blok yang disetujui. “Perusak alam sedang beraksi menghancurkan masa depan anak-anak cucu kita,” umbar Joppe. Kata Herman, “Dia tidak pusing semua itu, karena di sini bukan rumahnya.”

Bertambah-tambahlah tou di titik temu komentar. Geser layar bercengkrama dalam gusar. Dan itu yang dimaui sistem, gamang takut yang seragam di mindset pemirsa seluruh bumi. Algoritma, kalkulasi proses data interupsi kritis jejaknya akan disembunyikan sistem. Ramai seketika, diduga viral, padahal fatal, didiamkan. Ruang waktu sempit. Sajak jampi telah dieja sejak zaman prasejarah.

Jampi telah mengubah darab dan darah berkelipatan dalam pemikiran tou’s. Minus kali plus memberi minus, minus kali minus memberi plus, plus kali plus memberi plus, plus kali minus memberi minus. Jiwa memberi dua-duanya. Kekuasaan memberi dogma supaya narasinya memberi benar dan terpaksa mesti selalu plus sebab ditopang regulasi agar jadi sahih, sumpah kebenaran.

Begitu di titik temu. Narasi interupsi tidak pernah akan diperhitungkan sistem. Kekuasaan sadartahu bahwa tou’s lapar haus dan bergantung sepenuhnya pada suap di masa kampanye. Fakta, lupa berlangsung sangat cepat. Pesta mengalkulasi fungsi, tou’s menonton dan nyumbang, dikit-dikit ada sumbang, nada berisik, false. Suatu masa tetap ditagih plus minus.

Sumbang bukan sumbangan. Sumbang, sember, tak selaras, kurang sopan, langgar adat, keliru, dosa. Ikuti saja, wajah kekuasaan dari pusat sampai daerah masih sama, tetap korupt dan lupa janji. Hanya beternak khalayak yang tergantung pelbagai sumbangan.

Rendezvous, propaganda damai kaya longitudinal. Kita beralih ke bilik mimpi. “Penderitaan rakyat Gaza sudah berkurang, sangat berkurang. Bantuan-bantuan kemanusiaan begitu deras, begitu besar masuk, sudah masuk. Saya sangat berharap dan Indonesia siap ikut serta,” beber Presiden Prabowo manakala menandatangani Board of Peace Charter di Davos, Swiss, Kamis, 22 Januari 2026.

Interupsi Guru Besar Departemen Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, S.I.P., M.A., bilang yang mana bahwa inisiatif Donald Trump ngangkat diri sendiri jadi ketua Board of Peace bukan sepenuhnya upaya untuk membantu menyelesaikan persoalan konflik. Inisiasi ini adalah bagian dari respons Trump yang marah besar karena dirinya tidak mendapatkan Nobel Perdamaian. Regulasi terkait iuran hampir Rp17 triliun harus dibayarkan setiap negara yang ingin menjadi anggota tetap BoP mencerminkan sifat transaksional kebijakan luar negeri Trump. “Saya kira kepentingan ekonomi adalah motif sebenarnya dari pembentukan BoP, bukan perdamaian dunia,” sebut Nur.

Berdamai berbahagia. Rendezvous, propaganda damai kaya longitudinal.

Mari kita ulangi, “Kekuasaan lebih cepat berpidato berdongeng membangun pencitraan.” Silly talk, that isn’t important. Hey, Subianto pernah mencuplik survei yang sebut kebahagiaan rakyat Indonesia nomor satu di dunia. Boleh tanya PBB dan lembaga dunia soal ketimpangan, harapan hidup dan kesehatan tak menentu di negeri ini, kebebasan bersuara dan memilih terancam, serta korupsi tinggi.

Bekas dan sisa bencana tahun silam petaknya masih menganga. Telah dicatat jalan rimba, setapak bencana. Pengungsi di tanah sendiri hitung jembatan putus hanyut, harap nan hanyut, harap-harap cemas dan gemas. Sistem mengalkulasi proyek untuk cari siapa tertuduh berikutnya yang dimungkinkan regulasi.

Untuk ingatan pada kata yang telah tersurat di atas sana: ‘darab’ itu perkalian. Mari kita tertawa sambil terus membaca komen-komen di titik temu. Tahun telah berganti, penanggalan akan sobek. Ujung Januari 2026, “Jangan pernah merasa rendah diri dan bodoh, karena di luar sana masih ada dua orang bloon yang mikir bahwa es gabus terbuat dari spons,” tulis Amelya Navratilova disambut tertawa pemirsa yang membacanya, 31 Januari 2026.

Titik temu. Mengapa takut menulis, takut bicara?

Apakah khalayak tahu dan paham bahwa ada ‘Putusan MK’ dan revisi UU ITE – UU 1/2024 – menegaskan bahwa pasal pencemaran nama baik hanya berlaku bagi individu atau perseorangan. Hal mana pasal tersebut tidak berlaku untuk lembaga pemerintah, korporasi, atau jabatan tertentu. Apakah khalayak tahu dan paham bahwa semua nama itu baik saja adanya. Pernahkah bertanya di titik temu, nama mana yang boleh cemar? Belum ditanya? Tanya donk!

Bukan tentang takut bicara. Namun, sistem menghapus jejal yang diduga viral itu di titik temu. Algoritma, langkah diduga logis ternyata misterius. Suara khalayak untuk gemakan haknya dibuat samar, lalu hilang ditelan isu.

Interupsi memang tak viral, dan enggan didengar oleh panggung kekuasaan. Interupsi di titik temu untuk janji-janji palsu dan peran kekuasaan yang membentengi diri agar peran koruptnya tidak terendus khalayak di titik-titik temu. Kekuasaan yang dengan pongah dan congkak merombak jalan sejarah seturut kepentingan mengelabuhi generasi yang sementara tumbuh dan terus bertambah di titik temu.

Rakyat, khalayak: uji semua janji yang sudah diucap penguasa. (*)