Monday, May 20

Belajar dari Cara Mendirikan Trowulan


Medio 2009


Oleh: Dera Liar Alam
Diramu dari berbagai sumber


Tahun 2009, situs Trowulan telah didaftarkan pemerintah Indonesia sebagai Warisan Dunia UNESCO

TROWULAN, yang lain mungkin lupa, atau kita sama sekali belum mengenalnya. Padahal, di zaman Raden Wijaya, raja Majapahit pertama yang bergelar Kertarajasa Jayawardana, nama Trowulan begitu sering disebut bahkan sampai sekarang pun turunan Majapahit masih ada yang mengetahui dan menyimpan kenangan Trowulan.

Mari berkelana ke sana…

Mojoagung adalah daerah di sekitar hutan Bubat, lokasi ini beberapa waktu kemudian terkenal karena peristiwa putri Galuh Pakuan dari Pasundan datang melamar Brawijaya, iring-iringan pengantin dari Pasundan ini dihadang Gadjah Mada.

Anak-anak bermain di lokasi itu, bertahun-tahun generasi tumbuh dan seakan terlupa. Cuma onggokan tergerus tanah. Nama Trowulan seakan jadi legenda, bisu.

Trowulan sudah hilang sejak 1478 seiring keruntuhan Majapahit di era pemerintahan raja Brawijaya. Nama Mojoagung lebih sering disebut sebagai bekas lokasi Trowulan.

Sekonyong-konyong Trowulan muncul, batu persegi, relif, stupa, grafis dewa-dewi yang dipuja di masa silam seperti bangkit dari kuburan. Tanah yang menutupinya, oleh proses alam, tersingkap. Bertahap Trowulan bersemi, atapnya terlihat, bumbungan-bumbungan, gapura, lama kelamaan semuanya muncul.

Mulai dibersihkan di masa Kerajaan Mataram Islam. Jauh masa, sekitar 150 tahun ia terpendam dan hilang dari pandang mata dan sentuhan peradaban. Masyarakat lalu kembali terkenang sekarang, nama seorang selir kesayangan Raden Wijaya yang diabadikan sebagai nama candi itu mencuat.

Ada Kuncen yang secara turun-temurun terus menjaga lokasi itu hingga kini.

Bagaimana Trowulan dibuat? Dari bahan apa? Mengapa ia masih ada padahal sudah sekian lama tertimbun reruntuhan? Cerita dari mulut ke mulut coba mengungkapnya. Lalu berbondong-bondong para arkeolog datang ke sana untuk meneliti. Mereka memperkirakan Trowulan adalah pusat Kerajaan Majapahit. Situs Kedaton diasumsikan sebagai Keraton Kerajaan Majapahit di sana ditemukan begitu banyak artefak yang berhubungan dengan keberadaan Keraton Kerajaan Majapahit di masa silam.

Dari beberapa penelitan ditarik kesimpulan sementara. Trowulan ternyata sangat istimewa karena berukir dan terbuat dari bata dengan teknik pembakaran luar biasa. Bata-bata yang dipakai untuk membangun candi-candi di Kerajaan Majapahit hingga kini masih kokoh dan bahkan lebih tahan dari bangunan modern.

Ketika itu, sisa pasukan Raden Wijaya yang berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri datang ke Mojoagung, dan membuka lahan untuk mendirikan markas. Hutan dibersihkan, kayu-kayu yang dirasa berguna diambil, tanah diadon dan dijadikan bata hitam dengan proses pemanasan suhu tinggi. Bata-bata diangkut dengan tambang dengan penyanggah kayu jati. Kalau sekarang dapat kita bayangkan seperti kerja excavator, namun di masa itu semua dikerjakan dengan tenaga manusia dan tenaga hewan belaka. Idea berdasarkan kearifan lokal mereka.

Kerja siang malam, kerbau dan sapi penarik dipecut, tenaga dan akal dipadu. Berdirilah Trowulan dan menjadi pusat pemerintahan Majapahit. Majapahit disebut sebagai kerajaan besar di Asia Tenggara yang berdiri pada 12 November 1293 dan bertahan selama dua abad, dari abad ke-13 hingga abad ke-15.

Ketika dipimpin Gadjah Mada dan Hayam Wuruk, kerajaan ini mengalami masa kejayaannya sehingga berekspansi ke Malaysia dan Thailand. Namun, setelah bergonta-ganti kekuasaan dan dilanda perang saudara yang dikenal dengan nama Perang Paregreg, kerajaan ini kemudian hancur. Ibukotanya beberapa kali mengalami perpindahan, dan yang terakhir di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Kata kunci dari pembangunan Trowulan adalah kearifan lokal, kearifan Nusantara. (*)


Sumber Gambar: Phinemo