Monday, October 3

Elang Terbang Menjauh



06 September 2022


Oleh: Dera Liar Alam
Penulis adalah jurnalis penulis


Elang terbang menjauh, tinggi tinggi…

Di sana, di langit entah.
Tebing sudah jadi pondok mewah hedon. Pertapa mendoa di sana, “Lindungi kami dari badai halilintar hujan makian.” Lalu persembahan digesek. Hymn mendengung, malam sambung-menyambung, persabungan kelamin-kelamin.

Elang terbang menjauh, tinggi tinggi…

Di sana, di hutan entah.
Kami menuang vodka dalam cawan keramik tua hijau, menyalakan obor, memukul tuts-tuts keyboard tiga oktaf. Pagi sunyi pecah, gugus tugas mengatur perapian, kuil ditutup. Botol bersenyawa darah.

Elang terbang menjauh, tinggi tinggi…

Di sana, di negeri antah berantah.
Langit biru masa depan adalah pesta mengakali regulasi. Penguasa kawin, rakyat diperkosa. Lalu politikus menyebut itu demoskratos. Kami berselisih paham harga pangan value air dalam kemasan plastik.

Elang terbang menjauh, tinggi tinggi…

Entah, hilang tanda…

(*)


Oecusse Lifau, 06 September 2020