Tuesday, February 27

Hukum Jagung dan Black 47


31 Januari 2023


Phytophthora infestans, yakni jamur air yang dikenal sebagai Oomycetes, dianggap penyebab gagal panen kentang era 1845 dan beberapa tahun setelahnya – di Irlandia, merembet ke Dataran Tinggi Skotlandia, medio 1846, menyebabkan emigrasi besar-besaran ke Amerika Serikat, dan maut bagi orang-orang yang sakit dan kelaparan.


Oleh: Daniel Kaligis


Gambar: Twilight di tepi sumber air bumi.


SUATU waktu di pertengahan abad Sembilan Belas, sanitasi tidak terjaga di pulau-pulau dan daratan di Barat Laut Eropa, termasuk di Laut Utara, dan Kepulauan Utara, di Samudera Atlantik, negeri yang ditindas Britania Raya zaman itu. Keadaan lingkungan buruk dan kotor membikin penyakit hawar merebak. Kentang yang merupakan sumber utama makanan masyarakat di sana gagal panen sebab dihajar phytophthora infestans. Dikenallah lapar yang dicatat dengan berbagai istilah: Irish Potato Famine, The Great Famine. Orang Irlandia menyebut itu sebagai an Gorta Mór. Lapar meluas di Eropa dari 1845 hingga 1852.

Orang-orang mencari ke mana-mana, lapar menghalalkan apa saja, marah, bahkan boleh jadi brutal. Ada yang lari keluar, memilih jadi emigan. Sekira dua tahun terperangkap krisis pasokan makanan, keadaan yang dikenal sebagai ‘Black 47’, para miskin yang tersisa di sana terpaksa makan apa saja: makan daun, makan pucuk lobak, makan apa saja, mengonsumsi sand eels – sejenis ikan kecil yang tak biasa dimakan, juga mengunyah rumput laut, mengisi perut kerontang. Puncak The Great Famine memang terjadi pada 1847, latar mengapa ada terminologi ‘Black 47’.

Kontroversi, lapar tapi bantuan dihalangi. Armada yang membawa bahan makanan dan bantuan obat-obatan dihalau kapal-kapal penguasa Britania Raya. Berikut ada Hukum Jagung. Padahal, medio 1846 regulasi itu sudah dicabut, namun, dampaknya cukup jauh, kelaparan berlangsung sekitar tujuh tahun ke depannya.

Tertawa di ladang jagung hilang manakala musim kering tiba.

Regulasi zaman silam jadi pengalaman. Pembatasan dan tarif telah dirancang untuk menjaga harga biji-bijian tetap tinggi agar disukai dan menguntungkan produsen dalam negeri, dan mewakili merkantilisme Britania Raya. Undang-Undang Jagung memblokir impor biji-bijian murah. Semula hanya larangan impor di bawah harga yang ditentukan, dan kemudian ada praktik bea impor yang curam, membuat harga teramat tinggi untuk mengangkut biji-bijian dari luar negeri, bahkan ketika persediaan makanan terbatas di banyak tempat lain. Pemikiran untuk melawan sudah terjadi dari dulu ketika kebutuhan rakyat terdesak, memaksakan resolusi karena kebutuhan persediaan pangan, jangan sampai lapar. Pikir bergeser ke perdagangan bebas. Ancaman? Boleh jadi. Peluang? Bisa saja. Orang-orang berpikir bebas, mengevalusi berbagai peristiwa.

Monumen didirikan di Custom House Quay di Dublin Docklands, Irlandia. Mengenang siksa lapar.

Tahun silam, 2022, saya menggores kenangan itu dengan resume sejumlah peristiwa. Mengemasnya jadi status di media sosial: Hukum Jagung dihapus di Britania Raya berdasarkan Undang-Undang tahun 1846: 31 Januari 1849.

An Gorta Mór estorie kontroversi | The Great Famine, orang-orang lapar mati: Phytophthora infestans – konjugasi – fisi biner – siklus biologis super kompleks.

Agricultural Research Service gunakan protista sebagai patogen untuk kendalikan populasi semut api merah: solenopsis invicta, di Argentina. Dengan protista penghasil spora seperti Kneallhazia solenopsae populasi semut api merah berkurang 53-100 persen.

Saya koffie sajak tiga bait — sambil edit ‘Kopi dan Perbudakan’, baca, Perang Saudara Amerika: Kongres Amerika Serikat ajukan Amendemen ke-13 Konstitusi Amerika Serikat menghapus perbudakan, 31 Januari 1865. Amandemen ke13 dikirim ke negara-negara bagian untuk diratifikasi.

Hari ini, harap masih sama, jangan sampai kemanusian semesta mati konyol karena kelaparan dan oleh berbagai sebab musabab. Seperti itu. (*)