Wednesday, April 17

Abugida di Mangupura


19 Juni 2022


Ajaran mengkhayalkan huruf seragam, isi kepala seragam. Kehendak kuasa bertahta dalam dongeng ribuan zaman, lalu pecah jadi mata uang. Percaya tanpa banding, tanpa uji, maka kita menjadi penonton kekal sepanjang zaman…


Oleh: Daniel Kaligis
Penulis adalah jurnalis penulis


Gambar: Mendung di ufuk Pandawa


DIRINDU kota menawan: Mangupura. Di sana Mengwi, Gulingan, Mengwitani, Kekeran, Kapal, Abianbase, Lukluk, Sempidi, dan Sading. Rindu tebing curam dan gelombang, orang-berbincang, dan senyum kaku di peradaban nan gamang.

Selasa 25 Nopember 2008, ‘Semi Loka Nama Ibu Kota Kabupaten Badung’ digelar di gedung DPRD Badung, menghasilkan kesepakatan bahwa ibu kota kabupaten Badung adalah Mangupura. Dari hasil ini ditindaklanjuti dan mendapat persetujuan DPRD Kabupaten Badung, berdasarkan Keputusan Nomor 14 Tahun 2009 perihal persetujuan penetapan wilayah ibu kota dan nama Mangupura sebagai nama ibu kota kabupaten Badung.

Jauh sebelum kesepakatan itu, Mangupura memang sudah ada. Ada nama di sekitaran yang membuat saya ingat tanah leluhur dan terasa amat dekat di diri, Lumintang. Akrab dalam praksis.

Apa itu abugida? Entah mengapa tertarik membahas aksara terkait terminologi itu. Mungkin saja karena ajaran mengkhayalkan huruf seragam, isi kepala seragam. Kehendak kuasa bertahta dalam dongeng ribuan zaman, lalu pecah jadi mata uang. ‘Micro-Electronics and Telecommunication Engineering: Proceedings of 3rd ICMETE 2019’, mendefinisikan abugida: disebut alfasilabis — aksara segmental didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal. Ada dalam keluarga aksara Brahmi, banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk dalam jenis aksara abugida.

Abugida di Mangupura cerita bagi tualang berulang-ulang. Kenal tak seberapa orang, demikian saya sekian kali menyambangi Bali. Namun, ingatan rusuh politis pernah menyala di sana bertahun silam, kemudian redup.

Indonesia baru beranjak, reformasi, tiga angka sama di belakang ribuan, 1999, berbagai isu digoreng pada lahan rakyat.

Hari ini belum terlalu tua untuk mengulang dua puluh tahun berlalu, masa yang lampau.

Kenang meremang. Ratusan tahun silam, disebut dalam sejumlah catatan yang mana Cornelis de Houtman pernah berlabuh dekat Mangupura – tercatat 1557, manakala dua ribu serdadu Bali kembali dari perjalanan mempertahankan Blambangan dari gempur Mataram. Badung sudah diintai dari Kuta.

Kisah meradang di kemudian. Pedagang membawa ‘ayat suci’ menyasar sumberdaya. Pada 1592, Cornelis de Houtman diutus para pedagang Amsterdam ke Lisboa untuk menemu sebanyak mungkin info Kepulauan Rempah-Rempah, de Houtman pulang Amsterdam, Jan Huygen van Linschoten kembali dari India. Para pedagang memastikan Banten poin strategis untuk membeli rempah-rempah.

Cornelis de Houtman terbunuh di geladak kapal pada pelayaran keduanya. Pasukan Inong Balee dipimpin Malahayati menggempur, dan terjadi tarung satu lawan satu, de Houtman kalah. Aceh, 11 September 1599.

Mangupura masih dirindu, wilayah itu ada di Badung. Dulu Badung dikenal sebagai Nambangan, kemudian nama itu diganti I Gusti Ngurah Made Pemecutan pada akhir abad delapan belas.

Badung disasar. Tangsi militer Belanda ada di sekitar Badung – 1826, tepatnya di Kuta.

Tahun 1904, Sri Komala, kapal China berbendera Belanda kandas di pantai Sanur. Belanda tuduh masyarakat sudah lucuti, merusak, merampas isi kapal. Belanda menuntut raja Badung atas kerusakan, dan meminta ganti 3.000 uang perak, dan hendak menghukum orang-orang yang dituduh merusak kapal.

Raja Badung menepis tuduhan, menolak bayar kompensasi. Belanda siapkan expedisi militer keenam menyasar Bali, 20 September 1906. Ada tiga batalyon infantri dan dua batalyon artileri mendarat, memerangi Badung, lalu menyerbu Denpasar.

Belanda merasa di atas angin. Tetiba pasukan putih menghadang: raja, pendeta, pengawal, sanak saudara, lelaki, perempuan, menghiasi diri dengan permata, sorak tempur maju ke medan laga. Inilah Perang Puputan.

Laga Puputan dipilih sesuai ajaran Hindu Bali, sang ksatria mati dalam perang, arwah langsung naik ke surga.

Berapa hari lalu di Pandawa. Saya menyewa kano pada seorang tua. Bermain pasir, mendayung, menyambut gelombang, menunggu matahari diterkam ufuk.

Di sana mendulang babad hanacaraka entah berapa zaman berganti. Entah rindu jadi asap. Hanacaraka adalah aksara Bali. Dikenali sebagai salah satu aksara tradisi Nusantara. Sudah dipakai jauh sebelum Eropa datang berebut sumberdaya di Indonesia.

Medio 2009, melintas Pandawa, Kuta, Denpasar. Saya dan Dewi Ratna. Obrolan kami berdua tentang huruf dan angka konstruksi. Lupa tepatnya nomor ruang kamar di mana kami berbincang. Berapa foto, kenangan pagi membeli kain, doa para pedagang, bunga di kuping, dan tarian.

Ah Mangupura, mango, lango, langu, langen. Kangen pada ingatan, lima berkawan: api, air, cinta, asap, dusta. Bukan, bukan itu!

Protogonis Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, punya tutur beda. Kurukshetra berebut tahta kuasa, punya samanya di banyak lokasi, dan selalu membara saban kampanye politik, juga menyala dalam berbagai dogma.

Ajaran mengkhayalkan huruf seragam, isi kepala seragam. Kehendak kuasa bertahta dalam dongeng ribu zaman, lalu pecah jadi mata uang.

Di sana, di Mangupura, penanda Abugida jelas. Ulang lagi alfasilabis, aksara segmental didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tetapi bersifat sekunder.

Jangan-jangan Alfur, Alfuros, Alfures, Alifuru, Alfuren, Horaforas, adalah kehendak kuasa menuduh rakyat tak mampu membaca. Atau, nurani sengaja menjadi buta oleh euphoria iman tanpa banding, tanpa usik, bertahta ratusan tahun dalam keyakinan hakim seribu tahun hukum rajam untuk siapa saja yang berani membuka buku di luar pengetahuan rindu takut merdeka.

Iblis ketinggalan zaman, dan terrantai dalam hati para penakut pengecut. Dewata menenggak vodka, whiskey, jack daniel’s bermandi anggur. Mainkan gitar hingga larut senja. Midnight-sun ada di dua kubu bumi, membenturkan dogma-dogma basi.

Padahal, inilah belenggu, inilah rantai jiwa-jiwa memerkosa nafsi bayang-bayang ekonomi politik taktik-taktik. Mimpi bukit-bukit telanjang, misteri liang-liang karang di Secret Beach, tahun-tahun nan gamang.

Lalu kita tertidur dalam lupa. Doa panjang-panjang tidak mempan mengusir banjir longsor bencana, bila got selokan tersumbat plastik, pemikiran sempit, dan pembangunanisme korup.

Sepotong estorie, rindu yang usang: Doa panjang, dalam keranjang!

Doa pecah, kepercayaan sudah ‘pindah tangan’. Tiktik jadi tiktok, jadi doa. Bubar barisan, adat budaya sementara ditelanjangi, dikupas inflasi. (*)


Kuta, 24 Desember 2019
Diposkan pada Desember 24, 2019 by bukabuku