Tuesday, May 21

Biar saja Lapar


07 Mei 2024


Oleh: Parangsula
Editor: Dera Liar Alam


HARGA masih tinggi, percuma mengeluh. Penghuni media sosial ramai bersuara, ada yang berguman dalam tanya, “Alhamdulillh beras mulai menundukan egonya. Cek harga beras daerah kalian berapa? Kalau di tempatku dua-belas ribu,” tulis Dica. Lain cerita Lisnawati, dia bilang begini, “Assalamualaikum, cek harga beras saat ini. Teman-teman semuanya, saya mau membagikan tips agar hemat beras, dll: Jangan sekali-kali menyediakan lauk jengkol, ikan asin, sambal, karena hidangan teman nasi di atas membuat kita kalap makan ya. Bawaannya nambah terus. Coba kalau tidak ada sambal, pasti anyep makan pun gak nafsu. Betul apa bener?”

Di beberapa daerah yang tidak terjangkau layanan media sosial orang-orang bicara di lingkungannya sendiri atau memilih diam. Biar saja lapar, biar tetap miskin yang penting mendengar janji manis para pesohor kemakmuran masa mendatang.

Tentu ada yang akan membantah lapar haus itu. Padahal, Global Hunger Index menyebut kelaparan di Indonesia sudah berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Kendati begitu, tingkat kelaparan di negeri kita masih tergolong tinggi dibanding negara-negara tetangga.

Dicatat dan ada: Ketentuan Harga Eceran Tertinggi dikecualikan terhadap beras medium dan beras premium yang ditetapkan sebagai beras khusus oleh Menteri Pertanian. Permendag Nomor 57 – Tahun 2017: mengatur sanksi bagi pelaku usaha yang menjual harga beras melebihi harga eceran tertinggi dikenai sanksi pencabutan izin usaha oleh pejabat penerbit, setelah diberikan peringatan tertulis oleh pejabat penerbit. Isu dan janji, sekian tahun tak terkendali. Riak ada, hanya curhat di media sosial. Harga melambung tinggi, tidak ada tindakan dan sanksi berlaku. Pedagang, tengkulak, tukang warung, tukang jual, dst, bertindak semau-maunya menaikkan harga.

Padahal sudah disebut ada Harga Eceran Tertinggi ditetapkan di seluruh Indonesia. Di Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi untuk beras medium ditetapkan harga Rp 9.450 per kilogram dan harga beras premium Rp 12.800 per kilogram. Di Sumatera lainnya dan Kalimantan ditetapkan harga beras medium Rp 9.950 per kilogram dan harga beras premium Rp 13.300 per kilogram. Di NTT harga beras medium ditetapkan Rp 9.500 per kilogram dan harga beras premium Rp 13.300 per kilogram. Di Maluku dan Papua ditetapkan harga untuk beras medium Rp 10.250 per kilogram dan harga beras premium Rp 13.600 per kilogram. Pernah harga beras naik dengan berbagai alasan? Pernah! Sanksi bohong belaka, dongeng. Uang lebih berkuasa ketimbang teori segala hukum dan sanksi.

Ada regulasi mengatur bahwa pemerintah pusat dan daerah bertugas mengendalikan dan bertanggung jawab atas ketersediaan bahan pangan pokok dan strategis di seluruh wilayah. Faktanya harga masih dipermainkan.

Harga tidak dapat dikontrol. Namun, masih ada yang berbaik hati menjual dengan harga terjangkau. Untung saja begitu. “Laris manis,” ujar Nisa mengomentari jualan temannya, Fatih menjual dengan harga dua-belas ribu rupiah.

Siapa pengendali harga? “Pemerintah secara terus menerus dan berkesinambungan dalam tiga tahun terakhir, telah melakukan berbagai langkah kebijakan dan strategi dalam upaya menekan tingkat kenaikan harga pangan di pasar. Upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam pengendalian harga pangan kini telah menunjukkan keberhasilan, seiring dengan menurunnya pengaruh komponen bahan pangan terhadap inflasi.” Badan Pangan bilang begitu, kenyataannya rakyat pasrah dan bergiat sendiri, cari makan urusan masing-masing.

Interupsi: mindset diseragamkan politik beras, haus lapar jual diri. Kawan saya daqri ibu-kota bilang, “Beras sering dipakai sebagai bahan materi politik. Ketika harga melambung, dapat saja dikaitkan dengan ketidak-mampuan pemimpin, apalagi harga kebutuhan pokok tinggi, harga beras melambung, bahkan sudah tidak bias dijangkau orang-orang berpenghasilan rendah,” beber Ferdinand.

Evy sebut, “Biar saja harga naik, kami sudah terbiasa makan ubi, pisang, dan buah lain untuk mengganti nasi.” Perut seragam, demikian masih banyak isi kepala yang seragam. Maksudnya seragam dalam pasrah biar lapar. (*)